20 Jumadil-Akhir 1443  |  Minggu 23 Januari 2022

basmalah.png
RUMAH TANGGA

Meredam Amarah pada Suami

Meredam Amarah pada Suami Pertama, yang harus dilakukan adalah tidak bicara saat marah. Rasulullah Saw bersabda, “Bila seorang dari kamu sedang marah hendaklah diam.” (HR. Ahmad). Saat emosi pembicaraan akan mengandung rasa egois, penuh kekesalan dan tidak terkendali. Tidak terdapat kebaikan, bahkan perkataan baik dengan nada marah, pasti berdampak negatif.

Kedua, ingat kebaikan dan pengorbanan suami untuk kita selama ini, tunda dulu melihat keburukannya, disaat baik nanti ibu bisa membahasnya dengan lebih baik. Mengingat jasanya akan memudahkan ibu meredakan rasa marah kepadanya dan mudah untuk memaafkan.

Ketiga, ingat bahwa ibu menikah karena mencintainya. Tumbuhkan cinta untuk menggantikan amarah dan agar sabar menerima kekurangannya. Bukankah hati tidak akan menumbuhkan cinta dan amarah secara bersamaan?

Keempat, tetap melayani suami walau hati malas melayaninya. Mudah-mudahan rahmat Allah tumbuh lalu bisa meredakan amarah tersebut. Ibu Eni mau memulai duluan berbuat baik kepada suami, semoga Allah membalasanya dengan surga. Yang paling sulit dalam membina keluarga sakinah adalah menyatakan cinta disaat marah, membelai disaat ingin memukul, dan melayani disaat ingin memboikot. Bukankah tangan yang diatas (yang memberi) lebih baik dari tangan yang dibawah (yang menerima kebaikan)?

Kelima, jangan lupa berdo’a agar dilindungi dari syetan dan rasa amarah. Keenam, rubah posisi atau suasana. Jika sedang dirumah pergi ke majelis taklim, rekreasi atau jalan-jalan. Jika sedang berdiri duduklah, atau sedang tidak ada yang dikerjakan pergilah wudlu lalu sholat atau baca Alquran. Selamat mengamalkan, mudah-mudahan bermanfaat.

alhikmahonline.com