17 Syawal 1443  |  Kamis 19 Mei 2022

basmalah.png

Tantangan Baru Usai Melahirkan, Perut Mulas hingga Sembelit

Tantangan Baru Usai Melahirkan, Perut Mulas hingga SembelitFiqhislam.com - Sukacita menyambut hadirnya bayi baru lahir memang luar biasa. Tak jarang kita dengar komentar para Ibu berkata, “Rasa sakit melewati proses persalinan rasanya hilang seketika setelah melihat wajah si kecil!”

Wah, bahagia sekali tentunya ya Moms! Eits, masih ada ‘tantangan’ baru yang harus Anda lewati loh. Bagi Anda yang sudah pernah melahirkan pasti tahu benar keluhan atau ‘gangguan’ yang dialami pascapersalinan.

Nah, ulasan di bawah ini rasanya sangat tepat bagi Anda yang sedang bersiap menjadi Ibu atau Moms lainnya yang menantikan anak kedua atau ketiga pun perlu tahu antisipasinya.

Keluhan Perut Mulas

Menurut dr. Eric Kasmara, SpOG, keluhan perut mulas setelah melahirkan mesti dibedakan, mulas yang berasal dari gerakan peristaltik usus atau dari kontraksi rahim (uterus).

Setelah melahirkan, uterus akan melakukan kontraksi, hal ini harus terjadi untuk mencegah perdarahan pasca persalinan. Kontraksi ini didorong oleh hormon oksitosin, yang dikeluarkan dari kelenjar hipofisis ibu. Kontraksi uterus ini seringkali dirasakan tidak nyaman, dan kadang sampai nyeri. Bila sang ibu menyusui, oksitosin akan dikeluarkan lebih banyak, sehingga mulas akan dirasakan lebih hebat.

Sedangkan mulas yang disebabkan gerakan peristaltik usus tidak ada kaitannya dengan melahirkan atau pengaruh oksitosin. Peristaltik usus bisa saja lebih aktif pada saat seseorang ingin buang air besar (tidak hanya khusus terjadi pada wanita setelah melahirkan).

SOLUSI: Perut mulas atau kontraksi rahim pasca persalinan tidak dapat dihindari, karena itu adalah bagian dari proses nifas yang normal. Apalagi bila sang Ibu menyusui, maka mulasnya akan lebih terasa. Bila ingin meminimalkan nyerinya, dapat diatasi dengan obat-obat penghilang nyeri, seperti golongan asam mefenamat, parasetamol. Namun tentunya dilakukan dengan konsultasi dokter terlebih dulu.

Sembelit (Sulit BAB)

Sebenarnya sembelit dapat saja terjadi pada siapapun, tidak ada hubungannya dengan persalinan. Asupan serat atau cairan yang kurang juga dapat menyebabkan sembelit. Namun, pada wanita pascapersalinan, biasanya karena si Ibu takut jahitannya akan ‘robek’, atau karena toiletnya beda (karena bukan toilet di rumah), merasa jijik karena toilet umum di rumah sakit dipakai bersama, dan lain-lain.

Hal inilah yang secara psikis dapat memicu Moms menekan keinginannya untuk BAB (secara tidak sadar).

SOLUSI: Usahakan jangan menahan keinginan untuk BAB, bila ada keinginan untuk BAB, segera ke toilet! Karena bila kita berusaha menahannya, maka keinginan itu bisa hilang dan semakin sulit untuk BAB lagi. Minum cairan yang cukup serta asupan serat yang cukup (makan sayuran, buah-buahan) juga dapat membantu membuat konsistensi tinja menjadi baik, sehingga proses BAB dapat lebih lancar.

Sulit BAK

Tak beda jauh dengan kasus sebelumnya, seringkali Moms takut untuk BAK karena takut urin terkena luka jahitan dan perih, sehingga secara tidak sadar menahan keinginan untuk BAK.

Hal lain yang dapat terjadi adalah adanya retensio urin (urin yang tertahan di kandung kemih) yang disebabkan oleh persalinan yang lama (ibu mengejan lebih dari 1 jam), atau persalinan dengan bantuan alat, seperti ekstraksi vakum atau ekstraksi forsep.

Penyebab lain adalah infeksi kandung kemih, yang dapat dipicu oleh tindakan pemasangan kateter pada saat persalinan untuk mengeluarkan urin, atau memang sebelumnya si Ibu sudah ada infeksi kandung kemih yang a-simptomatik (tanpa gejala), karena wanita hamil lebih rentan untuk mengalami infeksi kandung kemih.

SOLUSI: Sama halnya dengan BAB, Moms jangan menahan keinginan untuk BAK karena dapat memicu retensio urin. Bila persalinan normal, usahakan maksimal 4 jam sudah BAK, sehingga bila sudah 4 jam belum ada perasaan untuk BAK, tetap usahakan ke toilet untuk BAK, karena produksi urin rata-rata berkisar 50 cc per jam. Bila tidak BAK selama 4 jam, maka sudah ada berkisar 200 cc di kandung kemih, yang sebaiknya segera dikosongkan untuk mencegah retensio urin.

Pada persalinan dengan tindakan vakum atau forsep, memang ada faktor risiko untuk retensio urin. Dokter kandungan biasanya sudah melakukan antisipasi dan tindakan pencegahan untuk mencegah retensio urin pada persalinan dengan tindakan tersebut. Moms tidak perlu takut untuk BAK atau BAB bila ada jahitan, karena jahitan tersebut tidak akan robek karena proses BAK atau BAB yang wajar. [yy/okezone]

Sumber: Tabloid Mom & Kiddie