16 Dzulhijjah 1442  |  Senin 26 Juli 2021

basmalah.png

Enak dan Lezat tapi Bisa Membuat Wanita Tidak Subur

http://img.photobucket.com/albums/v607/bossacafez/oreocheesecake.jpg

Jika Anda seorang wanita yang tengah menanti sang buah hati, ada baiknya mulai membatasi makanan olahan yang kaya kandungan lemak trans, seperti biskuit, cake atau pie. Penelitian mengungkap, wanita yang sering mengonsumsi makanan jenis itu cenderung mengalami kondisi rahim yang cenderung tidak subur.

Lemak trans sebenarnya merupakan jenis asam lemak yang dapat ditemukan secara alami pada beberapa jenis makanan, seperti daging sapi, susu, dan mentega. Namun, kebanyakan lemak trans yang masuk ke dalam tubuh dari makanan sehari-hari bukan berasal dari bahan-bahan alami ini. Trans fat yang banyak dikonsumsi merupakan trans fat yang terbentuk dari proses pengolahan, yaitu proses hidrogenasi.

Proses hidrogenasi merupakan proses pengubahan asam lemak tidak jenuh menjadi asam lemak jenuh. Asam lemak tidak jenuh banyak ditemukan pada bahan-bahan nabati, seperti minyak sayur, sedangkan asam lemak jenuh banyak ditemukan pada bahan-bahan hewani seperti margarin dan butter.

Jadi semua makanan yang salah satu bahannya adalah margarin mengandung lemak trans seperti biskuit, kue-kue kering, kue cake, roti, serta berbagai camilan seperti potato chips, corn chips dan pop corn.

Penelitian menemukan, wanita dengan konsumsi tertinggi lemak trans, 48 persen cenderung mengalami endometriosis dibandingkan yang konsumsinya rendah.

Namun, mengonsumsi pola makan yang tinggi kandungan asam lemak omega 3 yang bisa ditemukan dalam minyak ikan, tampaknya mampu melindungi kelainan dalam rahim seperti para partisipan yang mengalami penurunan risiko hingga 22 persen.

Salah satu contoh produk yang mengalami proses ini yaitu margarin. Jadi semua makanan yang salah satu bahannya adalah margarin mengandung lemak trans seperti biskuit, kue-kue kering, kue cake, roti, potato chips, corn chips, pop corn, martabak, dan sebagainya.

Endometriosis tampak dialami satu dari sepuluh wanita, yaitu ketika lapisan dari rahim tumbuh di tempat yang tidak seharusnya. Hal itu dapat tidak terasa sama sekali atau mengakibatkan rasa sakit yang parah hingga dampak ketidaksuburan.

Penelitian itu melibatkan 70.000 wanita di Amerika, yang merupakan salah satu penelitian terbesar yang mempelajari antara pola makan dengan endometriosis.

Pada kesimpulannya, studi itu mengaanggap lemak trans dapat menimbulkan peradangan dalam tubuh sehingga memicu sel merah dari lapisan rahim tumbuh di bagian tubuh yang tidak seharusnya, sementara asam lemak omega-3 bisa menekan pertumbuhannya.

Pemimpin penelitian dari Harvad Medical School,  Dr. Stacey Missmer mengatakan, penelitian itu memberikan indikasi kuat bahwa mereka sudah bisa mengidentifikasi makanan kaya kandungan asam lemak omega-3 dapat melindungi dari endometriosis dan lemak trans memiliki efek yang merusak.

Para wanita dalam studi tersebut diminta untuk menjawab pertanyaan setiap empat tahun antara tahun 1989-2001 dan menghitung seberapa banyak wanita yang terkena endometriosis.

Hasilnya, lemak totak dakan pola makan tidak terlalu berpengaruh, namun jenis dari lemak yang dikonsumsi terkait dengan risiko endometriosis. Lemak trans juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung.

telegraph.co.uk/Republika.co.id