4 Jumadil-Awal 1443  |  Rabu 08 Desember 2021

basmalah.png

Alasan-alasan yang Salah untuk Memiliki Bayi

http://emssolutionsinc.files.wordpress.com/2009/09/pregnancy-yoga.jpg

"Kapan kalian punya momongan?" tanya ibu mertua Anda setiap kali bertemu dengannya. Tak hanya ibu mertua, tetangga, ipar, kakak, bahkan ibu Anda, hampir semua orang yang dekat dengan Anda bertanya hal ini. Semakin jengah dengan pertanyaan ini, akhirnya Anda dan suamiĀ  mengikuti program untuk memiliki anak. Tapi, apakah alasan dorongan dari pihak luar semacam ini memojokkan Anda untuk memiliki anak?

Sebaiknya Anda pikirkan lagi, karena memiliki anak bukan perkara yang ringan. Jangan sampai Anda memutuskan untuk hamil karena alasan yang salah. Berikut adalah alasan-alasan lain yang salah untuk menghadirkan si kecil ke dunia.


Alasan salah 1: Anda butuh "sesuatu" yang baru untuk dijadikan bahan obsesi.
Anda sudah melewati masa-masa tegang menuju hari pernikahan yang biasanya dipenuhi dengan kesibukan dan persiapan. Sekarang, ketika ada banyak sisa waktu, Anda tak tahu mau melakukan apa. Sehingga Anda berpikir, setelah menikah, langkah selanjutnya adalah memiliki anak, padahal Anda belum memikirkan tuntas mengenai anak dan apa saja yang dibutuhkan untuk merawatnya. Butuh pemikiran tuntas, kesiapan mental dan finansial untuk merawat dan menjaga anak hingga mereka besar.

Alasan salah 2: Takut masa subur berakhir
Ada pasangan yang langsung mendapatkan anak segera setelah menikah, ada yang sengaja menunda, ada yang berusaha namun belum kunjung mendapatkannya. Ketika akhirnya Anda berpikir sudah mapan untuk mengasuh seorang anak, dan Anda mencoba untuk hamil, tapi belum juga mendapatkan, Anda makin panik dan malah terobsesi untuk mendapatkan anak karena berpikir usia terus bertambah.

Alasan salah 3: Semua teman dan saudara yang seumuran Anda sudah punya anak
Hanya karena teman-teman atau saudara yang seumuran Anda sudah memiliki anak, tak berarti Anda pun sudah saatnya. Ada banyak hal yang mesti dipikirkan masak-masak untuk mengasuh seorang anak. Ada hal-hal yang lebih penting untuk dipertimbangkan saat akan mengasuh anak, karena kehadiran seorang anak akan mengubah hidup Anda secara drastis. Perlu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan; siapa yang akan tinggal dan merawat anak? Bisakah Anda menghadapi meningkatnya kebutuhan hidup? Apakah Anda dan dia sudah sepaham dengan cara mendidik dan mengasuh anak?

Alasan salah 4: Tekanan orangtua
Bertahun-tahun, ibu Anda memberikan tanda-tanda dan dorongan agar Anda cepat menikah. Kini, setelah Anda menikah, ia seakan "menagih" cucu. Hadapi dengan lapang dada. Dengarkan dengan tenang, lalu dengan perlahan, jelaskan bahwa Anda masih yang memegang perencanaan kehidupan Anda. Pastikan ia tahu, bahwa Anda memiliki rencana-rencana dan ia akan jadi yang pertama untuk tahu jika memang cucunya akan segera datang.

Alasan salah 5: Bayi akan menyelesaikan masalah
Menjalin dan membangun sebuah lembaga pernikahan dengan seorang pasangan saja sudah cukup sulit. Ketika Anda dan dia menghadapi sebuah permasalahan pelik, jangan kemudian berpikir bahwa memiliki bayi akan menyelesaikan masalah tersebut. Menjadi orangtua tidak selamanya tentang hal yang menyenangkan dan menggembirakan. Jangan salah ambil keputusan dan mengharapkan bahwa kehadiran anak akan menyelesaikan masalah di antara Anda dan pasangan dan menyelamatkan kehidupan pernikahan ini. Tapi, upayakan untuk memikirkan apa yang bisa diperbaiki dari hubungan ini, dan ingat-ingat apa hal-hal yang menyatukan Anda dan dia di awal perhubungan, setelah itu merekatkan Anda dan dia, baru siapkan ruang untuk kedatangan si kecil.

The Nest/KOMPAS.com