fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


2 Syawal 1442  |  Jumat 14 Mei 2021

Hijabers Community: Muda, Menikah, Gaya

 

 

 

 

 

Ghaida Tsurayya

Seratusan perempuan muda berkumpul di selasar belakang Masjid At-Tin, Jalan Raya Taman Mini, Jakarta Timur, 6 Juli lalu. Busana muslimah yang mereka kenakan terlihat sangat modis. Dengan dominasi warna-warna cerah ataupun lembut, aneka pola dan hiasan busana mereka memperlihatkan kekayaan kreativitas. Mereka terlihat antusias mengikuti acara bincang-bincang bertema nikah muda yang digelar Hijabers Community (HC) bekerja sama dengan harian Republika.

 

Acara menampilkan Dian Pelangi, Ghaida Tsurayya, dan Fitri Aulia sebagai pembicara. Cerita tentang pengalaman menikah muda yang disampaikan mereka lumayan membetot perhatian. Umumnya peserta menanyakan berbagai kiat agar bisa cepat nikah di usia muda. “Bagaimana caranya meyakinkan calon, yuk kita bisa sama-sama mempercepat pernikahan,” ucap Tanti bertanya.

 

Ghaida, yang menikah pada usia 20 tahun, menyarankan agar sang calon pendamping dipancing-pancing seperti dilakukannya terhadap Kang Apin, sang suami. “Ghaida sudah nyaman, kalau komunikasi udah enakeun. Tapi Ghaida enggak mau pacaran. Bagaimana, dong?” kata putri sulung dai kondang Aa Gym itu mencontohkan.

 

Tema nikah muda diangkat komunitas ini karena dari 31 pengurusnya sebagian besar telah menikah dalam usia belia. Selain desainer, mereka bekerja sebagai dokter gigi, model, pegawai negeri, penata rias artis, dan ibu rumah tangga. Tema ini juga diangkat untuk membuktikan bahwa menikah muda tidak otomatis menghambat karier.

 

Sebenarnya komunitas yang berdiri sejak 27 November 2010 ini memfokuskan diri pada upaya penyebarluasan pemakaian hijab (jilbab, kerudung kepala) di kalangan perempuan muslim. Mereka sering menggelar peragaan busana ataupun memberikan pelatihan cara menggunakan hijab secara modis.

 

“Saat mendapat tawaran mengisi acara, kami sengaja pilih talk show karena kalau fashion show terlalu sering,” ujar Dian Ayu, 27 tahun, pengurus HC.

 

Soal penggunaan hijab, Sandy Monarchi, 23 tahun, amat terkesan oleh rekan-rekannya di HC. Komunitas ini, menurut dia, ingin menunjukkan bahwa berjilbab bisa tetap modis dan memenuhi tuntutan Islam. Kaum perempuan yang mau berjilbab sebenarnya tak sedikit, hanya kebanyakan mereka khawatir tak lagi bisa terlihat gaya ketika jilbab telah menutupi kepala.

 

Karena itu, komunitas ini menggelar hijab class setiap bulannya. Jadwal dan tempat diumumkan melalui Twitter ataupun Facebook. Peminatnya sampai ratusan orang, tapi ruang yang ada cuma bisa menampung sekitar 40 orang untuk setiap sesinya. Tutorial disampaikan langsung oleh pengurus yang dikenal sebagai desainer, seperti Dian Pelangi, Ghaida, dan Fitri, yang punya label Kivitz.

 

Belum genap setahun, pengikut komunitas ini di Twitter mencapai 20 ribu orang. Sedangkan di Facebook sebanyak 28 ribu orang. Nalia Rifika, Public Relation & Marketing Communication HC, mengatakan ke depan komunitas akan membuka sistem keanggotaan supaya ada regenerasi. “Kami kan enggak bisa terus-terusan di sini,” ujar Fika.

 

Selain itu, hal tersebut dimaksudkan agar semakin banyak perempuan yang tidak lagi ragu atau takut untuk berjilbab. Di komunitas inilah, kata Fika, kaum perempuan bisa memperbaiki cara berpakaian mereka. “Kami saling mengingatkan, saling memperbaiki diri. Meski modis, saat ada yang kurang, misalnya leher terlihat, kami ingatkan,” kata Fika, yang akan meluncurkan produknya yang berlabel Nabilia.

tempointeraktif.com