12 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 06 Desember 2022

basmalah.png

Nyeri Haid Normal Vs Endometriosis, Bagaimana Cara Membedakannya?

Nyeri Haid Normal Vs Endometriosis, Bagaimana Cara Membedakannya?

Fiqhislam.com - Perut yang nyeri saat menstruasi merupakan hal yang normal. Namun, apabila nyeri yang dirasakan sudah berlebihan dan mengganggu produktivitas sehari-hari, maka perlu diwaspadai. Sebab, bisa saja nyeri berlebih tersebut merupakan gejala endometriosis.

Endometriosis merupakan penyakit kronis progresif yang menyebabkan rasa nyeri tinggi dan diderita oleh 1 dari 10 perempuan di Asia. Sayangnya, endometriosis ini sering kali disalahartikan sebagai rasa nyeri biasa saat haid.

Padahal, apabila tidak ditangani dengan segera, penyakit ini bisa menyebabkan gangguan kesuburan pada perempuan. Lalu, bagaimana cara membedakan rasa nyeri normal saat menstruasi dengan rasa nyeri akibat endometriosis?

Menurut Prof Dr dr Budi Wiweko, SpOG (K), MPH, pendiri Smart IVF dan wakil direktur Indonesia Medical Education and Research Institute (IMERI) Universitas Indonesia, terdapat sejumlah gejala yang membedakan antara nyeri haid biasa dengan endometriosis.

Gejala utama yang membedakan nyeri endometriosis dengan nyeri normal saat haid adalah durasi sakit yang dirasakan. Selain itu, nyeri haid biasa umumnya tidak akan mengganggu aktivitas sehari-hari.

"Yang pertama, tentu harus diingat bahwa setiap haid atau menstruasi itu seorang perempuan secara alami ataupun lumrah, itu akan mengalami nyeri. Hanya perbedaannya, kalau nyeri haid yang normal itu hanya terjadi satu hari saja dan paling lama dua hari dan tidak mengganggu aktivitas," kata Prof Iko, sapaan akrabnya, dalam konferensi pers virtual, Senin (14/6/2021).

"Kalau nyeri haid yang ditimbulkan oleh endometriosis umumnya bisa terjadi sebelum haid itu dia udah nyeri, pada saat haid semakin nyeri, sepanjang haid dia nyeri, sesudah haid dia juga nyeri. Dan dia mengganggu aktivitas dan rutinitas karena nyeri yang luar biasa," lanjutnya.

Lebih lanjut, Prof Iko juga memaparkan sejumlah gejala lainnya yang akan dirasakan jika perempuan mengidap endometriosis, yakni:

- Nyeri haid yang disertai nyeri pada bagian tubuh lainnya
- Nyeri saat berhubungan seksual
- Nyeri saat buang air kecil (BAK)
- Nyeri saat buang air besar (BAB).

Oleh sebab itu, kata Prof Iko, penting bagi para perempuan untuk rutin mencatat siklus menstruasinya setiap bulan sekaligus dengan keluhan yang dialaminya guna mendeteksi dini apabila memang terdapat endometriosis.

"Yang kedua nyerinya ini (endometriosis) ini sifatnya siklik, ya. Tidak timbul sewaktu-waktu, tapi dia siklik rutin dan terkait dengan siklus haid," pungkas Prof Iko.

"Makanya mencatat siklus haid itu sangat penting, termasuk dengan keluhan-keluhan yang menyertai," tutupnya. [yy/health.detik]

 

Nyeri Haid Normal Vs Endometriosis, Bagaimana Cara Membedakannya?

Fiqhislam.com - Perut yang nyeri saat menstruasi merupakan hal yang normal. Namun, apabila nyeri yang dirasakan sudah berlebihan dan mengganggu produktivitas sehari-hari, maka perlu diwaspadai. Sebab, bisa saja nyeri berlebih tersebut merupakan gejala endometriosis.

Endometriosis merupakan penyakit kronis progresif yang menyebabkan rasa nyeri tinggi dan diderita oleh 1 dari 10 perempuan di Asia. Sayangnya, endometriosis ini sering kali disalahartikan sebagai rasa nyeri biasa saat haid.

Padahal, apabila tidak ditangani dengan segera, penyakit ini bisa menyebabkan gangguan kesuburan pada perempuan. Lalu, bagaimana cara membedakan rasa nyeri normal saat menstruasi dengan rasa nyeri akibat endometriosis?

Menurut Prof Dr dr Budi Wiweko, SpOG (K), MPH, pendiri Smart IVF dan wakil direktur Indonesia Medical Education and Research Institute (IMERI) Universitas Indonesia, terdapat sejumlah gejala yang membedakan antara nyeri haid biasa dengan endometriosis.

Gejala utama yang membedakan nyeri endometriosis dengan nyeri normal saat haid adalah durasi sakit yang dirasakan. Selain itu, nyeri haid biasa umumnya tidak akan mengganggu aktivitas sehari-hari.

"Yang pertama, tentu harus diingat bahwa setiap haid atau menstruasi itu seorang perempuan secara alami ataupun lumrah, itu akan mengalami nyeri. Hanya perbedaannya, kalau nyeri haid yang normal itu hanya terjadi satu hari saja dan paling lama dua hari dan tidak mengganggu aktivitas," kata Prof Iko, sapaan akrabnya, dalam konferensi pers virtual, Senin (14/6/2021).

"Kalau nyeri haid yang ditimbulkan oleh endometriosis umumnya bisa terjadi sebelum haid itu dia udah nyeri, pada saat haid semakin nyeri, sepanjang haid dia nyeri, sesudah haid dia juga nyeri. Dan dia mengganggu aktivitas dan rutinitas karena nyeri yang luar biasa," lanjutnya.

Lebih lanjut, Prof Iko juga memaparkan sejumlah gejala lainnya yang akan dirasakan jika perempuan mengidap endometriosis, yakni:

- Nyeri haid yang disertai nyeri pada bagian tubuh lainnya
- Nyeri saat berhubungan seksual
- Nyeri saat buang air kecil (BAK)
- Nyeri saat buang air besar (BAB).

Oleh sebab itu, kata Prof Iko, penting bagi para perempuan untuk rutin mencatat siklus menstruasinya setiap bulan sekaligus dengan keluhan yang dialaminya guna mendeteksi dini apabila memang terdapat endometriosis.

"Yang kedua nyerinya ini (endometriosis) ini sifatnya siklik, ya. Tidak timbul sewaktu-waktu, tapi dia siklik rutin dan terkait dengan siklus haid," pungkas Prof Iko.

"Makanya mencatat siklus haid itu sangat penting, termasuk dengan keluhan-keluhan yang menyertai," tutupnya. [yy/health.detik]

 

Obat Apa yang Paling Ampuh

Obat Apa yang Paling Ampuh Atasi Endometriosis?


Fiqhislam.com - Penyakit endometriosis memang bisa mengganggu keharmonisan keluarga, karena nyeri muncul saat berhubungan intim. Endometriosis pun menjadi salah satu penyebab gangguan kesuburan tersering pada pasangan yang belum memiliki keturunan, mencapai sekira 40 persen.

Nyeri haid normal hanya 1-2 hari dan tidak mengganggu aktivitas. Sementara pada mereka dengan endometriosis, nyeri bisa sebelum, saat dan setelah haid, mengganggu aktivitas karena nyeri luar biasa. Nyeri ini sering ditemani nyeri lain misal saat hubungan seksual, buang air besar, buang air kecil.

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan fertilitas, endokrinologi, dan reproduksi dari RS Cipto Mangunkusumo Kencana, Andon Hestiantoro mengatakan, tindakan operasi termasuk pengangkatan rahim bukanlah pilihan pertama mengatasi endometriosis sehingga bisa jadi tidak diperlukan.

Endometriosis merupakan penyakit yang bergantung pada estrogen, sehingga pengobatan salah satu pilihannya menggunakan obat yang menekan hormon. Pengobatan yang diberikan kepada pasien pun perlu mempertimbangkan sejumlah aspek seperti efektivitas, biaya, dan preferensi pasien.

Terkait pengobatan, sejumlah studi uji klinis, salah satunya penelitian ENVISIOeN oleh Pan Asia yang dilakukan selama 24 bulan dan bersifat non-intervensional, multi center dan prospektif pada 887 orang pasien dari 36 pusat penelitian di seluruh Asia termasuk Indonesia menunjukkan, progestin dinyatakan sebagai terapi lini pertama.

"Dibandingkan pil KB, obat penghilang nyeri biasa, perlu dipertimbangkan progestin sebagai lini pertama dan kalau klinis jelas kami tidak melakukan laparoskopi," kata Andon yang tergabung dalam Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI).

Progestin atau hormon dengan efek mirip seperti progesteron alami diberikan khususnya pada wanita yang belum menginginkan kehamilan. Terapi diberikan minimal 18-24 bulan demi mencegah kekambuhan dan sifatnya relatif aman untuk jangka panjang.

"Kalau bisa terapi dua tahun atau lebih bisa mencegah tindakan pembedahan yang tidak diperlukan, sehingga masa ada rahim diangkat hanya karena endometriosis," tutur Andon.

Tak hanya mengurangi nyeri, penelitian memperlihatkan, pemakaian progestin yakni Dienogest 2 mg dalam kurun waktu 24 bulan dapat menurunkan tingkat kekambuhan 4 kali lebih sedikit dibandingkan pasien berhenti terapi sebelum 24 bulan.

Di sisi lain, prosedur operasi hanya dilakukan apabila kondisi endometrsiosis sudah sangat terlambat ditangani dan tindakan bedah ini harus dicegah agar tidak berulang.

Di Indonesia, endometriosis atau penyakit inflamasi berupa tumbuhnya jaringan abnormal menyerupai endometrium (jaringan abnormal) dan memicu reaksi peradangan, setidaknya 5 dari 100 perempuan usia produktif.

Penyakit yang ditemukan pada 6-10 persen perempuan usia produktif itu memiliki dua gejala umum yakni nyeri saat haid dan atau infertilitas. Tetapi, ada juga wanita yang tak mengalami gejala apapun.

Data dari RSCM pada tahun 2010 – 2011, memperlihatkan sebanyak 43,4 persen pasien endometriosis merasakan nyeri berat yang berakibat tidak dapat beraktivitas sehari–hari, lalu 36,7 persen merasa nyeri derajat sedang dengan keterbatasan aktivitas sehari–hari, dan 20 persen pasien dengan nyeri derajat ringan. [yy/okezone]