13 Rajab 1444  |  Sabtu 04 Februari 2023

basmalah.png

Implan Payudara Buatan Prancis, Wanita Sedunia Jadi Khawatir

Implan Payudara Buatan Prancis, Wanita Sedunia Jadi Khawatir Fiqhislam.com - Kekhawatiran mengenai implan payudara buatan Prancis yang bermasalah, kini menyebar ke para wanita penggunanya di seluruh dunia.

Kekhawatiran itu kini dirasakan hingga Australia, Amerika Latin dan di penjuru eropa. Sementara Prancis akan menentukan, apakah pengguna implan harus mengangkatnya atau tidak.

“Bukan hanya Prancis yang khawatir. Ada 300-400 ribu wanita di seluruh dunia yang kemungkinan akan menjadi korban,” ujar Alexandra Blachere, pemimpin kelompok pasien pengguna PIP di Prancis.

Implan gel silikon itu buatan perusahaan Poly Implant Prosthese (PIP) yang telah ditutup sejak 2010. Produk tersebut mudah robek dan memicu investigasi lebih lanjut oleh otoritas kesehatan Prancis, untuk kemungkinan menyebarkan kanker ke penggunanya.

Sebanyak 300 ribu implan PIP yang digunakan untuk membesarkan ukuran payudara atau menggantikan sel yang rusak, dijual di seluruh dunia sebelum pabriknya bangkrut tahun lalu.

Vina Ramitha | inilah.com

 

{mooblock=Penjual Payudara Implan Diburu Interpol}

Penjual Payudara Implan Diburu InterpolJean-Claude Mas, pendiri Poly Implant Prothese (PIP), perusahaan produksi implan payudara asal Perancis masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) agen kepolisian intenasional (Interpol).

Pria berusia 72 tahun ini dianggap telah menimbulkan gelombang panik para wanita di dunia. Setelah produk implan payudara miliknya terbukti berbahaya, karena sewaktu-waktu dapat meledak, dan dapat memicu kanker serta infeksi kronis.

Dilansir kantor berita BBC, Senin 26 Desember 2011, Jean-Claude yang ditengarai berada di Kosta Rika, diduga kuat telah kejahatan berkaitan dengan kehidupan dan kesehatan.

Sebanyak 30 ribu wanita di Perancis diperkirakan menjadi korban penggunaan implan PIP. Bahkan, mungkin lebih 300 ribu wanita di seluruh dunia yang menjalani pembesaran payudara.

Skandal ini meledak setelah terungkap delapan kasus kanker akibat penanaman implan ini. Bahkan, satu di antaranya berupa kanker langka yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Sementara lebih 2.000 wanita di Perancis mengajukan gugatan atas risiko penggunaan implan tersebut.

"Kami menghadapi krisis kesehatan, terkait dengan penipuan," kata Laurent Lantieri, ahli bedah plastik terkemuka yang duduk di komite khusus penanganan kasus  tersebut di Perancis. "Memang bukan hal mendesak, tetapi ini bukan lagi pilihan. Semua implan itu harus diambil."

Menurut Lantieri, pengangkatan kembali implan ini adalah tindakan pencegahan yang tak boleh ditawar. Selama ini, para wanita hanya disarankan melakukan scan, dan menjalani operasi pengangkatan hanya jika implan meletus, atau mulai menunjukkan masalah.

Pekan lalu, ribuan wanita menggelar demonstrasi di luar gedung Kementrian Kesehatan Perancis. Mereka marah karena merasa telah diracuni. Mereka menuntut pertanggungjawaban pemerintah membiayai operasi pengangkatan implan.

Sandy Adam
vivanews.com


{/mooblock}