22 Jumadil-Akhir 1443  |  Selasa 25 Januari 2022

basmalah.png
PEREMPUAN

Kerugian Bagi Wanita yang Menolak Perkawinan

Kerugian Bagi Wanita yang Menolak PerkawinanFiqhislam.com - Terdapat segolongan wanita yang menolak perkawinan. Antaranya memandang perkawinan sebagai satu bebanan yang menyekat kebebasan. Bila berkawin, kuasa mutlak dalam menentukan hidup berubah dan terpikul pula dengan kerja-kerja mengurus rumah tangga dan anak-anak.

Justru itu yang lebih rela jadi andartu walaupun pada hakikatnya, dianya tidak dapat memberi kebahagiaan pada jiwa. Ada juga yang tidak kawin disebabkan terlalu memilih calon yang sekufu dan ada yang tidak sempat memikirkan perkawinan karena terlalu sibuk dengan tugas-tugas dan karier kerjanya.

Sebelum ini ada memberi pandangan bagaimana hendak menyelesaikan masalah andartu. Kali ini saya akan bedakan pula tentang kerugian wanita yang tidak mau kawin; tetapi bukan kepada wanita yang tidak kawin karena tiada jodoh. Kalau sudah tidak ada jodoh, wanita tersebut tidak boleh dipersalahkan karena sudah takdir menentukan demikian. Masalahnya sekarang, terdapat wanita yang ada peluang untuk kawin tetapi menolak dengan alasan-alasan seperti yang sebutkan di atas tadi.

Perkembangan tentang wanita yang tidak mau kawin bukan saja berlaku di dalam masyarakat bukan Islam tetapi juga berlaku di kalangan masyarakat Islam. Sikap demikian bukan saja bertentangan dengan kehendak ajaran Islam yang menggalakkan perkawinan tetapi juga bertentangan dengan fitrah semula jadi manusia yang hidupnya memerlukan pasangan. Bahkan sunnatullah kejadian manusia, ada lelaki dan ada wanita yang saling memerlukan antara satu sama lain. Ibarat kekuatan elektrik yang memerlukan positif dan negatif untuk melahirkan cahaya.

Walaupun terdapat di dalam masyarakat Islam sikap memilih hidup membujang tetapi tidak begitu berleluasa seperti di barat. Sungguh pun demikian pada pandangan Islam, orang yang tidak kawin dianggap jelek. Menyerupai para pendeta, Golongan ini juga tidak akan mendapat kesempurnaan dalam agama dan mengalami kerugian di dunia dan di akhirat.

Kejelekan tidak kawin khususnya bagi kaum wanita, adalah lebih banyak berbanding dengan lelaki. Karena umumnya bagi kaum wanita, pintu surga lebih banyak bermula dan berada di sekitar rumah tangga, suami dan anak-anak. bagi kaum wanita, untuk mendapat maqam salehah dan menjadi ahli surga di akhirat adalah amat mudah.

Ini adalah berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w.: "Sekiranya seorang wanita dapat melakukan empat perkara yaitu sembahyang lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga maruah dan taat kepada suami maka masuklah surga mana-mana yang ia kehendaki."

Sekiranya seorang wanita itu tidak kawin, ia tidak akan dapat mencapai kesempurnaan pada maqam yang keempat. Walau sehebat apa sekalipun ia bersembahyang, berpuasa dan menjaga maruah, wanita yang tidak kawin tidak akan mendapat kelebihan pada mentaati suami. Sedangkan kelebihan mentaati suami mengatasi segala-galanya bagi seorang wanita, sehingga ridho Allah S.W.T. pun bergantung kepada ridho suami. Selain dari pada itu di antara kelebihan wanita yang kawin bahwa ia akan diberi pahala seperti pahala jihad fisabilillah di kala mengandung. Apabila ia menyusukan anak maka setiap titik air susu akan diberi satu kebajikan.

Menjaga malam karena mengurus anak akan diberi pahala seperti membebaskan 70 orang hamba. Wanita yang berpeluh karena terkena panggang api ketika memasak untuk keluarganya akan dibebaskan dari pada neraka. Bagi wanita yang mencuci pakaian suaminya akan diberi 1000 pahala dan diampuni 2000 dosa.

Lebih istimewa lagi ialah bagi wanita yang tinggal di rumah karena mengurus anak-anak akan dapat tinggal bersama-sama Rasulullah s.a.w di surga kelak. Bahkan wanita yang rela dijimak oleh suami juga akan mendapat pahala dan lebih hebat lagi bagi wanita yang mati karena bersalin akan mendapat pahala seperti pahala syahid.

Semua kelebihan-kelebihan ini tidak akan dapat diperoleh bagi wanita yang menolak perkawinan. Malah di dunia akan selalu berada di dalam fitnah dan di akhirat menjadi golongan yang rugi. Oleh itu wanita dianjurkan untuk kawin apabila telah menemui pasangan yang sesuai. Yang dimaksudkan sesuai yang utama ialah dari segi iman, walaupun lelaki tersebut telah kawin.

Sabda Rasulullah s.a.w: "Apabila datang kepada kamu lelaki yang beragama dan berakhlak maka kawinilah dia, kalau tidak akan timbul fitnah dan kebinasaan." Para sahabat bertanya, "Bagaimana kalau ia telah kawin?" Jawab baginda s.a.w, "Kawinilah juga ia (diulang sebanyak tiga kali)."

Begitulah besarnya pahala bagi wanita yang kawin. Tidak perlu bersusah-payah untuk keluar rumah seperti kaum lelaki atau seperti kebanyakan wanita saat ini. Hanya dengan duduk di rumah sebagai seorang isteri dan ibu sudah memperolehi banyak pahala. Kalau suami ridho dengan perlakuan seorang isteri itu maka akan terus masuk surga tanpa melalui kesukaran. Nikmat ini tidak akan dapat diperolehi oleh wanita yang menolak perkawinan karena dia telah menolak untuk menjadi calon wanita salehah yang berada dibawah naungan suami.

aslamiyah.abatasa.com