12 Rabiul-Awal 1443  |  Selasa 19 Oktober 2021

basmalah.png

Kiat Cegah Penularan Hepatitis B dari Ibu Hamil Ke Bayi

Kiat Cegah Penularan Hepatitis B dari Ibu Hamil Ke Bayi

Fiqhislam.com - Ibu hamil yang mengidap hepatitis B dapat menularkan penyakit tersebut kepada bayi yang dia lahirkan. Penularan ini perlu dicegah karena 90 persen bayi yang terinfeksi akan mengidap hepatitis B kronik atau jangka panjang.

"Jadi yang paling penting memang mencegah penularan dari ibu yang mengidap hepatitis B ke bayi," ungkap Dr dr Irsan Hasan SpPD-KGEH FINASIM dalam webinar yang diselenggarakan Kalbe Ethical Customer Care (KECC) dan Hepamax, beberapa waktu lalu.

Untuk itu, setiap ibu hamil perlu mengetahui status kesehatannya, termasuk soal hepatitis B. Ibu hamil bisa menjalani serangkaian pemeriksaan untuk mengetahui apakah dia positif terhadap hepatitis B atau tidak.

Bila memungkinkan, pemeriksaan hepatitis B bahkan sebaiknya dilakukan sejak sebelum pasangan suami dan istri menikah. Dengan begitu, kondisi hepatitis B bisa diketahui dan ditangani lebih dini.

Terkait cara persalinan, hingga saat ini belum ada anjuran yang mewajibkan ibu hamil penderita hepatitis B untuk melahirkan melalui bedah caesar. Di dunia medis, hal ini sempat menjadi perdebatan.

Namun, berdasarkan penelitian, ibu hamil dengan hepatitis B diperbolehkan untuk melahirkan secara normal. Akan tetapi, bayi yang dilahirkan harus mendapatkan suntikan vaksin dan immunoglobulin.

"Vaksin saja tidak cukup, harus ada tambahan namanya immunoglobulin," jelas Irsan.

Waktu pemberian vaksin hepatitis B dan immunoglobulin hepatitis B (HBIg) juga harus diperhatikan. Pemberian keduanya harus dilakukan dengan segera pada bayi yang dilahirkan oleh ibu penderita hepatitis B.

"Paling lambat 24 jam setelah kelahiran, kalau bisa dalam 12 jam setelah kelahiran," jelas Irsan.

Untuk mencegah penularan, Irsan mengatakan, ada protokol lain yang menganjurkan ibu hamil untuk meminum obat sejak tiga bulan menjelang kelahiran. Dengan cara ini, proteksi yang diberikan pada bayi bisa lebih optimal.

"Bahkan ada protokol lain yang digunakan dokter spesialis penyakit dalam, ibu (hamil) minum obat tiga bulan menjelang kelahiran, baru proteksi mendekati 100 persen," papar Irsan. [yy/republika]