13 Safar 1443  |  Selasa 21 September 2021

basmalah.png

Anak tak Bisa Matematika. Hati-Hati Diskalkulia

Anak tak Bisa Matematika. Hati-Hati DiskalkuliaFiqhislam.com - Apa sih diskalkulia itu ? Sering sekali kita melihat anak atau orang disekeliling kita sulit memahami pelajaran matematika.

Sudah diajarkan berulang kali pun tetap saja hasilnya nihil dan beranggapan bahwa anak tersebut bodoh, padahaln sebenarnya tidak. Nah hal inilah yang dinamakan diskalkulia.

Diskalkulia adalah ketidakmampuan seorang anak dalam menyerap konsep aritmatika. Penyebab diskalkulia dikarenakan adanya kelemahan proses penglihatan atau visualisasi. Misalnya anak sulit fokus pada pelajaran atau permainan. Faktor genetik mungkin berperan pada kasus diskalkulia, tapi faktor lingkungan dan simulasi juga bisa ikut menentukan.
 
Matematika membutuhkan prosedur penyelesaian yang berurut mengikuti pola-pola tertentu, anak diskalkulia sulit mengikuti prosedur tersebut. Bisa jadi anak fobia matematika, adanya keyakinan bahwa dia tidak bisa matematika

Deteksi diskalkulia bisa dilakukan sejak kecil, tapi juga disesuaikan dengan perkembangan usia. Anak usia 4- 5 tahun biasanya belum diwajibkan mengenal konsep jumlah, hanya konsep hitungan. Anak usia 6 tahun ke atas umumnya sudah mulai dikenalkan dengan konsep jumlah yang menggunakan simbol seperti penambahan dan pengurangan.

Solusi yang bisa ditawarkan adalah dengan melakukan terapi pada sang anak. Atau jika kesulitan dalam hal biaya, bisa mengajarkan konsep belajar matematika yang lebih ringan dengan bahasa yang mereka mudah cerna.

Sebenarnya matematika adalah pelajaran yang mengasyikkan. Apalagi, untuk murid SD. Pada tingkat pendidikan dasar ini pelajaran matematika masih berkenaan dengan berhitung. Yang merupakan bagian dari matematika, yakni operasi tambah, kurang, kali, dan bagi. Mulai dari sekarang ayo para orang tua kenali gejala ini, segera tangani agar matematika tidak dijadikan sebagai pelajaran yang menyeramkan. [yy/republika/foto
republika.co.id]

Devita Moudy Larasati
Pend. Matematika – Universitas Muhammadiyah Jakarta