fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


1 Ramadhan 1442  |  Selasa 13 April 2021

5 Jalan Membuat Anak ‘Tahan Banting’

5 Jalan Membuat Anak ‘Tahan Banting’Fiqhislam.com - Membuat anak 'tahan banting' yang mampu melewati berbagai situasi sulit tak terjadi begitu saja. Ada proses panjang yang harus dilalui orangtua untuk menghadirkan karakter itu pada seorang anak. Berikut adalah tipsnya:

1 Menciptakan basis yang kokoh 

Orang tua, menurut psikolog Ratna Juwita, seharusnya memberikan anak keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, ia tetap akan dicintai oleh keluarganya. “Jika ada masalah emosional di rumah contohnya, harus diusahakan agar anak tetap memiliki orang yang dapat dipercaya dan selalu menyayanginya, seperti kakek, nenek, atau kerabat.”

2 Secara aktif mendorong pertemanan 

Selain itu, orang tua juga harus mendorong anak untuk mengembangkan pertemanan, terutama pertemanan yang positif. Teman bisa menjadi penyangga saat anak mengalami tekanan. “Teman bukan hanya penting untuk curhat, tetapi juga untuk bergembira,” ungkap Ratna.

3 Mendorong anak mengenali minat dan bakatnya 

Orang tua juga diharapkan Ratna mampu mendorong anak untuk dapat mengembangkan rasa percaya diri dan rasa berharga. Sebab, harga diri merupakan salah satu dasar yang terpenting dari resiliensi. Menurut Ratna, untuk dapat mengetahui sejauh mana anak dapat meraih citacitanya, ia juga harus mendapat kesempatan untuk sukses maupun gagal. Mendo rong anak mengembangkan bakat uniknya juga sangat penting.

4 Memperkenalkan nilai-nilai positif 

Resiliensi berhubungan sikap dan tindakan su ka membantu, penuh perhatian, dan bertanggung jawab. Anak harus tahu bahwa orang lain punya perasaan, berempati terhadap perasaan mereka, berkemampuan berbuat baik terhadap orang lain, dan mampu mencegah perbuatan negatif. Untuk itu, anak harus mendapatkan kesem patan belajar, mencontoh, dan menjalankan nilai-nilai positif.

5 Memperkenalkan kompetensi sosial 

Ratna menyarankan agar orang tua dapat mendorong anak untuk mengembangkan keterampilan sosialnya, baik dalam mengelola perasaan, kemandirian, maupun kerja sama. Ingat, tokoh panutan atau contoh tingkah laku sehari-hari jauh lebih melekat daripada nasihat saja. Yang terpenting, bantu anak untuk tidak menyerah dalam keadaan apa pun. [yy/republika.co.id]