pustaka.png.orig
basmalah.png


4 Dzulqa'dah 1442  |  Senin 14 Juni 2021

Bisa Kok, Bicara Pada Anak Tanpa Teriak

Bisa Kok, Bicara Pada Anak Tanpa TeriakFiqhislam.com - Mengomunikasikan sesuatu antara orangtua dan anak tak semudah membalikan telapak tangan. Mungkin maksud kita baik, ingin mendisiplinkan atau melarang hal buruk, tapi yang ada malah main larang dan berteriak atau membentak kepada anak. Jelas hal ini kurang baik.

Jika anak dibesarkan dengan cara teriakan, kemungkinan besar ia akan meniru hal sama kepada orangtua, teman, dan guru di sekolah. Bahkan bukan tak mungkin memunculkan perilaku agresif.

Untuk menghindari hal tersebut, Dr. Jeffrey Bernstein, seorang psikolog dan personal and executive coach di Philadelphia memberikan saran kepada orangtua, agar mengubah cara berbicara kepada anak tanpa berteriak.

1. Akui rasa takut
Sebagai orangtua ingin memberikan yang terbaik bagia anaknya. Kita berharap pengalaman tak mengenakan saat anak-anak jangan sampai terulang kepada anak kita. Tetapi, kita juga harus mengakui apa yang membuat kita merasa ketakutan? Seringkali kemarahan dan teriakan kita berasal dari rasa takut yang mendasari kita. Untuk itu, ketahui ketakutan kita. Dengan ini, kita dapat mengubah amarah kita dan lebih baik menanganinya terlebih dahulu.

Di sisi lain, sebagai orangtua, kita takut jika anak-anak kita tidak akan belajar tanggungjawab dan mandiri. Ketika mereka tidak melakukan apa yang kita minta, mereka berbohong, tidak mematuhi aturan, ketika kita tidak menyetujui teman-teman mereka, mereka mendapatkan masalah di masyarakat, dan ketika mereka lakukan hal buruk di sekolah, kondisi tersebut membuat kita rentan menjadi marah dan berteriak untuk memeringatkannya.

"Kita tidak sempurna sebagai orangtua. Tetapi ketika kita marah biasanya hanya membuat berantakan semuanya, apalagi waktu kita mencoba untuk membantu anak-anak kita," ujar Jeffrey, seperti yang dikutip Tribunnews di Psychology Today.

Semakin kita mengakui bahwa rasa takut ini hanya masalah kita, lanjut Jeffrey, semakin kecil kemungkinan kita akan marahan dan berteriak. Karena ketika kita berteriak, suara negatif akan ada di dalam pikiran anak dalam waktu lama.

Jeffrey memberikan contoh jika anak kita dalam masalah. Misalnya kita berbicara kesal kepada mereka, "Kamu benar-benar ingin mengacaukan hidupmu sendiri?!!", sebaiknya diganti dengan kata-kata yang sifat mendukung, seperti "Ini adalah hal sulit melihat kamu berjuang seperti ini, apa yang bisa ibu bantu?".

2. Jangan berikan saran dengan cara negatif
Orangtua cenderung berteriak ketika anak-anak tidak mendengarkan nasihat kita. Bukan berarti ketika kita meninggikan intonasi suara, anak-anak mendengarkan dengan baik. Justru ketika kita berbicara perlahan, pasti, dan fokus, anak-anak akan semakin baik mendengarkan isi pembicaraan orangtua.

"Bagaimana Anda menyampaikan saran akan mempengaruhi seberapa baik anak Anda akan mendengarkan," lanjut penulis 10 Days to a Less Defiant Child ini.

Jeffrey mencontohkan kalimat "Kamu harus...", sebaiknya diganti "Ibu punya saran, gimana kalau kamu mendengarkan ibu terlebih dulu?" atau "Kamu jangan cuma main-main, cepetan kerjakan tugas, kalau nggak gitu kamu akan ketinggalan materi di sekolah!", sebaiknya diganti dengan "Ibu kok merasa takut, kalau kamu stres karena tugas sekolah. Mungkin kita bisa bicara dengan guru, supaya kamu dapat dukungan dan bisa mengerjakan tugas?". Bagi sebagian orangtua, cara ini mungkin lama, karena kita harus berbicara panjang lebar kepada anak. Tetapi pikirkan efek jangka panjangnya.

3. Fokus dengan hal baik
Jeffrey mengingatkan kita agar melihat anak-anak berterima kasih kepada mereka. Pasalnya mereka adalah anak-anak baik, tenang, dan fokus di tengah budaya yang sangat kompetitif. Terlalu menginginkan yang terbaik bagi anak-anak boleh saja, tetapi ironisnya hal itu dapat membawa kita kepada kemarahan dan penderitaan.

"Ingat, hidup ini tidak mudah. Kita semua pernah membuat kesalahan dan begitu juga anak-anak kita. Cobalah untuk fokus pada saat menggembirakan, menguatkan mereka, dan ingat hal positif, karena ini akan membantu kita mengurangi teriakan atau bentakan, dan kita menjadi model yang lebih positif bagi anak-anak," jelasnya. [yy/tribunnews.com]