25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Jangan Dikasari, Trauma pada Anak dengan Autisme Bisa Bertahan Lama

Jangan Dikasari, Trauma pada Anak dengan Autisme Bisa Bertahan LamaFiqhislam.com - Tidak ada seorang pun yang ingin dilahirkan dengan kondisi berbeda dari orang kebanyakan. Begitu juga anak-anak penyandang autisme. Sayangnya, lingkungan dan orang-orang sekitar banyak yang kurang memahami dan memperlakukan mereka dengan kasar hingga menyebabkan trauma.

"Trauma pada anak autis biasanya bertahan lebih lama. Karena mereka tidak bisa berkomunikasi. Kedua, mereka merasa diri mereka berbeda, kurang baik atau kurang sempurna dibanding anak-anak lain. Jangan lupa, anak autis nggak bisa ngomong, tetapi hatinya lebih sensitif dari anak-anak biasa," kata Gayatri Pamoedji, ketua Masyarakat Peduli Autis Indonesia (MPATI) seperti ditulis Selasa (2/4/2013).

Gayatri menuturkan bahwa perilaku yang bisa membuat anak penyandang autis adalah perilaku yang kasar. Hal lain yang bisa membuat trauma adalah jika kebutuhannya tidak diakui. Sayangnya ketika berkunjung ke tempat umum dan menampilkan perilaku ganjil, tak jarang anak penyandang autis mendapat perlakuan kasar dari orang lain.

"Kalau anak-anak ini dibentak-bentak terus, mereka bisa trauma. Kalau sudah trauma, untuk masuknya lagi sudah susah karena mereka kan untuk komunikasinya belum lancar." terang Gayatri.

Oleh karena itu, anak penyandang autisme perlu didampingi pengasuh apabila pergi ke tempat umum. Setidaknya sampai sang anak bisa lebih mandiri dan paham bahwa di tempat umum tidak boleh teriak-teriak. Orang tua juga sebaiknya perlahan-lahan membiasakan anaknya.

Misalnya kalau pergi ke mal, sebaiknya berjalan-jalan 5 menit dulu lalu pulang. Berikutnya berjalan-jalan 10 menit lalu pulang. Jadi tidak langsung dibawa ke mal sampai setengah jam. Hal ini penting karena untuk mendidik anak penyandang autisme, orang tua adalah garda yang paling depan

"Kalau ditangani dengan baik, anak-anak autis ini pastinya akan berkembang lebih baik. Mereka tidak minta dikasihani, mereka hanya minta diterima dan dimengerti," ujar Gayatri.

Kepada masyakat sekitar yang menemui anak penyandang autisme, Gayatri berpesan untuk menerima mereka dengan keganjilan-keganjilannya. Apabila mereka bergoyang-goyang, itu tandanya sedang bingung atau berusaha baradaptasi, tidak selalu akan merusak.

Yang paling sering membuat miris adalah masih banyak orang yang memakai kata 'autis' untuk bercanda. Apabila menemui orang tua yang terlihat kewalahan dengan anaknya yang menyandang autis, hampiri saja untuk menawarkan bantuan, atau senyum penuh pengertian saja sudah cukup. [yy/health.
detik.com]