5 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 29 Nopember 2022

basmalah.png

Sehat, Mulia dan Bahagian dengan Mengasuh Anak

Sehat, Mulia dan Bahagian dengan Mengasuh Anak

Fiqhislam.com - Dalam pandangan hidup peradaban Barat, wanita memiliki hak yang sama dengan kaum adam. Maka, sudah semestinya kaum wanita berkiprah sebagaimana halnya lelaki berkiprah.

Wanita bebas untuk menentukan pilihan dalam hidupnya. Dan, apapun yang dilakukan oleh kaum wanita, hendaknya dihormati dan tidak dihalang-halangi, apalagi dinilai negatif atas dasar pandangan agama.

Karena peradaban Barat menghegemoni peradaban dunia modern, seluruh negara pun, termasuk Indonesia, entah terpaksa atau suka rela, mengadopsi konsep gender dalam sistem kenegaraannya. Bahkan konsep itu telah menjelma dalam kebijakan strategis negara.

Di Indonesia kuota 30 persen dalam kepungurusan partai menjadi peraturan perundang-undangan termasuk dalam komposisi anggota parlemen di Senayan. Pada saat yang sama media massa banyak menampilkan sosok wanita karir yang ditampilkan sebagai sosok wanita ideal dan patut diidolakan.

Akhirnya tidak sedikit kaum wanita yang terobsesi dengan dunia kerja dan karir. Dan, kini seperti kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, kaum wanita banyak berseliweran diberbagai tempat keramaian. Dan, umumnya sudah menganggap pekerjaan ibu rumah tangga ketinggalan zaman alias tidak keren.

Tidaklah heran jika sekarang, ibu-ibu yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga terlihat sedikit inferior. Biasanya mereka mengucapkan, ‘Saya hanya sebagai ibu rumah tangga’.

Seolah-olah ibu rumah tangga yang mengurus anak di rumah itu adalah wanita teraniaya dan tertindas. Padahal, ibu rumah tangga adalah wanita yang paling menentukan di seluruh dunia.

Dalam bahasa Mario Teguh, ibu rumah tangga adalah satu-satunya manusia yang pekerjaannya tidak bisa diwakili oleh siapapun, termasuk oleh seorang presiden sekalipun.

Memang benar ibu rumah tangga tidak bisa dikenal layaknya artis karena memang pekerjaannya di dalam rumah. Bahkan ibu rumah tangga mungkin tidak bisa berpenghasilan dengan pekerjaan yang tak terkira di dalam rumah.

Tetapi, harus jujur diakui bahwa kenakalan remaja yang kini sudah mengarah pada kejahatan remaja, salah satunya dikarenakan hilangnya peran seorang ibu di dalam rumah. Banyaknya orang tua yang super sibuk di kota-kota besar, menjadikan interaksi mereka dengan buah hatinya tidak berjalan secara sempurna, sehingga banyak anak merasa tidak diperhatikan dan akhirnya terjerumus pada pergaulan yang merugikan.


Tugas Utama seorang Istri

Memang tidak semua wanita yang memilih berkarir semata-mata karena malu menjadi ibu rumah tangga. Sebagian karena situasi dan kondisi yang mengharuskan istri ikut turun ke medan kerja, untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang boleh jadi belum bisa diatasi seorang diri oleh suami.

Tetapi, Islam telah menegaskan bahwa tugas atau peran utama yang harus dijalankan oleh seorang muslimah sebagai istri dan ibu adalah mengurus rumah tangga, mendidik anak, menjaga harta suami, menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah yang tak kalah beratnya dari pekerjaan suami untuk memenuhi nafkah.

Jika memiliki bayi, maka tugas utama seorang ibu adalah menyusui anaknya, selama dua tahun, jika ingin sempurna penyusuannya.

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (QS. Al-Baqarah [2]:233).

Adapun kewajiban mencari nafkah, Islam tidak memberikan beban tersebut kepada istri, tetapi dibebankan kepada suami.

وَعلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf.” (QS. Al-Baqarah [2]: 233)

Suami berkewajiban untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak-anak seperti yang diperintahkan dalam ayat diatas. Dan kewajiban untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak-anak berlaku meski suami miskin atau istri dalam keadaan kaya atau berkecukupan.

لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْراً

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah ‎ berikan kepadanya. ‎Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS: Ath Thalaaq [65]: 7).


Keuntungan Menjadi Ibu Rumah Tangga

Ada banyak keuntungan menjadi ibu rumah tangga yang lingkupnya tidak saja di dunia, tetapi juga di akhirat.

Pertama, sehat. Seorang ibu yang mengasuh buah hatinya sendiri cenderung akan lebih sehat. Karena seorang ibu apalagi yang masih menyusui akan dihadapkan dengan kondisi-kondisi tertentu yang seringkali memaksanya untuk jalan cepat, berlari, atau bergerak sigap.

Misalnya bayi sedang menangis, maka secara spontan seorang ibu akan pergi berlari menuju bayi mungilnya. Kejadian seperti itu boleh jadi berlangsung sepanjang hari. Kesigapan seorang ibu saat bangkit dari kursi dan berlari menghampirinya bisa melatih daya tahan ibu (endurance).

Lebih dari itu ketika bayi sudah berumur enam bulan ke atas, biasanya seorang ibu akan tertarik untuk bermain dengan bayinya. Seorang ibu akan dibuat gemas oleh bayinya ketika tersenyum atau mungkin tertawa, sehingga merangsang ibu untuk mengabil bayinya kemudian mengayunnya seperti pesawat, bermain kuda-kudaan, atau mengelitikinya. Aktivitas semacam itu akan terjadi dalam keseharian seorang ibu,  dan itu berarti seorang ibu telah melakuakan latihan fleksibilitas.


Kedua, mulia. Dalam Islam, seorang ibu adalah manusia pertama dan utama yang harus ditaati, dipatuhi dan dihormati oleh seorang anak. Jadi, Islam menempatkan kaum ibu sebagai manusia paling mulia di muka bumi ini.

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kupergauli dengan baik?” Beliau berkata, “
Ibumu.” Laki-laki itu kembali bertanya, “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”, jawab beliau, “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Kemudian ayahmu”, jawab beliau.” (HR. Bukhari).

Sementara itu di dalam Al-Qur’an Allah berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbakti kepada) kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun” (QS: Luqman [31] : 14).

‘Atha` bin Yasar berkata, “Aku pergi lalu bertanya kepada Ibnu ‘Abbas, ‘Kenama engkau menanyakan tentang kehidupan ibunya (masih hidup atau tidak)?

“Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjawab, “
Sungguh aku tidak mengetahui adanya suatu amalan yang lebih mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla daripada berbakti kepada ibu.” (HR: Bukhari).

Ketiga, bahagia

Menjadi ibu rumah tangga sangat berpotensi menjadi bahagia dunia-akhirat, terkhusus jika anak-anak yang dididiknya tumbuh menjadi orang yang sholeh dan sholehah. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh ibunda dari Imam Syafi’i dan Imam Bukhari.

Kedua ulama itu besar dengan bimbingan seorang ibu yang tekun dan sabar dalam mendidik putranya, sehingga keduanya tumbuh dewasa menjadi manusia ‘penyelamat’ ajaran Islam. Dari kedua tangan ulama besar itu, lahirlah berbagai macam kitab yang sangat dibutuhkan umat manusia hingga akhir zaman.

Lantas, bagaimana tidak bahagia, sementara Rasulullah bersabda, "
Apabila seorang anak Adam mati putuslah amalnya kecuali tiga perkara : sedekah jariah atau ilmu yang memberi manfaat kepada orang lain atau anak yang sholeh yang berdoa untuknya.” (HR. Muslim).

Jadi, tidak ada investasi terbesar yang mutlak menguntungkan selama-lamanya selain mendidik anak-anak kita sendiri untuk masa depan mereka menjadi manusia yang siap membela dan memperjuangkan dakwah Islam.

Coba kita renungkan bersama, adakah ibu yang paling bahagia di muka bumi ini selain daripada ibu yang memiliki anak yang sholeh dan sholehah dan selalu mendoakan keduanya?

Maka, alasan apalagi yang akan dikemukakan, sementara keuntungan mengasuh anak itu sangat luar biasa?

Imam Nawawi
yy/hidayatullah.com