21 Jumadil-Akhir 1443  |  Senin 24 Januari 2022

basmalah.png
ORANGTUA

Belajar Parenting Itu Penting

Belajar Parenting Itu PentingFiqhislam.com - Pendidikan anak sebagai amanat yang diemban—terutama oleh para orangtua—memang menuntut eksplorasi, kreativitas, dan inovasi yang tak kenal henti. Dunia terus berkembang dalam skala kemajuan yang cenderung tak terprediksi. Maka mendidik anak pun bermakna menyiapkan anak untuk sebuah masa yang lebih maju seoptimal mungkin.

Lompatan kemajuan dunia ini tak seorangpun dapat memeberi estimasi yang cukup. Karena itu,  paradigma dalam mendidik anak cenderung bagaimana olah potensi anak dapat berlangsung seoptimal mungkin dan juga sedini mungkin. Sebab waktu sangatlah berharga dalam upaya melahirkan SDM yang unggul. Asumsinya, semakin dini olah potensi anak dapat dilangsungkan, semakin berkualitaslah outcome-nya, sehingga semakin siap pulalah dia menghadapi kompetensi dalam hiruk-pikuk dunia di masa depan, insyaAllah.

Bagaimana tidak, posisi kita sebagai anak manusia ternyata sedikit sekali  yang menyadari urgensi menyiapkan diri sebagai Bapak/Ibu nya manusia.

“Sedikit sekali Orangtua yang menyiapkan anaknya menjadi Orangtua,” demikianlah apa yang saya cerna  dari hasil sebuah Talkshow Parenting di salah satu sudut kota Jakarta. Peran mendidik, tentu tidak bisa kita berpangku tangan saat mendengarnya. Apalagi bagi akhwat (perempuan) profesi ini adalah suatu hal yang niscaya, apapun prodi  yang diambil saat kuliah. Acuannya adalah al-ummu Madrasatul uula.

Persiapkan diri!

Kita tak selamanya muda, walaupun bangga dengan segudang karya, atau sibuk dengan deretan agenda-agenda pergerakan, ada hal yang tak boleh kita lalaikan sebagai ummat terbaik. Ya, Mempersiapkan diri menjadi orangtua serta sebagai penerbit generasi unggul. Karena anak sebagai cikal bakal ummat, yang juga harus mendapat perhatian khusus untuk mendidik dan membinanya , “tarbiyatul Aulad”.  

Siapa itu Anak

Jika semua setuju dengan ungkapan bahwa anak adalah permata hati, kiranya tak cukup demikan kita mengartikan, itu adalah sebuah analogi tentang betapa berharga nya seorang anak. Tafakurilah! kita tidak punya banyak waktu untuk berbuat, bahkan kewajiban yang harus kita kerjakan pun lebih banyak dari waktu yang tersedia. Sebagai hamba beriman, kita pun menyadari akan kehidupan yang maha kekal tiada akhir, sementara sedikit sekali umur dan amal kita yang bisa diandalkan sebagai bekalan bagi kehidupan abadi kelak. Maka seorang anak hadir untuk kita sebagai investasi akhirat. Bagaimana kita mendidiknya itulah yang akan kembali kepada kita. Anak yang sholeh mampu memberikan sumbangan sebagai amal yang tidak putus ketika semua amalan-amalan  terputus oleh kematian.

Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Fitrah adalah karakter asli, dan yang penting kita catat bahwa dalam fitrahnya, Allah membekali seorang anak dengan bibit iman masing-masing, maka tugas kita adalah menjaga ke-orsinilannya bahkan harus mampu mengantarkannya kembali kepada Allah.

Berat memang karena ia adalah amanah yang langsung Allah berikan kepada setiap orangtua, tapi tak perlu merasa terbebani karenanya, sebab kita punya kurikulum khusus dalam mendidik mereka. Kurikulum yang sempurna tanpa harus melalui proses uji mutu, karena jelas mutu nya telah teruji oleh ummat sebelum kita. salah satu kurikulum tersebut Allah abadikan dalam surah Luqman ayat 16 dan seterusnya. merupakan pola pendidikan yang tegas tapi tidak keras. Begitulah mendidik anak seharusnya, tidak diperkenankan untuk mengarang bebas. Karena masalah anak adalah masalah generasi, masalah peradaban. Mendidik anak dengan baik berarti menyiapkan pondasi peradaban yang kokoh. Disinilah tugas mulia kita !

Yang Harus dilakukan Orang Tua

Arus Globalisasi yang semakin deras menjadi tantangan tersendiri untuk para orangtua dan calon orangtua. seperti yang saya sebut diatas bahwa orangtua dituntut untuk kreatif dan full inovasi agar tetap bisa mengarahkan mereka dan menjaga mereka supaya tak terkikis di zamannya. dalam Hadist pun “Didiklah anak sesuai dengan zamannya….”.

Menjaga anak dari bahaya teknologi bukan berarti membuat mereka gaptek alias gagap teknologi. Bunda achie -panggilan akrab Astri Ivo- memaparkan, bahwa orangtua harus bisa mengukur sepatu mereka, artinya Masuklah ke dunianya, jadilah teman karib untuk anak, jangan terlalu saklek pada anak,  mereka tidak suka digurui, kita harus menjadi partisipant yang berperan aktif dalam aktifitas mereka. Berikan peraturan atas kesepakatan bersama, jangan terlalu mendikte karena mereka punya freedom of choice. Kalimat yang masih melekat ketika Bunda Achie menyampaikan ucapan putranya saat ia memberi peraturan ; “Mom, I will be cooperate. but please choose the World ”.

Cerita menarik lain yang disampaikan Dr. Sitaresmi Soekanto saat ditanya Haifa cucu perempuannya, : “eyang uti, kenapa ko Rosulullah tidak pernah digambar ?” pertanyaan sang cucu ini beliau akui lebih bingung untuk dijawab daripada sederet pertanyaan Mahasiswa nya. Alhamdulillah sang eyang segera menemukan kata yang pas, : “karenaaa…” dengan suara mengendap-endap “karenaa kita akan bertemu langsung di surga, jadi sekarang wajah beliau di keep dulu sama Allah, biar surprise..” mendengar bahasa sang eyang yang akrab, gadis kecil pra TK itu sangat antusias dan bersemangat seolah menjadi stimulus dalam setiap apa yang hendak ia lakukan, mempunyai motivasi untuk melihat wajah Rosul SAW. Subhanallaah.. itulah anak dengan ragam kepolosannya.

kemudian, berdamailah dengan kekurangan anak, jangan hanya menerima kelebihannya saja, mereka sangat butuh pengakuan dan rasa nyaman dari orangtua bagaimanapun keadaan  mereka, orangtua lah sebagai pembentuk comfort zone bagi anak. didiklah dengan cinta, maka anak pun akan tumbuh penuh cinta.

Prinsip  Mendidik Anak

Aplikasi pelaksanaan pendidikan tidak akan terealisasi dengan baik tanpa adanya fondasi filosofi yang kukuh dan kuat, karena ruh/jiwa pendidikan akan hidup dan lestari serta berdaya guna manakala pendidikan itu selalu dilingkupi oleh dasar-dasar  filosofinya yang kukuh dan kuatDasar filosofi ini hendaknya tertuang dalam setiap gerak dan langkah kegiatan pendidikan. Filosofi ini merupakan landasan dalam terselenggaranya pendidikan. Sebagai sebuah landasan pokok setidaknya dapat dijadikan suatu akar yang saling mengikat, yang harus terus dipegang dalam melaksanakan praktek pendidikan.

Ada beberapa prinsip yang disampaikan secara tersirat oleh pemeran istri Ust. Rahmat Abdullah dalam film Sang Murabbi dalam Talkshow ini, ialah :

  • Prinsip Cinta, Kasih, Sayang dan Kerja Sama sebagai salahsatu kebutuhan esensial manusia secara psikis.
  • Prinsip Tauhidiyah yang harus menjadi stimulasi edukatif yang permanen dalam proses mendidik anak
  • Prinsip Ibadah, sebagai tugas kekhalifahan manusia di bumi
  • Prinsip Akhlaq dan Kebiasaan yang Baik sebagai syarat utama pendidikan

Sebagai Muslim kita sudah mempunyai the best role model / Qudwah Hasanah. Ialah Rosulullah SAW, insan mulia yang Allah sendiri menegaskan keunggulannya dan melantiknya langsung sebagai suri tauladan. Beliaulah yang harus selalu menjadi acuan. [yy/islampos.com]

Oleh Emas Rahayu
Rumah Belajar An-Naml