4 Jumadil-Awal 1443  |  Rabu 08 Desember 2021

basmalah.png

Ketika Dihadapkan Pilihan: Anak atau Pekerjaan

Ketika Dihadapkan Pilihan: Anak atau PekerjaanFiqhislam.com - Jalan hidup tak bisa ditebak, akhirnya Ulma Nurriva, 28 tahun, memilih menjadi ibu rumah tangga dan meninggalkan profesi sebagai wartawan. Setelah cuti panjang melahirkan, keputusan itu diambil karena ia ingin mengurus dan memantau pertumbuhan anaknya sendiri. “Daripada diurus sama orang lain, takut kenapa-kenapa. Bakal kepikiran juga waktu kerja, dan enggak konsentrasi,” kata dia, dua pekan lalu.

Berbeda dengan Ulma, Wira Prautani tetap memilih bekerja sebagai pegawai negeri di kejaksaan Kendari, Sulawesi Tenggara. Namun, saat di kantor, pikiran dia tak pernah lepas dari bayinya yang baru berusia beberapa bulan. Apalagi, sebagai perantau, tidak ada keluarga dekat yang bisa dipercaya penuh mengurusi anaknya.

“Waktu kerja sampai sedih dan nangis, setiap jam telepon untuk mengecek. Soalnya, kadang pembantu masih sembarangan mengurusnya,” ujarnya. Tak sampai hati anaknya diasuh orang lain, Wira pun mengajukan mutasi ke Depok, Jawa Barat, agar dekat dengan rumah orang tua. Kini, si bayi sudah berusia 8 bulan. Meski sedikit lega, terkadang masih muncul niat Wira untuk berhenti bekerja dan fokus mengurus anaknya.

Menurut Ine Aditya, psikolog dari Satu Consulting, dilema antara memilih pekerjaan dan mengurus anak memang kerap terjadi pada ibu-ibu muda yang baru saja memiliki bayi. Kekhawatiran itu biasanya timbul karena rasa kurang percaya, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain yang mengurus anaknya selagi mereka bekerja.

Rasa kurang percaya diri muncul karena luka masa lalu. “Dulu, waktu dia kecil juga ditinggal ibunya bekerja dan selalu merasa kesepian.” Sedangkan rasa kurang percaya terhadap orang lain timbul karena ia memiliki konsep mengasuh anak yang berbeda dengan si pengasuh. Meski terkadang yang merawat anaknya adalah kerabat dekat sendiri.

Bagi yang kurang percaya diri akibat pengalaman pahit masa kecil, Ine menyarankan agar menjalani terapi dan menyembuhkan emosinya lebih dulu. Jadi, mereka bisa menerima keadaan itu dan memiliki kepercayaan diri mengurus anaknya dengan lebih baik. Sedangkan bagi yang lain, ia menyarankan agar mencari titik masalah utama yang membuat berat meninggalkan anaknya. [yy/tempo.co]