10 Jumadil-Awwal 1444  |  Minggu 04 Desember 2022

basmalah.png

Membantai Pesona TV

Membantai Pesona TVFiqhislam.com - Satu diantara pertanyaan “wajib” yang muncul setiap kali saya berdiskusi dengan orangtua dan guru dalam seminar atau pelatihan-pelatihan pendidikan media adalah bagaimana caranya menarik anak dari TV. Saya sebut pertanyaan “wajib”, karena pertanyaan ini selalu diajukan oleh salah seorang peserta.

Biasanya, setelah mengetahui paparan tentang berbagai dampak TV dan batas yang diperbolehkan para ahli bagi anak untuk menonton TV (yakni maksimal hanya 2 jam per hari), banyak orangtua melakukan evaluasi diri: anaknya selama ini terlalu banyak menonton TV. Bahkan, sebagian anak menonton acara yang dikategorikan tidak aman dan tidak tepat bagi anak (misalnya film animasi yang banyak mengandung kekerasan, sinetron dewasa atau infotainment).

Maka, diajukanlah pertanyaan-pertanyaan:Bagaimana caranya agar anak saya tidak terlalu banyak menonton TV? Apa yang saya harus lakukan jika anak saya sudah kecanduan TV? Anak saya justru suka dengan film animasi kekerasan, bagaimana dong? Dan semacamnya. 

Mengapa Lari ke TV?

Biasanya, ada beberapa penyebab mengapa anak menjadi terlalu suka TV.

Pertama, karena tak ada kegiatan lain yang harus dilakukan anak. Anak menonton untuk menghabiskan waktu. TV memberi mereka kegiatan yang dapat menyibukkan (yaitu menonton!).

Kedua, karena TV dijadikan sebagai teman. Ini umumnya terjadi pada anak yang merasa tidak memiliki teman. Menonton TV membuat seorang anak tidak merasa kesepian.

Dua penyebab di atas terkait erat dengan penyebab ketiga, yaitu faktor kebiasaan. Anak menjadi senang menonton dan menjadikannya sebagai suatu kebiasaan, karena TV mudah mereka nyalakan tanpa aturan tertentu di rumah. Ini bisa terjadi akibat tak ada kegiatan lain bagi anak atau karena anak tidak memiliki teman dan untuk mengatasi rasa kesepian anak.

Banyak anak “lari” ke TV karena mereka tidak memiliki kegiatan lain yang harus dilakukan. Mereka punya waktu luang, sementara TV tersedia di depan mereka. Ini tidak terjadi pada anak yang memiliki banyak kegiatan. Anak yang sibuk tidak punya waktu lagi untuk menonton TV. Kesibukan bisa saja karena urusan sekolah, bermain atau menjalankan hobi.

Begitu pula anak-anak yang kebingungan karena tak ada teman di rumah. Teman ini bisa anak seusianya atau orangtuanya yang mengajaknya bermain. Karena tak tahu harus melakukan apa, anak pun “lari” ke TV. Ia tinggal memencet tombol remote TV, layar TV menyala dan si anak pun anteng menonton. Bisa jadi, ia menonton dalam porsi besar, lebih dari dua jam per hari.

Jika ini rutin terjadi, jadilah anak memiliki kebiasaan menonton TV. Menarik anak dari kebiasaan semacam ini tentulah memerlukan upaya tersendiri. 

Lakukan dengan Halus

Anak dan TV adalah perpaduan yang sangat kuat. Para ahli mengatakan, tak banyak hal lain dalam kebudayaan kita yang mampu menandingi kemampuan TV yang luar biasa untuk menyentuh anak dan memengaruhi cara berpikir serta perilaku mereka. Media ini tersedia di rumah, dan tidak membutuhkan kepandaian atau usaha besar untuk mengaksesnya. Dengan kemampuan audio-visualnya, TV selalu dapat memesona anak.

 Justru, karena TV memesona anak, orangtua harus melakukan upaya tertentu untuk menandingi pesona TV ini. Pesona TV harus dikalahkan! Begitulah caranya jika kita mau menarik anak kita dari TV.

Tekniknya, orangtua harus membuat upaya tandingan yang sama memesonanya (atau bahkan lebih!) bagi anak dibandingkan TV. Upaya itu adalah membuat anak memiliki kegiatan-kegiatan lain yang membuat anak dapat melupakan TV. Beberapa di antaranya: bermain, membacakan dongeng, melakukan kegiatan rumah bersama, dan macam-macam lagi.

Kuncinya, orangtua harus menjadikan kegiatan ini sebagai kegiatan mengasyikkan bagi anak. Jangan hanya menyuruh anak, tetapi orangtua sendiri harus terlibat aktif. Jadi, mengajak anak bermain tidak dengan kalimat, “Main gih!” atau “Main sana!” tetapi, “Main yuk!” Dan orangtua sendiri tentulah ikut bermain bersama anak.

Beberapa kegiatan sehari-hari di rumah bisa sangat mengasyikkan bagi anak: memasak, menyiram kebun, mencuci kendaraan, membereskan kamar, dan sebagainya. Yang penting, anak dilibatkan dengan ajakan yang menyenangkan dan ia melakukan sesuatu sesuai umurnya.

Beberapa kegiatan prakarya juga bisa dilakukan bersama. Bermain lilin bentuk, mewarnai, membuat origami, dan menempel adalah beberapa kegiatan yang bisa sangat dinikmati anak.

Orangtua tak perlu menyatakan larangan kepada anak untuk menonton TV. Tetapi cukup dengan mengajak anak melakukan kegiatan lain yang mengasyikkan, maka anak pun sudah dapat “lepas” dari TV. Itulah cara halus menarik anak dari TV!

Jika orangtua masih mengalami kesulitan untuk melakukan kegiatan-kegiatan pengganti menonton TV seperti di atas, boleh lakukan kegiatan transisi. Apa itu? Daripada anak menonton TV, berikan kepadanya film-film VCD/DVD yang sehat.

Kegiatan itu saya sebut kegiatan transisi, sementara saja sebelum orangtua merancang kegiatan-kegiatan lain untuk anak. Jauh lebih baik mengajak anak bermain dan memiliki kegiatan yang mengembangkan imajinasi dan daya kreatifnya, ketimbang anak terus-menerus dijejali film.

Bagaimana jika kedua orangtua bekerja di luar rumah? Menjadi tugas orangtua untuk mendelegasikan kegiatan ini kepada pengasuh anak. Yang penting, orangtua mengontrol sang pengasuh dengan baik.

Dengan mendorong anak memiliki kegiatan lain di luar menonton TV dan menemani anak melakukan kegiatan itu, sebenarnya orangtua telah menyibukkan anak sekaligus mendekatkan hubungan emosionalnya dengan anak. Sekaligus, orangtua telah menumbuhkan kebiasaan yang sangat sehat: anak tidak mencandu TV.

Apakah ini melelahkan bagi orangtua? Saya yakin, jika hal ini dilakukan dengan kesadaran penuh dan tekad kuat untuk memberikan yang terbaik bagi anak, kegiatan “mengalihkan anak dari TV” ini sama sekali tidak melelahkan.

Nina M. Armando/ummionline
yy/nabawia.com