21 Syawal 1443  |  Senin 23 Mei 2022

basmalah.png

Hati-hati, "Hyperparenting" Bisa Berdampak Buruk Bagi Anak dan Orangtua

Hati-hati, "Hyperparenting" Bisa Berdampak Buruk Bagi Anak dan OrangtuaFiqhislam.com - Menjadi orangtua dengan pola asuh hyperparenting bisa berdampak bagi tumbuh kembang anak, yang ujung-ujungnya akan merugikan Anda sebagai orangtua. 

Segala sesuatu yang berlebihan tentu akan membawa dampak yang buruk, begitu pula dengan hyperparenting. Cara pengasuhan yang terlalu perhatian dan selalu terlibat terhadap kegiatan anak membuat anak cenderung kurang mendapatkan kesempatan untuk berkembang secara alami. Sehingga waktu dan kegiatan mereka benar-benar dimonitor oleh orangtuanya, sehingga anak justru kurang kesempatan untuk membuktikan kemampuannya.
 

Dan ini adalah ciri-ciri orangtua dengan pola asuh hyperparenting:

1. Teliti dan cermat terhadap apa yang dilakukan oleh anak hingga sangat terlibat dalam berbagai aspek kehidupan anak.
 
2. Contohnya, mereka tahu betul apa saja yang dimakan oleh anaknya, berapa sendok makan anak, berapa lama waktu makan atau makan dengan cara apa.
 
3. Memberi stimulasi berlebihan pada anak atau balita, padahal ia tidak merespon. Anak tidak merespons bukan karena mengabaikan atau bodoh, melainkan karena kemampuannya memang masih terbatas sesuai usianya. Misalnya, anak belum mampu menggunakan toilet, tapi terus saja dilatih bahkan dipaksa atau dimarahi jika tidak berhasil atau menolak melakukannya.
 
4. Harus sama. Mereka akan berusaha menyamakan pengasuhan yang dilakukan asistennya di rumah, bahkan menyamakan pengasuhan yang dilakukan kakek atau nenek si anak. Padahal, normalnya pasti terdapat  perbedaan-perbedaan pola asuh meski memiliki tujuan akhir yang sama.
 
5. Cemas berlebihan pada apa yang terjadi atau dialami anak. Misalnya, saat anak menginap di rumah neneknya, maka Anda bisa berkali-kali menelpon hanya untuk menanyakan keadaan anak, apa yang dimakan, apa yang dimainkan dan tak lupa menitipkan sederet larangan untuk anak.
 
6. Membandingkan anak dengan anak lain secara ekstrim, meskipun tahu bahwa setiap anak memiliki kesiapan berbeda untuk belajar sesuatu.
 
7. Kerap kecewa dan terpukul jika anak balita gagal merespon stimulasi yang diberikan atau melakukan kesalahan. Selain itu selalu merasa kurang dan tak bisa memberikan yang terbaik bagi anak.
 
8. Berperilaku tak masuk akal seperti meminta anak untuk tidak bermain seharian dan memaksanya mengerjakan suatu kegiatan yang dianggap positif seperti terus-menerus belajar membaca, menulis dan berhitung.
 
Ada akibat dari pola asuh hyperparenting ini, yaitu
 
Akibat jangka pendek:
1. Anak lebih mudah marah
2. Kerap membangkang atau tidak mau menuruti perkataan orangtua
3. Jika diberi perintah akan berlama-lama mengerjakannya
4. Kerap terlihat kurang bersemangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
 
Akibat jangka panjang:
1. Anak cenderung kurang inisiatif, karena seluruh hal yang dilakukannya mayoritas atas arahan dan perintah orangtua.
 
2. Kurang mampu merefleksikan diri, karena tak ada waktu untuk berpikir mandiri. Semua hal dalam hidupnya sudah dipikirkan oleh orangtua dan anak juga kerap menerima kritik dari orangtua jika yang dilakukannya tidak sempurna atau sesuai keinginan orangtua.
 
3. Kurang memiliki pemahaman tentang diri sendiri, sehingga anak tidak mengenal kelebihan dan kekurangan dirinya.
 
4. Anak juga kurang memahami apa keinginan dan kebutuhannya, bahkan hal apa saja yang disukai dan tidak disukainya.
 
5. Sedikit bicara dan kurang ekspresif, karena terbiasa mendengar bukan didengar.
 
6. Bukan tidak mungkin anak akan mengalami depresi yang terkadang tak disadari oleh orangtua atau orang-orang di sekelilingnya.
 
Akibat bagi orangtua: 
1. Sering cemas.
2. Kehilangan waktu untuk dirinya sendiri.
3. Kurang menikmati proses pengasuhan.
4. Banyak bertengkar dengan sesama pengasuh, misalnya ibu bertengkar dengan ayah karena dianggap kurang mendukung atau dianggap berbeda pandangan.
5. Lebih mudah stres.

yy/aktual.co