8 Jumadil-Awwal 1444  |  Jumat 02 Desember 2022

basmalah.png

Orangtua Disarankan untuk ‘Membaca Keras’ kepada Bayinya

Orangtua Disarankan untuk ‘Membaca Keras’ kepada Bayinya

Fiqhislam.com - Selain diminta untuk memberi air susu ibu dan melakukan imunisasi, para dokter juga menyarankan para orangtua untuk membacakan kepada bayi mereka sejak lahir. Demikian rekomendasi yang disampaikan American Academy of Pediatrics (24/6).

Dari penemuan bahwa bagian penting dari perkembangan otak terjadi dalam tiga tahun pertama kehidupan anak, dan membacakan kepada anak-anak akan meningkatkan kosakata dan keterampilan komunikasi penting lainnya, organisasi yang mewadahi 62.000 dokter anak di Amerika Serikat ini meminta anggotanya untuk ikut memberi saran kepada kepada para orangtua saat berkunjung ke dokter agar membacakan dengan suara keras kepada bayinya.
 
“Kegiatan ini kita lakukan setiap kali kita sedang bersama dengan anak-anak,” kata Dr Pamela High, yang merumuskan rekomendasi tersebut, seperti dilaporkan The New York Times, Selasa (24/6/2014). Para dokter anak diminta untuk memberitahu para orang tua agar membacakan kepada anak-anaknya sejak mereka bayi saat “berada dalam aktivitas keluarga yang menyenangkan sehari-hari”.
 
Rekomendasi ini dikeluarkan pertama kalinya oleh organisasi dokter anak tersebut sebagai bagian memberikan pendidikan keaksaraan awal pada bayi.  Sebelumnya organisasi telah mengeluarkan rekomendasi agar para ibu menyusui bayi mereka dan menyarankan orang tua menjauhikan anak-anak dari layar (televisi, komputer, atau tablet) sampai setidaknya anak berusia dua tahun.
 
Bagi orangtua berpendidikan tinggi yang suka membacakan puisi dan bermain (musik karya) Mozart kepada anak-anak mereka saat masih dalam rahim, dianggap telah menjalankan rekomendasi ini. Tetapi penelitian menunjukkan, orangtua yang tidak membacakan untuk anak-anak mereka sesering yang disarankan peneliti dan para pendidik, akan menjadi sesuatu yang menyulitkan bagi anak dalam proses pengembangan keterampilan prakeaksaraan. Keterampilan ini dianggap dapat membantu anak-anak sukses saat mereka masuk sekolah.
 
Membaca, sebagaimana juga berbicara dan bernyanyi, dipandang sebagai bagian penting dalam meningkatkan jumlah kata yang didengar anak-anak di tahun-tahun awal kehidupan mereka. Hampir dua dekade lalu, sebagaimana hasil studi yang sering dikutip, menemukan bahwa anak-anak usia tiga tahun dari kalangan orang kaya, telah mendapatkan jutaan kali lebih banyak kata-kata dari orangtuanya dibanding anak-anak dari orangtua yang kurang berpendidikan, dan orang tua berpenghasilan rendah. Anak-anak yang mendengar kata-kata lebih banyak, akan memberi keuntungan berbeda saat mereka masuk sekolah.
 
Penelitian baru ini menunjukkan, kesenjangan dini ternyata telah muncul saat anak berusia 18 bulan.
 
Menurut survei kesehatan anak yang dilakukan Pemerintah Pusat (Amerika Serikat), 60 persen anak-anak dari keluarga dengan pendapatan berada 400 persen di atas ambang kemiskinan telah mendapatkan bacaan sejak mereka lahir sampai usia 5 tahun, dibandingkan sekitar sepertiga dari anak-anak dari keluarga hidup di bawah garis kemiskinan.
 
Sementara terhadap orang tua dari semua tingkat pendapatan yang telah memberikan smartphone dan tablet untuk bayi mereka, yang hanya memahami bagaimana mereka menggeser halaman tanpa memahami isinya, upaya membaca keras kepada anak-anak dapat menjadi usaha yang sia-sia.
 
“Realitas dunia saat ini bahwa kita sedang bersaing dengan media digital portabel,” kata Dr Alanna Levine, seorang dokter anak di Orangeburg, New York “Untuk itu kita mengingatkan orang tua terhadap alat dan alasan, mengapa hal-hal dasar semacam buku tetap menjadi penting.”
 
Membaca dengan suara keras juga merupakan cara untuk melewatkan waktu bagi orang tua bersama bayinya yang selalu mengoceh tak ada lelah. “Ini cara mudah berbicara yang tidak melibatkan berbicara dengan contoh hal-hal yang ada di luar rumah,” kata Erin Autry Montgomery, ibu dari seorang anak 6 bulan yang berdomisili di Austin, Texas.
 
Anak-anak dari orang tua berpenghasilan rendah hanya sedikit mendengarkan orangtuanya membacakan untuk mereka, sebelum akhirnya sang anak mendapatkan pendidikan formal.
 
“Kami menemukan keluarga yang tidak membacakan untuk anak-anak mereka. Juga tidak ada buku di rumah,” kata Elisabeth Bruzon, seorang koordinator di kota Fairfax untuk Home Instruction for Parents of Preschool Youngsters, lembaga LSM yang mengunjungi keluarga berpenghasilan sedang yang memiliki anak-anak usia 3 sampai 5.
 
Kelompok dokter anak berharap, dengan mendorong orang tua untuk membaca sesering dan awal mungkin, mereka dapat membantu mengurangi kesenjangan akademik, sebagaimana terjadi di kalangan keluarga kaya dan penghasilan rendah, serta di antara kelompok etnis.
 
“Jika kita bisa memberikan 1.000 hari pertama kehidupan yang benar,” kata Dr Dipesh Navsaria, asisten profesor pediatri di Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Universitas Wisconsin, “kita benar-benar akan menghemat banyak masalah di kemudian dan hanya melakukan jauh lebih sedikit perbaikan.”
 
Dr Navsaria adalah direktur medis dari Wisconsin untuk Organisasi Reach Out and Read, satu kelompok LSM beranggotakan 20.000 dokter anak di AS yang memberikan buku-buku untuk keluarga berpenghasilan rendah. LSM ini bekerja sama dengan Too Small to Fail, suatu lembaga yang didirikan bersama antara organisasi nirlaba Next Generation dan Yayasan Bill, Hillary, dan Chelsea Clinton yang bertujuan menghapuskan ‘kesenjangan kata’.

Pada pertemuan tahunan ‘Clinton Global Initiative America’ di Denver, Selasa, Hillary Rodham Clinton mengumumkan bahwa Scholastic, satu penerbit buku anak-anak, akan menyumbangkan 500.000 buku untuk Reach Out and Read. Too Small to Fail juga akan mengembangkan bahan-bahan yang akan didistribusikan kepada anggota American Academy of Pediatrics untuk membantu mereka menekankan pesan kepada orangtua untuk melakukan ‘membaca keras’. [yy/nabawia.com]