4 Jumadil-Awal 1443  |  Rabu 08 Desember 2021

basmalah.png

Hypnoparenting, Membentuk Anak dengan Hipnosis

Hypnoparenting, Membentuk Anak dengan Hipnosis

Fiqhislam.com - Psikiater anak, Erwin Kusuma, memiliki saran bagi orang tua yang kesulitan mengatur tingkah anaknya, yaitu lewat hypnoparenting. Berasal dari kata hipnosis--keadaan seperti tidur--dan pengasuhan, cara ini mengandalkan komunikasi alam bawah sadar antara orang tua dan anak.

Materi dan cara hipnosis, ujar dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu, menyesuaikan kebutuhan orang tua dan tahap perkembangan anak. "Saat anak di dalam kandungan, hypnoparenting dilakukan dengan komunikasi lewat pikiran sang ibu," tuturnya kepada Tempo, seperti ditulis Koran Tempo, Senin, 18 Agustus 2014.

Selanjutnya, pada 2 sampai 11 tahun, hypnoparenting dilakukan dengan penanaman kata-kata positif dan bersifat dukungan, ditambah sugesti dari pikiran orang tua. Adapun saat si anak masuk usia remaja, hypnoparenting mesti bersifat informatif dan mengedepankan diskusi, dibarengi dengan sugesti.

Pola pengasuhan ini diyakini mampu mengatasi anak yang sulit makan, kerap mengompol, terlalu agresif, ataupun ogah belajar. "Perilaku-perilaku unik anak tersebut bisa disembuhkan, karena ia masih mudah dipengaruhi oleh lingkungannya," tutur Erwin.

Pakar kesehatan jiwa dari Universitas Madhuban, India, ini mengatakan pengucapan kata-kata positif seperti "pintar", "baik", dan "rajin" berpengaruh pada perilaku anak jika diucapkan terus-menerus oleh orang tua. Sebaliknya, orang tua jangan sampai mengucapkan kata-kata negatif, meski tujuannya baik. Alih-alih mengatakan "jangan malas belajar", misalnya, orang tua disarankan berucap "rajin belajar, ya", karena kata "malas" bersifat negatif.

Ucapan-ucapan tersebut berlaku tidak hanya via verbal, tapi juga lewat pikiran. "Apa yang dibayangkan atau dipikirkan orang tua akan terjadi pada si anak," ujar Erwin. "Makanya, pantang sekali orang tua memikirkan hal negatif tentang anaknya."

Lalu, kapan tepatnya orang tua melakukan hypnoparenting? Erwin menjelaskan, pada dasarnya, hypnoparenting bisa dilakukan kapan pun sesuai dengan kebutuhan, asalkan konsisten. Namun dia menyarankan agar hypnoparenting dilakukan ketika orang tua berada dalam keadaan santai dan anak sedang rileks, lelah, sakit, menyusu, atau butuh bergantung.

Hypnoparenting, Bagaimana Cara Kerjanya

Adhi Susilo gundah. Pada 2001, putra lelakinya mengalami gangguan syaraf hampir di sebagian tubuhnya (tourette syndrome). Sudah beberapa ahli telah ia datangi untuk menyembuhkan putra kesayangannya tersebut. Namun hasilnya tetap tak memuaskan. Beberapa dokter menyebutkan penyakit si anak belum ada obatnya. Penyakit syaraf tersebut membuat si anak mengeluarkan gerakan atau suara spontan yang tak bisa dikontrolnya.

Lama-kelamaan, penyakit tersebut membuat si anak stres dan memilih untuk tidak masuk sekolah karena kerap diejek temannya. Setelah hampir putus asa menghadapi penyakit sang anak, belakangan, Adhi mencoba belajar teknik penyembuhan menggunakan hypnoparenting.

"Hasilnya, saya bisa menyembuhkan stres si anak dalam waktu tiga pekan," ujarnya saat ditemui di klinik miliknya di Jalan Wira Angun-Angun, Bandung, akhir pekan lalu. Penyakit itu tidak pernah kumat lagi dan si anak kini jadi pilot di maskapai nasional.

Siapa sangka, kejadian tersebut telah membelokkan nasib pria lulusan teknik elektro di Institut Teknologi Bandung ini menjadi seorang terapis yang ahli di bidang hypnoparenting. Berbekal ilmu hypnoparenting yang telah ia kuasai setelah mengikuti pelatihan bidang itu di dalam dan luar negeri, ia bisa menyembuhkan ribuan anak-anak dengan berbagai keluhan.

Hypnoparenting sendiri adalah sebuah pola pengasuhan yang menggunakan metode hipnosis. Ia menuturkan hypnoparenting bertujuan menyugesti anak sesuai dengan masalah yang diderita. Metode terapi ini bertujuan menanamkan sugesti positif untuk mengubah perilaku si anak. "Ada yang asalnya nakal bisa menjadi baik, ada yang manja jadi percaya diri. Tergantung apa yang diinginkan oleh orang tuanya," kata Adhi.

Keberhasilan metode ini bergantung pada penerapan berkelanjutan yang dilakukan orang tua di rumah. Pada terapi hypnoparenting, orang tualah yang pertama dijadikan obyek wawancara. "Orang tua harus terbuka tentang semua hal dari kondisi latar belakang si anak hingga lingkungan sosialnya," tutur Adhi. "Karena sangat mungkin memori negatif si anak waktu dari kecil terbawa hingga ia beranjak dewasa."

Dari situ, seorang terapis bisa mendiagnosis masalah pada anak. Kemudian, baru anak yang diwawancara, lalu disimpulkan. Hasil diagnosis tersebut diberikan kepada orang tua, yang selanjutnya diberi petunjuk untuk menjalankan metode hipnosis di rumah. Caranya tidak lepas dari berkomunikasi, mendidik, membimbing, mengubah kebiasaan, dan menyugesti si anak berdasarkan permasalahan anak.

Menurut Adhi, banyak orang tua yang keliru dalam berkomunikasi dengan anaknya. Pada usia dini, anak kebanyakan menggunakan otak kanan yang dominan menggunakan perasaan. "Berbeda dengan orang dewasa yang cenderung logis," katanya.

Pada intinya, orang tua harus menanamkan sugesti postif pada anaknya. "Yang juga harus diperhatikan adalah memahami perkembangan si anak dan, jika perlu, melibatkan orang yang dekat dengan anaknya, misalnya guru atau kakak dan adiknya," ujar Adhi. [yy/tempo.co]