22 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 28 Oktober 2021

basmalah.png

Mungkinkah Aksi Banci di TV Pengaruhi Kecenderungan Anak?

Mungkinkah Aksi Banci di TV Pengaruhi Kecenderungan Anak?Fiqhislam.com - Tayangan televisi terus terang membuat orang tua khawatir. Terutama bila anak melihat aksi laki-laki berpakaian perempuan, atau sebaliknya. Mungkinkah tayangan televisi itu mempengaruhi tumbuh kembang anak?

“Kalau dari tontonan saja, dampaknya tidak sebesar itu (menjadi kaum Lesbian,Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT), red). Namun lebih ke faktor pengawasan orangtua,” ujar spesialis komunikasi orangtua-anak, Hana Yasmira, Kamis (4/2).

Hanna mengatakan orangtua wajib mengawasi tayangan apa yang dilihat anak di televisi. Misalkan seorang anak yang sedang menonton tayangan dengan adegan pria yang lemah gemulai, orangtua harus mengingatkan jika hal itu dilarang agama.

“Dia bisa mengingatkan sang anak, kalau laki-laki berpakaian perempuan dilarang agama. Atau itu dilakukan hanya sebatas akting,” kata dia.

Namun, Hana menuturkan kebanyakan film di TV menggunakan sosok pria kewanita-wanitaan sekedar untuk lucu-lucuan. Selain itu, masih jauh dari memperkenalkan orientasi seks, karena ada faktor sensor di televisi.

Namun, yang ditakutkan Hana bukan karena adegan-adegan tersebut dapat membuat orientasi seksual anak menyimpang. Melainkan, bila menunjukkan hal itu di publik, dapat memicu  anak menjadi sosok yang melakukan perisakan atau bullying.

“Yang saya lebih takutkan, sang anak akan membawa sifat bullying ke dalam dunia nyata,” tutur dia.

Karena konteks ditampilkan banci di dalam TV, memang sengaja untuk menjadi korban lucu-lucuan. Umumnya juga dalam tayangan diperlihatkan mereka yang berbeda lalu akan menjadi korban perisakan orang lain.

Angka Tontonan Anak tak Layak Meningkat

Hak anak dalam penyiaran tayangan televisi semakin hari semakin terabaikan. Terbukti dengan minimnya proporsi tayangan untuk anak di stasiun televisi. Ditambah makin parah dengan isi tayangan yang tidak ramah terhadap anak.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Maria Ulfah Anshor menilai perlu adanya kanal atau program khusus anak dalam tayangan televisi. Menurutnya, hal itu penting agar anak mendapatkan tayangan yang sesuai dengan haknya sebagai anak.

"Selama ini nyaris tidak ada, yang ada hanya di TV pemerintah, itu pun kecil porsinya," kata Maria dalam diskusi 'Perlindungan Anak Dalam Regulasi Penyiaran' di Gedung Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, Kamis (4/2).

Ia mengatakan, selama ini hampir seluruh tayangan yang disuguhkan program di televisi berisi kekerasan, pornografi, dan mistis, yang tidak sedikit berpengaruh terhadap perilaku anak. Pemantauan KPAI, kekerasan atau pelecehan seksual kepada anak hampir semua disebabkan karena tayangan televisi.

"Angkanya meningkat dari tahun ke tahun, dan banyak karena pengaruh tontonan atau media lain selain TV," kata Maria.

Terlebih kata Maria, peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) juga tak begitu kentara dalam hal menghentikan tayangan tak ramah untuk anak. Sehingga penting untuk KPI untuk konsisten memberikan teguran kepada tayangan yang diketahui melanggar ketentuan.

"Memperkuat pemantauan dan pengawasan setiap penindakan terhadap media yang melakukan pelanggaran pemberitaan atau tayangan tak ramah anak," katanya.

Selain itu, ia juga menekankan, ini juga yang perlu menjadi perhatian dalam merevisi UU Penyiaran, khususnya perlindungan bagi anak.

"Tidak hanya KPI juga, tapi bagaimana pendekatan multi sektor ya, karena untuk mengubah kan harus sistemik. Termasuk revisi UU penyiaran, ditekankan untuk tayangan perlidungan anak," kata dia.

Hal sama diungkapkan Direktur lembaga riset media dan komunikasi Remotivi Muhammad Heychael yang menilai negara belum hadir dalam menyajikan tayangan ramah terhadap anak. Menurutnya, negara harus hadir dan memastikan bahwa penyiaran sebagai wilayah publik bukan privatisasi oleh kapitalisme pemilik modal. [yy/republika]