10 Muharram 1444  |  Senin 08 Agustus 2022

basmalah.png

Cinta Orang Tua Bentuk Watak Dan Bantu Anak Atasi Stress

http://1.bp.blogspot.com/_2I2Mg0lkxhM/SxNX1XcKlmI/AAAAAAAAABo/PcYok1nIlCI/s1600/k.jpg

Di usia balita, bukan hanya kebutuhan gizi saja yang wajib menjadi perhatian para orangtua. Inilah saat yang paling tepat menanamkan rasa cinta dan kasih sayang karena dampaknya akan terus terbawa hingga dewasa.

Meski bayi belum dapat membalas ucapan ayah ibunya, ia dapat menangkap rasa cinta yang disampaikan melalui tatapan, usapan, dan pelukan. Dan, ekspresi cinta yang ditangkapnya akan menjadi modal baginya untuk mengembangkan kekuatan emosional yang kelak membantunya mengatasi stres.

Karena itulah, para pakar menilai ikatan batin antara ibu dan anak menjadi kunci yang menentukan apakah seseorang akan tahan uji melewati berbagai fase kehidupan. Namun, sikap kasih sayang yang ditunjukkan secara berlebihan juga tidak disarankan karena bisa membuat anak merasa terganggu dan malu, terutama ketika anak mulai beranjak besar.

"Kasih sayang yang dicurahkan orangtua kepada anak bukan hanya mengurangi stres, tetapi juga membantu mengembangkan keterampilan sosialnya yang kelak membantunya di usia dewasa," kata Dr Joanna Maselko.

Dalam risetnya, Maselko dan timnya mengamati 500 orang di Amerika sejak mereka bayi hingga dewasa. Ketika para responden itu masih bayi, peneliti menilai respons ibu mereka terhadap emosi dan kebutuhan anak. Misalnya menilai apakah terdapat interaksi yang hangat antara keduanya.

Tiga puluh tahun kemudian, para peneliti meminta para responden yang kini sudah dewasa itu untuk mengikuti survei mengenai emosi dan perasaan. Ternyata, responden yang dilimpahi kasih sayang oleh ibunya mampu mengatasi tekanan hidup secara lebih baik. Mereka juga mampu mengatasi kecemasan dan emosi negatif.

Dr Terri Apter, psikolog dari Cambridge yang sering melakukan studi mengenai hubungan ibu dan anak, mengatakan, orangtua harus bersikap responsif terhadap kebutuhan anak. "Setiap bayi lahir tanpa tahu bagaimana mengatur emosi mereka. Mereka mempelajari emosi dari kesusahan dan juga ketenangan yang didapatnya," katanya.

Ibu yang responsif, lanjut Terri, paham apakah perhatian yang diberikannya sudah cukup atau kurang. "Ibu yang responsif bukan cuma tahu kapan harus memberi perhatian, tetapi juga kapan harus menjaga jarak," ujarnya.

Seorang anak tidak akan bisa merasakan dan menikmati cinta dan kasih sayang orang tuanya, jika tidak dibuktikan. Bagaimana membuktikannya ? disini akan dibahas satu persatu kiat apa yang bisa dilakukan untuk membuktikan cinta ibu (orangtua).

Kelembutan

Anak bagaikan kertas putih bersih, tergantung pada orangtuanya, mau ditulis dengan tinta warna merah, hijau atau kuning. Orang tua terlalu cepat memvonis anak nakal, malas, bandel atau bahkan durhaka terhadap anak-anaknya sendiri, padahal merekalah yang paling dominan membentuk karakter dan kepribadiannya. Kalaupun itu benar, bukankah para orang tua yang lebih bertanggung jawab atas sifat-sifat buruk itu?

Cara terbaik untuk membuat anak bisa lebih dekat adalah dengan mendidik dengan lemah lembut, tidak keras dan kasar. Lemah lembut dalam hal ini sama sekali bukan berarti harus menuruti semua keinginan anak. Orang tua terlebih dulu memahami pendapat dan keinginan anak yang sering konyol dan tidak masuk akal, kemudian dengan penuh kasih sayang mengarahkannya untuk mengatasi batas antara boleh dan tidak.

Menawarkan Kebaikan

“Anak biasanya memberikan tanggapan yang lebih baik bila diberi senyum dan diajak bicara dengan sikap hangat dan penuh kasih sayang”, tulisDr.Bursteln dalam buku Dr. Busteln’s Book on Children.

Sydney D.Craig pun menegaskan pendapat itu dengan bukti dan argumentasi yang kuat. Orang tua harus tetap menunjukkan kasih sayang walau disaat anak sedang melakukan kesalahan, justru pada saat itulah waktu yang tepat untuk menunjukkan kasih sayang.

Pahami Alasan Anak

Perintah bersikap lembut juga berlaku bagi orang tua yang menginginkan anaknya patuh. Perlu diketahui bahwa semua anak mempunyai harga diri sebagaimana layaknya orang dewasa. Mereka tidak ingin harga dirinya terinjak-injak, walaupun oleh orang tua nya sendiri. Mereka tetap ingin menjaga harga dirinya, walaupun harus dengan cara melawan. Inilah hakekat manusia  yang tidak hanya berlaku pada orang dewasa saja, tapi juga pada anak-anak.

Anak-anak mempunyai dunianya sendiri, salah dan benar mestinya diukur dari dunia mereka dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan jiwanya. Bisa jadi menurut orang tua tindakan anaknya kesalahan fatal, tapi menurut anak-anak hal itu bukan kesalahan. Mereka mempunyai alasan sendiri kenapa mereka melakukan itu. Tidak usah menjelek-jelekkan anak anak dengan tuduhan malas dan bandel, tidak usah pula mengungkit-ungkit kesalahan mereka yang sebenarnya mereka sendiri pun tahu, bicaralah dengan lembut dan nada yang tenang sambil tetap memberi senyuman.

Menahan Emosi

Kekasaran kata-kata dan kebiasaan marah, bisa dikarenakan orang tua tidak bisa menahan emosi. Padahal ketika berada dalam kondisi jiwa yang stabil, tidak terlalu sulit untuk bisa bersabar dan bersikap lemah lembut. Sayangnya, tugas dan kewajiban menangani tugas rumah tangga yang begitu berat, sebagai rutinitas yang membosankan dan menghabiskan waktu lama dapat memperlemah kondisi kejiwaan ibu. Sehingga menjadi emosional dan cepat marah.

Dibandingkan dengan berbagai jenis pekerjaan lain, profesi ibu rumah tangga memang memiliki resiko kebosanan tingkat tinggi. Karena ibu harus menempuh profesi tersebut selama 24 jam penuh sehari dikantor dan rumah yang sama pula, hanya pindah dari kamar satu ke kamar satunya. Orang-orang yang dijumpainya pun tak berganti dari hari ke hari selama bertahun-tahun. Kondisi pekerjaan yang mengenaskan ini diperparah lagi dengan ketidakpedulian suami serta masyarakat yang kerap melupakan, tidak mempedulikan kerja berat ibu atau istri. Masyarakat masih menilai pekerjaan rumah tangga rendah dan sepele.

Konflik antara suami dan istri juga meramaikan suasana rumah menjadi lebih panas. Banyak kaum ibu yang tak mempunyai penyaluran yang baik  untuk meredam emosinya, sehingga menjadikan anak sebagai pelampiasan emosi. Ada pula ayah ibu yang berperilaku kasar karena watak dan karakter dasar yang membentuk kebiasaan hidupnya. Mereka yang dididik dalam keluarga militer yang keras misalnya, besar kemungkinan akan tumbuh dengan kepribadian kaku dan keras. Ada kecenderungan orang tua semacam itu akan berlaku keras dan kasar kepada anak-anaknya.

Selain itu, karakter dasar bisa terbentuk oleh lingkungan, terpengaruh oleh adat dan budaya yang masyarakatnya memang kasar. Beberapa bangsa dan suku bangsa di Indonesia memiliki budaya hidup yang lebih keras dan kasar dibandingkan suku yang lain. Penyebabnya bisa jadi karena tantangan hidup yang dihadapinya mengharuskan mereka berperilaku seperti itu.

Karakter dasar yang keras, kasar dan emosional tersebut bisa jadi akan merusak pola pendidikan anak. Itulah sebabnya, terhadap diri sendiri para orang tua sebaiknya instropeksi diri dan mampu merubah karakter kasar yang merugikan tadi sebelum menularkan kepada anak-anaknya. (fn/km/bs/suaramedia.com)