7 Rajab 1444  |  Minggu 29 Januari 2023

basmalah.png

Pendidikan Seks Selalu Dianggap Tabu

http://1.bp.blogspot.com/_P7rqcv8DuQ0/SvqxUG0o5NI/AAAAAAAAAHs/XPDBNAjgcOw/s320/1069414_gender_symbols.jpg

Meksi banyak orangtua moderen saat ini mulai memberikan pendidikan seks pada anaknya sejak dini agar si anak paham, tapi sebagian besar orangtua masih menganggap pendidikan seks adalah hal yang tabu.

Secara umum, pengertian pendidikan seks adalah upaya pengajaran, penyadaran dan pemberian informasi tentang masalah seksual. Salah satu informasi yang diberikan adalah pengetahuan tentang fungsi organ reproduksi dengan menanamkan moral, etika, komitmen agam agar tidak terjadi 'penyalahgunaan' organ seksual tersebut.

Dengan demikian, pendidikan seks dapat dikatakan sebagai cikal-bakal pendidikan kehidupan berkeluarga yang memiliki makna sangat penting.

Para ahli psikologi menganjurkan agar anak-anak sejak dini hendaknya mulai dikenalkan dengan pendidikan seks yang sesuai dengan tahap perkembangan kedewasaannya.

"Tapi karena tidak terbiasa dibicarakan, akhirnya pendidikan seks dianggap hal yang tabu," ujar Sani B Hirawan, MPsi dalam acara Smart Parents Conference di Jakarta Convention Center, Jakarta, Minggu (1/8/2010).

Menurut Sani, pendidikan seks seharusnya mulai dibicarakan sejak usia dini sampai dewasa, tapi sesuai dengan perkembangan usianya.

Tujuan dari pendidikan seks juga disesuaikan dengan perkembangan usia, yaitu sebagai berikut:

1. Usia balita (1-5 tahun)
Memperkenalkan organ seks yang dimiliki seperti menjelaskan anggota tubuh lainnya, termasuk menjelaskan fungsi serta cara melindunginya.

2. Usia sekolah (6-10 tahun)
Memahami perbedaan jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), menginformasikan asal-usul manusia, membersihkan alat genital dengan benar agar terhindar dari kuman dan penyakit.

3. Usia menjelang remaja
Menerangkan masa pubertas dan karakteristiknya, serta menerima perubahan dari bentuk tubuhnya.

4. Usia remaja
Memberi penjelasan mengenai perilaku seks yang merugikan (seperti seks bebas), menanamkan moral dan prinsip 'say no' untuk seks pra nikah serta membangun penerimaan terhadap diri sendiri.

5. Usia pranikah
Pembekalan pada pasangan yang ingin menikah tentang hubungan seks yang sehat dan tepat.

6. Usia setelah menikah
Memelihara pernikahan melalui hubungan seks yang berkualitas dan berguna untuk melepaskan ketegangan dan stres.

Sayangnya, banyak orangtua yang belum memahami manfaat dan tujuan dari pendidikan seks. Ada yang menganggap bahwa pendidikan seks tidak diperlukan, sebab akan memancing anak ke arah negatif.

Jelas hal ini tidak benar. Sesungguhnya dialog seks perlu dibangun dalam keluarga. Namun diakui, terkadang orangtua sulit untuk terbuka dan memulai dialog mengenai materi seks pada anak, sehingga akhirnya pendidikan seks dianggap tabu.
(ir/Merry Wahyuningsih/dtik.com)