11 Rabiul-Awwal 1444  |  Jumat 07 Oktober 2022

basmalah.png

Trik Jitu Ajari Anak Berpuasa

http://2.bp.blogspot.com/_Ikg9ARB0D88/S5j9WsWBG6I/AAAAAAAAABg/b5Y9UGCM-s0/s320/anak-puasa.jpg

Disaat anak belum mendapatkan pendidikan sebelum memasuki masa sekolahnya, saat itulah peranan orang tua menanamkan kehidupan sosial, moral, termasuk penanaman nilai-nilai agama.

Mendidik anak untuk mendapatkan pengajaran tentang agama memang wajib dilakukan, sama halnya dengan salat, puasa pun diwajibkan bagi mereka yang mampu.

Psikolog Keluarga dari Kasandra & Associates, Kasandra Putranto MPsi menuturkan bahwa menanamkan norma agama pada anak memang sebaiknya dilakukan sejak dini dan sebaiknya dilakukan dengan cara-cara menyenangkan dan ingat, tanpa ada paksaan.

”Untuk mengenalkan ajaran agama memang sebaiknya dilakukan dengan cara menyenangkan. Sama halnya pada saat mengajarkan puasa,” tuturnya.

Kasandra menyarankan agar mengajarkan puasa kepada anak dilakukan dengan cara perlahan dan bertahap. Dimulai dari mengenalkan bahwa puasa itu adalah hukumnya wajib bagi yang sudah balig.

Dan di umur anak sudah mulai bisa diajarkan berpuasa, maka kenalkanlah puasa dalam arti menahan lapar dan haus untuk waktu beberapa jam. Umumnya, pada usia lima tahun anak sudah mampu berpuasa hingga siang hari.

Dikatakan oleh psikolog keluarga dari Universitas Indonesia, Sani B Hermawan Psi, bahwa mengajarkan dan mengenalkan anak pada bulan Ramadan bisa dilakukan setelah anak bisa berdialog dua arah. Misalnya usia 2 sampai 3 tahun.

“Kenalkan istilah Ramadhan, Lebaran, bermaaf-maafan, sahur, dan lainnya, walaupun maknanya sendiri anak belum jelas. Tetapi paling tidak, dia mengenal atau familier dengan istilah tersebut,” tuturnya.

Mengenalkan puasa bisa dilakukan dengan cara yang mudah, misalnya “Ayo dik, temenin Bunda buka puasa. Ini kan bulan Ramadhan, jadi Bunda harus berpuasa”. Atau “Adik, Mama mau masak spesial buat buka puasa nanti, kamu mau mama masakin apa? Kamu mau kan ikutan puasa bareng semua keluarga.”

Dialog-dialog seperti itulah yang mudah dikenalkan pada anak dan membuat anak mengerti arti Ramadhan.

“Yang terpenting kita membuat sesuatu yang ’berbeda’ dibanding bulan sebelumnya,” tutur psikolog yang berpraktik di Kemang Timur 11 no 9 B ini.

Sani mencontohkan, saat memasuki bulan suci, orang tua bisa membuat ucapan yang ditempel di pintu dengan kata ”selamat memasuki bulan suci Ramadhan”. Hal ini bisa dilanjutkan untuk membahas makna puasa, kewajiban umat Islam, dan lainnya.

Mengenalkan bulan Ramadhan, bisa juga dilakukan dengan menceritakan cerita-cerita Islam yang terkandung makna Ramadhan, seperti cerita nabi Muhammad saat menjalani bulan Ramadhan yang diisi dengan kegiatan keagamaan.

Untuk itu, katakan juga kepada anak bahwa kegiatan di bulan Ramadhan bisa diisi dengan hal-hal yang tidak terlampau melelahkan agar latihan puasanya berhasil. Contohnya kegiatan melukis, melipat, membaca, ataupun membuat kue sederhana.

“Selain itu, yang utama juga anak diajarkan kebiasaan orang berpuasa, seperti bangun pada waktu sahur dan ikut berbuka puasa. Kalau anak sudah kuat, bisa dimulai dengan puasa setengah hari,” ungkapnya.

Jangan lupa untuk menjelaskan kepada anak manfaat melakukan puasa. Di antaranya dengan menjelaskan bahwa dengan puasa, maka anak jadi lebih bersyukur akan nikmat yang ada selama ini. Bahwa salah satu tujuan puasa ialah pengendalian diri.

Orangtua atau guru di sekolah bisa mengajarkan pengendalian diri pada saat puasa, seperti makan, minum, dan amarah. Hal itu bisa saja dilakukan agar anak pun lebih bisa mengontrol emosi. Selain itu, buat anak yang berhasil berpuasa, ada kebahagiaan dan kepuasan bahwa dia bisa mencapai suatu prestasi tertentu.

Jika anak tidak mau menuruti perintah orangtua untuk berpuasa, jangan pernah memarahi anak. Yang harus dilakukan, orang tua harus terus memberi motivasi bahwa anak bisa melakukannya, misalnya dengan puasa bertahap dari buka jam 9, 12, 2, 4, hingga jam 6 sore sampai waktunya berbuka tiba.

Agar puasa lebih menyenangkan, jangan lupa buat kegiatan yang mengasyikkan agar anak bisa mengalihkan perhatian dan terlupa bahwa dia sedang berpuasa.

“Jangan lupa beri reward sederhana, namun berarti agar terjadi penguatan perilaku, misalnya membeli masak-masakan yang bisa digunakan untuk ngabuburit,” pesan Sani.

Andhika Romadhona, 7 tahun, terlihat cemas sambil memegangi perutnya saat hari pertama puasa. Anak lelaki yang akrab disapa Dika ini mengaku lapar bukan kepalang saat itu. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 10.00 pagi. Dika sudah mengeluh kepada bundanya. Tak tega melihat buah hatinya, sang bunda pun memperbolehkan Dika untuk buka, tetapi Dika menolak dengan alasan malu dengan temannya.

"Nanti kalau aku ketahuan Farhan gimana? Aku kan malu kalau ketahuan buka, pasti diledekin teman-teman," tutur bocah kelas 2 SD ini.

Sang bunda, Tuti Aliyah, mengatakan justru sangat senang sang anak sudah mau menjalankan puasa sejak dini. Tetapi jika sudah sakit dan ternyata dipaksakannya, itulah yang membuatnya khawatir.

Berbeda halnya dengan Taufilutfi, atau yang akrab disapa Luttfi, 6 tahun. Ia dengan percaya diri mengatakan jika sudah lapar, tanpa ragu ia pun makan dan minum, kemudian melanjutkan puasanya.

"Ya wajarlah mah, namanya juga lagi latihan, nanti juga kalau aku sudah besar, aku bakal puasa seharian penuh kok," jelasnya saat ditanya sang mama mengapa Lutfi melakukan puasa yang seperti itu.

Memang bagi si kecil mengajari puasa bukan hal yang gampang. Tapi tentu saja Anda tak boleh menyerah. Melatih anak puasa sebenarnya bisa dilakukan sejak usia balita. Memang sebagai langkah awal, si kecil tak harus puasa sehari penuh. Anak bisa memulai puasa dengan puasa tengah hari. Anak juga harus diberi pemahaman soal puasa itu sendiri.

Selain menambah pendidikannya mengenai agama, anak juga diajarkan untuk hidup sehat. Mendidik anak untuk mendapatkan pengajaran tentang agama memang wajib dilakukan. Di saat anak belum mendapatkan pendidikan sebelum memasuki masa sekolahnya. Nah di sinilah pentingnya peranan orangtua menanamkan kehidupan sosial, moral, termasuk penanaman nilai-nilai tentang agama.

Lantas bagaimana menanamkan nilai agama termasuk puasa pada si kecil? Psikolog Keluarga dari Kasandra & Associates, Kasandra Putranto M.Psi mengatakan bahwa menanamkan norma agama pada anak memang sebaiknya dilakukan sejak dini dan sebaiknya dilakukan dengan cara-cara menyenangkan tanpa ada paksaan.

"Untuk mengenalkan ajaran agama memang sebaiknya dilakukan dengan cara menyenangkan. Sama halnya pada saat mengajarkan puasa," tuturnya.

Kasandra menuturkan, mengajarkan puasa pada anak dilakukan dengan cara perlahan. Dimulai dari mengenalkan bahwa puasa itu adalah hukumnya wajib bagi yang sudah akil balig.

Mengenalkan anak tentang puasa dan melatih anak untuk betul- betul mulai berpuasa itu memang beda. Sebelum anak mengerti betul tentang puasa, semisal pada umur balita sampai usia 7 tahun, bila Ramadhan akan segera tiba, orangtua bisa mengenalkan serta melibatkan anak pada kegiatan-kegiatan pada bulan Ramadhan.

Meski belum ikut berpuasa, tapi libatkan si kecil untuk ikut buka puasa bersama, tadarusan atau mengaji, salat tarawih juga sahur. Selain itu, bisa juga dilakukan dengan mendengarkan lagu-lagu tentang puasa, cerita Ramadhan atau pengalaman masa kecil orangtua saat berpuasa. Dengan cara tersebut secara tidak langsung dapat memotivasi anak untuk belajar puasa.

"Biarkan anak puasa sekuatnya, jangan dipaksakan. Atau orangtua bisa memberikan anjuran untuk melakukan puasa dengan bertahap," ucap psikolog yang juga aktif mengajar di Universitas London School of Public Relations ini.

Bertahap bisa dilakukan dengan puasa pada minggu pertama selama 4-5 jam. Bila sudah kuat, tambah jam puasa menjadi 6 jam pada minggu ke-2. Kemudian menambahnya lagi menjadi 9 jam untuk minggu-minggu berikutnya. Atau melatih puasa pada anak bisa juga dilakukan dengan melihat dari umur anak. Semisal anak masih balita, jika anak memaksa untuk ikut puasa, 3 jam pun cukup.

"Jika anak tetap dipaksakan, maka dikhawatirkan, yang ada anak menjadi tidak mau berpuasa," tutur psikolog dari dua anak ini.

Disarankan bagi anak yang ingin berpuasa, saat sahur untuk meminum segelas teh manis dan jangan biarkan si kecil berpuasa tanpa sahur.

Dan agar kondisi tubuh anak tetap prima, sebaiknya pada malam hari anak tidur lebih awal. Didiklah anak melakukan puasa dengan rasa kasih sayang. Mendidik anak untuk berpuasa juga membantu anak mencapai kedewasaan, baik dari segi akal, ruhiyah dan fisik.

Dimulai dari kenal dan mengetahui sesuatu, kemudian anak mau dan bisa hingga akhirnya menjadi biasa memang tidak membutuhkan waktu yang sebentar. Selain waktu, juga harus diperhatikan dari kemauannya yang kuat, juga kesabaran, serta semakin awal mengajarkannya, maka semakin baik.

"Jangan pernah memaksa anak untuk melakukan kegiatan apa pun karena anak pun tidak akan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Biarkan mereka melakukan sesuai kemampuannya. Karena semakin anak besar, maka semakin tumbuh juga rasa tanggung jawab anak," pesan psikolog yang berpraktik di kawasan Pela, Jakarta Selatan ini.

fn/z2k/se)/suaramedia.com