4 Rabiul-Awwal 1444  |  Jumat 30 September 2022

basmalah.png

Autisme Bisa Dideteksi dengan Pemindai Otak

Autisme Bisa Dideteksi dengan Pemindai OtakFiqhislam.comIlmuwan Inggris telah mengembangkan pemindai otak selama 15 menit yang bisa mendeteksi autisme pada anak-anak. Kehadirann pemindai ini bisa memotong waktu pemeriksaan dan biaya untuk mendiagnosis gangguan ini.

Peneliti dari Institute of Psychiatry di King's College London, menerbitkan rincian dari teknik yang telah diuji pada orang dewasa, dan terbukti memiliki akurasi 90% dalam mendeteksi autisme.

Anak-anak yang diduga mengidap autisme saat ini harus melalui proses tes panjang interaksi sosial, komunikasi, dan ketrampilan imajinatif. Jarang hasil diagnosis bisa diketahui sebelum 18 bulan, malah paling sering terjadi lebih dari itu.

Christine Ecker, anggota tim riset mengatakan alat pemindai ini bisa bermanfaat 'besar'. "Itu bisa membantu meringankan proses. Diagnosis emosional memakan waktu dan mahal bagi penderita ASD (autis gangguan spektrum) dan keluarga saat ini harus tahan," katanya.

"Kami sekarang berharap metode pengujian ini bisa membantu anak-anak," katanya.

Para ilmuwan Inggris berharap metode baru bisa lebih cepat dan lebih hemat biaya sampai 20 kali.

Biaya penggunaan alat pemindai ini antara US$160-US$300, jauh lebih murah daripada alternatif saat ini di Britania.

Teknik ini menilai perubahan struktural dalam otak. Alat pemindai ini akan melalui proses ujicoba selama dua tahun sebelum siap diluncurkan penggunaannya untuk umum.

Gangguan autisme dan penyakit sejenis diidap oleh enam atau tujuh dari setiap 1.000 orang. Gejala seumur hidup bisa sangat bervariasi, namun seringkali termasuk gangguan ketrampilan sosial, perilaku berulang, kesulitan dalam mengekspresikan emosi seseorang, dan keengganan untuk keintiman fisik. Belum ada obat untuk penyakit ini.

Teknik baru yang dikembangkan oleh Institute of Psychiatry melibatkan peneliti yang mengambil gambar otak dengan pemindai pencitraan resonansi magnetis. Hasil pindai direkonstruksi menjadi gambar tiga dimensi dan dianalisis dengan perangkat lunak komputer yang diprogram untuk menemukan ciri autis pada struktur wilayah otak yang berbeda.

Hasil pengujian teknik melibatkan 20 orang dewasa penderita autisme. Jumlah yang sama sebagai kelompok kontrol terdiri dari relawan yang sehat. Hasil pengujian diumumkan pada Selasa (10/8) di Journal of Neuroscience.

Semua yang mengambil bagian sebagai objek penelitian adalah laki-laki berusia 20-68. Setelah pertama diminta untuk menjalani prosedur diagnostik konvensional, masing-masing peserta otaknya dipindai. Hasil dari kedua teknik itu kemudian dibandingkan.

Metode pemindaian otak hasilnya 90% akurat bisa mengidentifikasi pasien autistik. Ini juga menunjukkan hasil negatif 80% kasus untuk kontrol sehat. [mor/INILAH.com]