5 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 29 Nopember 2022

basmalah.png

Mengatasi Fase Negativisme

Setiap anak akan mengalami fase negativisme yang ditunjukkan dengan perilaku penolakan dan membangkang. Bagaimana mengatasinya agar tak berlanjut?

Penting dipahami, semakin anak dilarang, perilaku negativitik akan semakin menjadi. Nah, agar hal tersebut tak terjadi, inilah beberapa hal yang perlu dilakukan orangtua:

  • Hindari terlalu banyak menggunakan kata "tidak" atau "jangan". Untuk melarang anak sebaiknya pilih kata positif. Contoh, "Sayang, kita main air di kamar mandi yuk sekalian mandi sore", ketimbang, "Mama kan sudah bilang, jangan main air kran. Basah semua deh."
  • Beri kesempatan pada anak untuk melakukan apa yang diinginkannya - tentu saja sejauh tidak membahayakan - tapi tetap dengan pendampingan. Misal, anak ingin membantu menyiram tanaman, sediakan gembor/gayung kecil, lalu ajari anak bagaimana menyiram tanaman dengan air secukupnya.
  • Biasakan mengajak anak berdialog sejak kecil, meski perkembangan bahasanya masih terbatas. Umpama, anak menolak permintaan orangtua, tanyakan mengapa ia tidak mau, pancing jawabannya lalu coba arahkan bagaimana seharusnya. Terlebih di usia prasekolah, umumnya penolakan anak disertai dengan alasan. Contoh, "Aku enggak mau makan. Sayurnya pahit."

Ini karena kemampuan kognitif dan bahasa anak sudah semakin berkembang, demikian juga kemampuan sosialnya. Pada usia ini anak semakin menyadari bahwa mereka dapat bertindak secara mandiri, sesuai keinginannya. Dengan kata lain anak mulai menyadari bahwa mereka memiliki kekuatan (power) untuk bertindak sesuai kehendaknya.

  • Berikan pilihan terbatas. Misal, anak tidak mau segera tidur, orangtua bisa menggunakan kata, "Adek mau gosok gigi dulu atau ganti baju dulu baru tidur?" Dengan begitu anak merasa dilibatkan saat pengambilan keputusan.
  • Hindari ancaman/paksaan. Selain membuatnya makin menolak, jadi anak belajar bahwa segala hal bisa diselesaikan dengan ancaman/paksaan bukan dengan dialog dan saling mendengarkan.

Memang masa “bandel”, “ngeyel”, “keras kepala” sudah dimulai sejak usia di bawah tiga tahun (1-2,5 tahun) dan masa ini berlanjut sampai awal remaja (pra remaja). Anak itu dalam masa mencoba mengetahui sampai di mana keinginannya bisa disampaikan atau diekspresikan.

Biasanya keinginan membangkang di usia-usia tersebut muncul karena perasaan lelah. Maka dari itu, kegiatan atau apa pun yang menarik dan menghibur si anak akan membuatnya senang dan lebih tenang. Yang jelas, kadang anak-anak membangkang itu tidak dalam rangka memaksakan kemauannya, yang menguntungkan dirinya, kadang-kadang tujuannya hanya sekedar agar ia dapat bersikap melawan pendapat orang yang lebih besar atau dewasa darinya. Bila memang seperti itu keadaannya, pembangkangan yang dilakukan pada setiap orang ya dalam rangka pelampiasan kepada setiap orang dan terhadap apa pun yang ia akan melawan.

fn/kd/km/suaramedia.com