12 Muharram 1444  |  Rabu 10 Agustus 2022

basmalah.png

Pemicu Terjadinya Hambatan Sensor Pada Otak Penyebab Autis

Pemicu Terjadinya Hambatan Sensor Pada Otak Penyebab AutisFiqhislam.comAnak Anda menderita autis, jangan langsung menyalahkan Sang pencipta. Ternyata banyak penyebab yang mengakibatkan terjadinya hambatan sensor pada otak anak hingga menyebabkan autis, salah satunya faktor polusi. Ini diungkapkan Guru Besar University of Southern California Amerika Prof Erna Blanche, PhD, OTR (Occupational Therapis) saat hadir sebagai tamu dalam workshop & seminar di Hotel Hyatt, Bandung.

"Selain faktor genetik (bisa) menyebabkan anak lahir mengidap kelainan sensor pada otak hingga menjadi autis, hal ini disebabkan hal lain yakni faktor lingkungan tempat tinggal, terutama polusi," ujarnya.

Dia menjelaskan, interaksi lingkungan dampak polusi bahan kimia hasil industri yang memenuhi udara, ternyata mampu mengubah cara kerja biosel otak anak sejak dilahirkan.

Penulis buku Best Seller "Sensory Balancing" (2008) tentang penyakit autis untuk para orangtua ini menambahkan, peluang anak dari orang yang hidup di perkotaan yang penuh polusi industri lebih besar ketimbang yang jauh dari polusi udara.

Meski demikian dia menyebutkan, belum pernah ada penelitian dilakukan di dunia apakah anak yang lahir atau tinggal di desa berpeluang lebih kecil terhindar dari kelainan autis atau tidak.

Namun hal terpenting, lanjut Blenc, penganan terbaik adalah pendeteksian anak pengidap autis dilakukan sejak dini agar bisa diintervensi dalam tindakan terapi sejak awal pula.

"Intinya bagaimana berbagai macam cara terapi bagi pengidap autis dapat membantu, agar nantinya mereka bisa hidup mandiri," ucapnya yang telah menjadi pembicara di 200 kota di dunia.

Karena sampai kini, sambungnya, hampir 90 persen riset yang dilakukan di dunia belum menghasilkan cara yang tepat untuk penanganan masalah sensor otak pada anak pengidap autis.

Sebelumnya, ratusan anak di Riau tercatat penderita autis. Salah satu penyebab munculnya autis dikarenakan kabut asap yang kerap menyelimuti provinsi itu.

Sebagian lahan di Riau merupakan kawasan gambut yang setiap tahunnya mengalami kebakaran hutan. Karena itu, pemerintah diminta untuk memperhatikan anak-anak autis.

“Salah satu penyebab anak-anak mengidap penyakit autisme adalah karena kabut asap. Selain itu faktor lainnya seperti terjadi kesalahan saat kehamilan sang ibu maupun saat persalinan,” ujar seorang psikolog anak saat mengikuti dukungan seribu tanda tangan untuk anak autis di depan kantor Wali Kota, Jalan Jendral Sudirman, Pekanbaru.

Menurut  dia, gejala yang menonjol pada penderita autis, di antaranya anak yang cenderung cuek kepada linkungan dan susah berinteraksi dengan siapa saja. Selain itu, anak penderita autis sering menjilat-jilat dinding atau suka memutar benda yang bisa dipermainkannya seperti ban mobil mainan dan kipas angin. Hal itu dilakukan sesuai dengan tingkat keparahan penyakitnya.

“Sebenarnya mereka juga diberi kelebihan yang potensial yang harus digali, seperti mereka itu pandai mengambar atau mewarnai, bermain musik,” paparnya.

Sementara itu, koordinator aksi Hamdani, mengatakan saat ini di Pekanbaru saja terdapat sedikitnya 300 anak yang mengalami autis. Menurutnya, anak-anak tersebut diberi kasih sayang dan mendapat perharian serius dari pemerintah dengan memberi mereka sekolah khusus.

Untuk menangani anak autis, lanjutnya, sudah dibentuk wadah Ikatan Terapis Special Needs Child (Ikatrasc).

“Ikatrasc adalah tempat berkumpulnya seluruh para pendidik dan terapis anak. Fungsinya antara lain memotivasi orangtua yang anaknya mengalami autis agar jangan putus asa dan menghilangkan mitos bahwa Autis identik dengan keterbelakangan,” ujar Hamdani yang juga Ketua Ikatrasc Riau.

Terapi Kualitatif Bagi Autisme

Kian kompleksnya gangguan penyakit di tengah masyarakat menuntut perhatian banyak pihak, termasuk para praktisi di bidang kesehatan. Yang lebih memprihatinkan, gangguan penyakit bukan hanya menyerang orang dewasa, tetaai juga anak-anak yag dikenal sebagai gangguan perkembangan, salah satunya yaitu autisme.

Autisme yang disebut juga sebagai geek syndrom merupakan kata yang diinduksi dari istilah suatu bidang penyakit. Artikulasi autisme yang telah diintroduksi kepada publik ada dalam berbagai sudut pandang. Autisme dipandang sebagai gangguan perkembangan neurobiologis dengan cerebal cortex, cerebellum, thalamus, hippocampus, hypothalamas. corpus collosum, cingulated gyrus, basal ganglia, spinal cord yang disertai dengan berbagai masalah, seperti masalah autoimunitas, gangguan pencernaan dan dysbiosis pada usus, gangguan integrasi sensori, keracunan logam berat (timbal, merkuri, kadmium, dan lain-lain), ketidakseimbangan susunan ada amino tubuh, dan sebagainya. Selain gangguan autoimunitas, pada anak autisme ditemukan adanya gangguan integrasi sensori. Secara spesifik, gangguan integrasi terbagi menjadi beberapa tingkat sensori, antara lain sensori sentuh, sensori pendengaran, sensori penglihatan, sensori rasa, sensori penciuman, sensori vestibule/motorik dan gravitasi yang meliputi simtom:

  1. Tidak mau melakukan kontak mata.
  2. Tidak mau berinteraksi.
  3. Keterbatasan berkomunikasi.
  4. Lamban belajar bahasa.
  5. Hiperakttif.
  6. Menjinjit atau berputar-putar.
  7. Stimulasi diri.
  8. Suka menggeleng-gelengkan kepala.
  9. Sensitif terhadap suara.
  10. Gangguan metabolisme/pencernaan dan pola tidur.
  11. Suka berteriak-teriak sendiri.
  12. Sering berbicara, tertawa atau menangis sendiri.
  13. Menggigit-gigit pensil, rambut, kuku, mainan
  14. Suka menerawang.
  15. Suka melihat benda yang kecil.
  16. Ketika mengangkat atau mengambil suatu benda, matanya selalu mendekatinya.
  17. Menyusun benda secara berbaris.
  18. Suka mencium benda.
  19. Tidak bisa duduk diam.
  20. Sering melakukan gerakan yang menggunakan tenaga kuat, misalnya berlari-lari menepuk tangan dengan keras.
  21. Tidak bisa mengkoordinasi gerakan sendiri.
  22. Tantrum.
  23. Dan sebagainya.

Sejauh ini imunisasi MMR (Measle, mumps, rubella) diduga menjadi pemicu autisme. Sayangnya hal tersebut masih menjadi kontroversi dan belum dapat dipastikan. Faktor lain yang memicu autisme diduga dipengaruhi juga oleh stimulasi lingkungan hidup yang buruk, seperti pokusi udara/air yang umumnya banyak mengandung zat-zat beracun (timbal dalam asap knalpot atau asap pabrik, merkuri atau turunan air raksa dalam vaksin, kadmium da;am batu baterai dan sebagainya), zat aditif dalam makanan, penggunaan antibiotik berlebih, virus penyakit (toksoplasma, sitomegalovirus, herpes, dan sebagainya), serta pola hidup yang tidak sehat.

Pada sebagian besar anak autisme diketemukan adanya gangguan pencernaan. Buruknya kondisi sistem pencernaan, membuat anak harus menghindari bahan makanan yang mengandung karbohidrat olahan dengan gula (gluten dan casein), dikarenakan kedua bahan makanan tersebut beserta hasil olahannya dapat meningkatkan jadar glukosa. Dalam hal tersebut selanjutnya akan mempengaruhi keseimbangan neurotransmitter (pembawa pesan ke otak) seretonin dan dopamin. Selain itu, kadar glukosa yang tinggi juga dapat memicu timbulnya peningkatan insulin dalah darah yang pada gilirannya menekan jumlah triptofan (prekusor seretonin) dan meningkatkan jumlah tirosin (prekusor dopamin) yang masuk ke dalam otak. Jika tubuh kekurangan kadar seretonin berefek depresi, berperilaku agresif dan insomnia. Sebaliknya jika kadar seretonin dalam tubuh berlebihan, berefek terjadinya rasa kantuk, lesu, gelisah dan sukar berkonsentrasi.

Sejauh ini, autisme diatasi dengan memberikan obat antipsikotik, yang berefek sebagai pengatur kadar emosional anak autisme. Padahal, pemberian obat semacam itu hanya cenderung menjadikan anak lebih pasif dan memungkinkan mengalami penurunan intelegensi. Hakikatnya anak autisme memerlukan terapi makanan bergizi atau suplemen, terapi pendengaran, terapi perilaku, terapi okupasi, terapi pelatihan dan pendidikan yang melibatkan orang tua dan keluarganya. Namun perlu diketahui, pemberian terapi secara fisik dan mental saja tidak cukup tanpa diimbangi dengan perbaikan pada sistem saraf pusat.

Menilai pada kondisi umum gangguan penyakit dan simtom autisme yang ada, dikembangkanlah sebuah terapi yang mengacu pada perbaikan sistem saraf dan otak yaitu TERAPI JARUM MULTI SUPER MUTAKHIR oleh Prof. H.M. Hembing Wijayakusuma. Sebagai jenis terapi yang memiliki mekanisme neeurofisiologis yang efektif untuk memperbaiki sistem saraf pusat otak guna memperbaiki kinerja sistem tubuh, baik itu cerebral, cortex, cerebellum, thalamus, hippocampus, hypothalamus, corpus callosum, cingulate gyrus, basal ganglia, spinal cord dan sistem saraf pusat lainnya.

TERAPI JARUM MULTI SUPER MUTAKHIR merupakan generasi baru Terapi Jarun Super Mutakhir yang memiliki mekanisme berdasarkan kinerja bioelektrik neurotransmitter. Terapi Jarum Multi Super Mutakhir memiliki kekuatan elektris yang mampu menghantarkan stimulasi lebih dari 6300 meter per detik. Media utama Terapi Jarum Multi Super Mutakhir tetap susunan saraf pusat yaitu otak dan spinal cord. Keduanya tidak lepas dari energi utama tubuh yang jika kinerjanya terganggu dapat menimbulkan kekecauan pada organ tubuh, baik secara fakultatif ataupun menyeluruh.
Terapi Jarum Multi Mutakhir mempunyai efektivitas sebagai berikut:

  1. Meningkatkan fungsi dan kinerja susunan saraf pusat
  2. Meningkatkan fungsi kelenjar dan biokimia tubuh.
  3. Meningkatkan daya ineligensi, imajinasi, konsentrasi dan kreativitas.
  4. Meningkatkan kemampuan detoksifikasi, chelation, dan ekskresi tubuh.
  5. Melakukan peremajaan sel-sel tubuh dan perbaikan pola tidur.
  6. Meningkatkan metabolisme dan sirkulasi darah serta penyerapan nutrisi.
  7. Memperbaiki dan meningkatkan kinerja sistem tubuh.
  8. Menormalkan kondisi hiper/berlebihan atau hipo.kekurangan
  9. Menurunkan tingkatan agresi dan mengatasi alergi.
  10. Menyeimbangkan kondisi internal dan eksternal tubuh.
  11. Meningkatkan kondisi tubuh secara neurofisiologis dan neurobiologis.
  12. Meningkatan imunitas tubuh termasuk antialergi dan antiradang.
  13. Meningkatkan stimulasi tubuh dan sedasi organ tubuh.
  14. Menenangkan tanpa obat penenang.
  15. Menormalkan antibodi.
  16. Memperbaiki kinerja sensorik dan motorik tubuh.
  17. dan sejumlah efektivitas lainnya.

Terapi Jarum Multi Super Mutakhir memiliki energi elektris yang dapat mengoptimalkan hantaran bioelektrik dan neurotransmitter sehingga merangsang terjadinya kontraksi otot dan bahasa tubuh seperti tampilan bicara, perilaku. kemampuan motorik, dan sebagainya. Kemampuan Terapi Jarum Multi Super Mutakhir dalam keharmonisan dan keseimbangan dalam jangka waktu yang relatif singkat. Terapi Jarum Multi Super Mutakhir terbukti memiliki solusi kualitatif yang bukan hanya efektif dan efisien, namun juga aman, tidak menimbulkan efek samping dan ekonomis. (suaramedia.com)