14 Rajab 1444  |  Minggu 05 Februari 2023

basmalah.png

Si Kecil Bak Malaikat Di Rumah, Bagai Setan Di Sekolah

http://th04.deviantart.net/fs26/300W/i/2008/125/9/5/Angel_Vs_Devil_by_byra666.jpg

Anda yang memiliki dua anak atau lebih, pasti pernah mengalami masa-masa membandingkan si sulung dengan si bungsu, atau si sulung dengan si tengah. "Saya heran, si Dita (3, bukan nama sebenarnya) ini perempuan, tapi kok 'rusuh' begini ya? Semua mainannya rusak diinjak-injak. Dia juga keras kepala sekali. Beda banget sama si Adit (8, juga bukan nama sebenarnya) waktu kecil. Dia manis sekali, kalau diberitahu ya gampang nurut," kata Yani (41), menceritakan dua buah hatinya.

Seperti pengalaman Yani di atas, Anda tak habis pikir mengapa perilaku anak-anak Anda sangat bertolak belakang. Padahal, Anda dan suami menerapkan pola pengasuhan yang sama.

Jangan terkejut bila Anda mengetahui jawabannya. Menurut Gobin Vashdev, seorang parenting motivator, inilah kesalahan umum para orangtua, yaitu membandingkan anak-anaknya. "Anak pertama dan kedua itu biasanya beda banget karakternya, tapi kita justru memperlakukan mereka dengan cara yang sama," ujar Gobin di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Setiap anak berbeda, dan orangtua seharusnya justru tahu bagaimana cara menghadapi mereka sesuai karakternya. Hal ini ada kaitannya dengan DISC profile, atau tipe kepribadian anak yang terdiri atas dominance, influence, steadiness, dan compliance.

Anak yang masuk kategori dominance, misalnya, biasanya tidak bisa diatur. Anak-anak dengan tipe dominance yang kuat adalah tipe yang menuntut, keras, egosentris, punya kemauan dan tekad yang kuat, ambisius, agresif, dan selalu ingin mendahului.

Gobin mencontohkan, bila ingin menyuruh anak mandi, Anda tidak bisa mengatakan pada anak yang dominance, "Ayo, mandi!". "Berikan pilihan pada anak, misalnya, 'Kamu mau mandi sekarang, atau mandi 10 menit lagi?'. Jadi, anak diberi pilihan untuk melakukan kegiatannya. Sebenarnya tidak ada bedanya kan, mandi sekarang atau 10 menit lagi?" katanya.

Untuk bisa "mengatur" anak tanpa disadarinya, tentu Anda harus mengetahui lebih dulu bagaimana karakternya. Setelah itu, pertimbangkan dulu cara terbaik untuk mengarahkan anak sesuai karakternya.

Lalu bagaimana bila anak beda perilaku di rumah, beda pula di sekolah. Ya, mungkin ada beberapa orangtua yang heran merasakan perbedaan perilaku buah hatinya. Di rumah bersikap manis bak "malaikat cilik", tapi di sekolah seperti "setan kecil" yang kerap berbuat onar. Atau sebaliknya, di sekolah anak tampil sebagai sosok penurut, tapi di rumah berubah jadi pembangkang.

Mengapa itu terjadi? Ada beragam penyebab. Salah satunya, si prasekolah baru saja memasuki masa transisi antara kehidupan di sekolah dan di rumah. Sebelumnya ketika di rumah, ia hanya bersosialisasi dengan orang-orang terdekat dalam lingkungannya seperti kakak, nenek, ayah, ibu, kakak, adik atau pengasuhnya.

Sedangkan ketika memasuki lingkungan sekolah, dia harus bersosialisasi dengan lingkungan yang lebih luas: guru, teman-teman, tukang kebun, dan orangtua teman-temannya. Selain itu, pada rentang usia 3-5 tahun, menurut Piaget, perilaku anak masih egosentris.

Maksudnya, anak belum memiliki kemampuan untuk mempertimbangkan sudut pandang orang lain. Segala sesuatunya masih terpusat pada dirinya sendiri. Jadi, ketika ia melakukan suatu tindakan atau perbuatan, dia tidak mempertimbangkan kepentingan orang lain.

Ketika ingin melihat pita milik temannya yang dirasa menarik, ia segera menarik pita tersebut. Dia tidak memikirkan, perilakunya itu dapat merugikan orang lain karena dapat merusak tatanan rambutnya.

Bisa juga, perilakunya itu dikarenakan anak ingin mencari perhatian, utamanya dari orang-orang yang ada di lingkungannya, baik lingkungan rumah ataupun sekolah. Ketika di rumah, si kecil dapat dengan mudah memperoleh perhatian, bahkan mungkin selalu menjadi pusat perhatian karena jumlah anggota keluarganya tidak banyak.

Berbeda ketika ia berada di sekolah, dimana 2 orang guru harus memberikan perhatian kepada kurang lebih 10-15 anak didik dalam satu kelas. Otomatis porsi perhatian yang diperoleh si kecil pun menjadi lebih sedikit. Kondisi inilah yang akhirnya menjadi pemicu si kecil "berulah", sekadar untuk mencari perhatian dari teman atau gurunya ketika di sekolah.

Bisa juga sebaliknya, anak sudah merasa mendapat perhatian ketika berada di lingkungan sekolah, namun tidak mendapat perhatian dari lingkungan rumah. Akibatnya, anak pun "berulah" agar orang-orang terdekat yang ada di rumah memberi perhatian. Akhirnya muncul anggapan, si prasekolah anak yang "penurut" di sekolah tapi "nakal" ketika di rumah.

Sebab lain, bisa jadi ia belum memahami aturan dan etika yang berlaku dalam lingkungan yang baru dimasuki. Maksudnya, aturan di sekolah tentunya berbeda dengan aturan di rumah. Ketika di rumah mungkin orangtua terlalu permisif, anak diperkenankan menggunakan barang bukan miliknya tanpa meminta izin terlebih dahulu. Aturan ini, tentunya tidak dapat diterapkan ketika di sekolah. Demikian pula sebaliknya, sehingga anak pun bersikap semaunya sendiri.

Jembatan Komunikasi
Solusi untuk mengatasi masalah ini adalah membangun jembatan komunikasi antara pihak sekolah, orangtua dan anak. Orangtua menjelaskan tentang aturan-aturan yang biasa diterapkan di rumah, perilaku-perilaku yang biasa dilakukan, dan sebagainya. Pihak sekolah juga hendaknya secara rutin memberikan informasi tentang perkembangan proses belajar, kegiatan siswa ataupun kenakalan yang dilakukan anak di sekolah.

Dengan begitu, baik orangtua maupun guru dapat mengetahui dan segera melakukan antisipasi/mencari solusi terbaik dari permasalahan yang dihadapi anak. Demikian pula sebaliknya, bila orangtua mengetahui atau menemukan perilaku atau proses tumbuh kembang yang "salah" di rumah, mereka dapat segera menginformasikan kepada pihak sekolah. Siapa tahu bukan anaknya yang salah, tapi pola asuh, disiplin, atau penyebab lainnya yang menjadi pemicu.

Bila jembatan komunikasi ini terbentuk dengan baik, maka kedua belah pihak dapat saling bekerja sama untuk mendapatkan solusi yang terbaik. Jembatan komunikasi ini sebaiknya juga diciptakan bersama anak. Ciptakan komunikasi yang harmonis antara anak dengan orangtua, juga sekolah dengan anak.

Melalui komunikasi yang baik, pihak sekolah maupun orangtua dapat mengetahui keinginan anak, hambatan, dan sebagainya, sehingga penyelesaian permasalahan yang dihadapi dapat lebih mudah dan tuntas.

Tidak sulit kok, berkomunikasi dengan anak. Lakukan dalam suasana yang akrab dan ciptakan obrolan yang santai, jangan bernada menyelidik. Mengobrol juga sekaligus dapat bermanfaat sebagai media untuk meluapkan emosi, sekaligus mengetahui penyebab ulah anak dan menyikapinya. Dengan cara itu, diharapkan perilaku negatif anak dapat diredam.

Contoh dari Orangtua
Orangtua dan orang-orang terdekat anak hendaknya dapat menjadi model yang baik. Ingat, pada rentang usia ini, anak masih meniru, sesuai dengan perkembangan kognitifnya yang masih praoperasional.

Selain itu, pastikan orangtua menerapkan aturan dan nilai-nilai positif di rumah. Orangtua juga perlu mencari tahu dari anak, aturan apa sajakah yang tidak dipahami, juga aturan apa saja yang berbeda. Selanjutnya, berikan penjelasan tentang perbedaan itu dengan bahasa yang sederhana.

Dengan memahami karakter anak sejak kecil, kita dapat mengekspresikan kasih sayang untuknya dengan porsi yang tepat.

Rasa sayang orangtua bisa ditunjukkan dengan berbagai cara: lewat senyuman, wajah yang ramah, pelukan hangat, sentuhan lembut, belaian sayang, pemberian hadiah, pujian tulus, dan sebagainya. Namun, tidak semua anak merasa cukup dengan porsi bentuk kasih sayang yang sama. Ada anak yang merasa cukup disayangi dengan tatapan ramah ayah-ibunya, tapi tak sedikit yang menuntut lebih melalui belaian dan pelukan, serta kesediaan kita bermain bersamanya.

Untuk mengetahui sejauh mana kebutuhan anak, sebagai sahabat orangtua perlu memahami karakternya. Secara garis besar ada 4 kelompok karakter yang sudah dimiliki anak sejak lahir. Karakter inilah yang memberi nuansa pada perilakunya kelak. Termasuk bagaimana cara anak menghadapi orang-orang di sekelilingnya. Karakter ini akan berpengaruh pula pada sikap yang seharusnya ditunjukkan ayah dan ibu. Apa sajakah jenis karakter yang ada? Inilah uraiannya.

1. Anak aktif

Anak model ini tidak bisa diam karena penuh energi, selalu bergerak dan senantiasa berpikir. Wajar bila ia terlihat tidak pernah lelah beraktivitas. Biasanya gerakannya terkesan spontan alias serbacepat, selalu menuruti kata hati dan mudah beralih. Mungkin sesaat ia bisa duduk manis di pangkuan ibunya sambil mendengarkan dongeng. Namun ketika melihat ada kucing melintas sambil menggerak-gerakkan ekornya, dengan cepat ia akan beranjak lalu menghampirinya.

Cara menunjukkan rasa sayang:
Biasanya anak model ini tidak terlalu menuntut untuk diperlakukan secara khusus dengan dipeluk dan dibelai secara intensif. Pasalnya, ia lebih senang diberi kesempatan untuk beraktivitas. Bahkan ia akan merasa lebih disayang bila ayah atau ibu mau bermain bersama.

2. Anak pasif

Anak dengan karakter model ini terkesan kurang energik dan lambat memberi reaksi terhadap apa pun. Ia juga terlihat mudah lelah dan hanya kadang-kadang saja menampakkan antusiasme pada permainan tertentu. Ia butuh waktu agak lama untuk mengenal hal-hal baru. Namun ketika sudah paham, ia betah berlama-lama menyelaminya. Anak dengan karakter ini biasanya punya kemampuan konsentrasi yang cukup baik.

Cara menunjukkan rasa sayang:
Menunjukkan kasih sayang kepadanya harus dilakukan dengan cara yang ekspresif. Contohnya melontarkan pujian dengan wajah sumringah dan mata berbinar. Tak jarang diperlukan juga tindakan aktif untuk menegaskan padanya bahwa ia disayangi. Misalnya dengan pelukan dan belaian.

3. Anak percaya diri

Anak model ini biasanya amat cepat beradaptasi. Ia amat suka bertemu/berkenalan dengan orang-orang baru, bergaul dengan siapa saja, memainkan permainan asing, dan melakukan sesuatu yang berbeda maupun penuh tantangan.

Cara menunjukkan rasa sayang:
Terus mendampingi dan mendukung segala aktivitasnya cukup untuk meyakinkan anak tipe ini kalau ayah dan ibu menyayanginya. Anak tipe ini memiliki kepercayaan diri yang tinggi sehingga tidak terlalu butuh ekspresi kasih sayang yang benar-benar nyata. Namun agar anak tetap memiliki rasa percaya diri yang tinggi perlu juga ibu dan ayah sesekali memeluk, membelai dan memujinya.

4. Anak pencemas

Anak model ini sangat berhati-hati menghadapi setiap perubahan. Ia selalu mengamati tindak-tanduk ayah-ibunya saat marah, sedih, atau senang. Ia juga tidak menyukai tantangan-tantangan baru. Ia pun perlu waktu agar dapat beradaptasi dengan lingkungan yang masih asing baginya. Boleh jadi ia akan menangis kala ditinggalkan untuk pertama kalinya atau berada bersama-sama orang baru.
Begitu orangtua memperlihatkan wajah marah, anak sudah akan berprasangka macam-macam.

Cara menunjukkanrasa sayang:
Anak seperti ini butuh dorongan yang lebih tinggi lagi agar mencapai kepercayaan diri yang cukup. Caranya? Tak lain dengan menunjukkan kasih sayang secara ekspresif. Pelukan dan belaian sebagai wujud rasa sayang sangat dibutuhkan anak untuk mengikis kecemasannya.

PERKEMBANGAN EMOSI DAN KOGNISI

Untuk mengesankan anak kalau ayah dan ibu menyayanginya, hal lain yang perlu dilakukan adalah memahami perkembangan emosi dan kognisinya. Sulit bagi orangtua untuk mencurahkan kasih sayang tanpa memahami perkembangan emosi dan kognisi anak.

* EMOSI

- Anak balita masih memiliki keterbatasan dalam menerima pendapat orang lain. Ia selalu merasa dirinya benar. Ayah dan ibu harus bersabar dan mengerti saat anak, sulit diatur. Saat anak memaksa naik ke atas meja, contohnya, beri kesempatan padanya sebentar saja namun segera setelah itu minta ia turun sebelum terjatuh.

- Kontrol dirinya belum sempurna sehingga belum bisa mengendalikan emosinya, seperti ketakutan, kelelahan berlebih, atau kondisi fisik yang tak nyaman. Hal ini yang kerap jadi pemicu anak tantrum. Cobalah berada sedekat mungkin dengannya agar anak tahu kalau ibu dan ayah ada di sisinya dan siap melindunginya. Tanggapilah kerewelan-kerewelannya sebagai sesuatu yang wajar karena memang demikianlah proses perkembangan seorang anak sehingga akan terasa lebih mudah menghadapinya.

- Anak usia ini belum tahu mana yang benar dan salah sehingga ia melakukan segala sesuatu sekehendaknya saja. Saat kesal ia akan berteriak-teriak. Nah, ayah dan ibu harus menyontohkan bagaimana mengekspresikan perasaan dengan benar. Misalnya anak boleh berteriak tapi tidak dengan mengumpat-ngumpat.

- Perilaku anak usia ini sering berubah-ubah. Yang semula penurut mendadak jadi pembangkang. Ini terjadi karena perubahan sangat cepat antara kebebasan dan ketergantungan, antara perasaan suka dan kemarahan yang tidak terkontrol. Hal ini kerap membuat ibu atau ayah tak sabar menghadapi perilakunya. Pengertian orangtua sangat diperlukan agar curahan kasih sayang tetap mengalir pada anak secara tepat.

- Anak masih butuh kelekatan yang besar sehingga ia tidak mau berpisah dengan sosok ibu atau ayahnya barang sebentar. Misalnya, anak tak mau dilepas sendirian di "sekolah." Pahami kondisi ini sebagai sesuatu yang wajar. Cari cara efektif agar anak aman berada bersama orang lain tanpa harus menimbulkan kesan bahwa ayah dan ibu tidak menyayanginya. Pemaksaan hanya akan menimbulkan prasangka kalau orangtuanya jahat dan tidak sayang padanya.

* KOGNISI

Di usia ini anak masuk dalam fase praoperasional atau stadium pralogika yang ditandai dengan cara berpikir egosentris dan didominasi khayalan-khayalan. Anak berpikir dari sudut pandangnya sendiri dan tidak mau diintervensi oleh orang lain. Pemikirannya kerap terkesan ajaib, terutama saat melihat banyak hal yang aneh seperti nonton film Superman yang bisa terbang, mengangkat pesawat terbang dan mengeluarkan cahaya dari matanya. Kemudian lewat imajinasinya anak akan mengekspresikan khayalan-khayalannya, semisal dengan bermain peran menjadi pendekar, Putri Salju, peri baik hati, dan sebagainya. Pada tahap ini cobalah untuk meladeni saja apa yang ingin dilakukan anak. Bahkan bila perlu stimulasi terus agar kreativitasnya lewat khayalan-khayalan bisa tersalurkan dengan baik. Antusiasme ibu dan ayah saat memerhatikan berbagai kemauannya menunjukkan pada anak bahwa ia dicintai.

TERUS BERI SEMANGAT

Untuk dapat berkembang optimal, ibu dan ayah tak cukup memerhatikan segi psikis si kecil. Kebutuhan fisiknya pun perlu mendapat porsi perhatian sama baiknya, antara lain kebutuhan makan-minum, kesehatan, dan sarana beraktivitas. Memberi makan dan minum tidak dalam pengertian asal memberikan tanpa mempertimbangkan kecukupan dan keseimbangan gizinya. Kebutuhan kalori, protein, lemak, vitamin, dan lainnya harus tercukupi. Ibu dan ayah harus cerdas mengatur menu makannya dengan memasukkan lauk pauk, seperti sayuran, daging, telur, tahu, tempe, dan sebagainya.

Demikian halnya dengan kesehatan. Bila anak terlihat tidak fresh atau kurang bugar padahal kebutuhan gizi seimbangnya sudah dipenuhi, segeralah pastikan kondisi tubuhnya dengan memeriksakannya ke dokter. Bila ada gangguan kesehatan, usahakan supaya langsung ditangani. Ini adalah wujud kasih sayang ayah dan ibu padanya. Anak pun merasa aman karena orangtua selalu berada di sampingnya untuk memberi pertolongan dan perlindungan.

Tak hanya itu, sediakan juga sarana penunjang bagi kebutuhan fisiknya, seperti sepeda, bola, undakan untuk memanjat, ruang gerak yang lapang, dan sebagainya. Tak perlu terpatok pada harga yang mahal karena banyak alternatif yang bisa dipilih. Hanya saja perlu diingat, tersedianya segala kebutuhan fisik anak tak akan lengkap jika ayah dan ibu tidak memberinya dorongan, stimulasi, serta semangat untuk beraktivitas. Menyediakan menu seimbang namun bersikap cuek, mau makan silakan, tidak mau makan ya sudah. Atau memberinya aneka mainan tapi tidak mau tahu apakah digunakan untuk bermain atau disimpan di kotak mainan saja, tentu membuat semuanya jadi percuma.

Tak hanya itu, stimulasi pun perlu dilakukan seintensif mungkin. Di usia ini anak masih berada pada masa golden age dimana pertumbuhan otak sedang pesat-pesatnya. Stimulasi intensif sangat bermanfaat untuk membentuk lebih banyak sambungan simpul-simpul saraf otak (neurotransmitter). Dengan demikian kecerdasan otaknya bisa lebih optimal. Dengan memenuhi kebutuhan fisik anak berarti ibu dan ayah menunjukkan rasa sayangnya. Sebaliknya, bagaimana mungkin anak merasa disayangi bila kebutuhan fisiknya saja tidak dipenuhi.

RESPONS PERILAKU KRITISNYA

Jangan pernah menganggap anak balita tidak tahu apa-apa atau tidak perlu tahu apa-apa. Beri kesempatan pada anak untuk tahu lebih banyak tentang lingkungannya. Dengan demikian ia akan berusaha menggali segala potensinya untuk berpikir. Makin hari ia akan kian terampil mengelola pikirannya. Bila anak selalu mendapat jawaban yang tidak mengenakkan, seperti, "Kamu masih kecil, enggak perlu tahu!", "Susah jawabnya!" atau "Pokoknya kamu enggak ngerti!" akhirnya anak jadi sebal dan menahan diri untuk bersikap kritis karena pendapatnya selalu dipatahkan. Kalau sudah begini, anak akhirnya cenderung diam dan lebih suka mengekor pendapat orang lain.

Secara teori, pola penalaran anak akan melalui beberapa tahap. Mula-mula ia akan bertanya tentang fakta, yakni bertanya tentang "apa". Seiring dengan bertambahnya umur, ia makin memahami kenyataan yang ada di lingkungannya, sehingga ia pun mengembangkan rasa ingin tahunya dengan melontarkan pertanyaan "mengapa". Nah, kata tanya "mengapa" ini tentu menuntut penjelasan alias membutuhkan nalar.

Kuncinya, jangan panik saat menjawab pertanyaan anak. Ini penting agar jawaban keluar dengan lancar, bukan jawaban yang seenaknya atau sekenanya. Toh, anak tidak butuh jawaban panjang dan rumit, cukup jawaban simpel sesuai dengan kemampuan berpikirnya. Misalnya, ketika menyaksikan tayangan demonstrasi di teve anak akan bertanya, "Mereka lagi ngapain? Apaan sih demonstrasi? Kok bawa-bawa tulisan besar? Kenapa juga harus berkelahi?" dan sebagainya. Bila ibu dan ayah siap, maka jawaban akan mengalir dengan lancar. Dengan menanggapi sikap kritis anak secara bijak, selain melatih kemampuan nalar dan bahasanya, ibu dan ayah juga membuatnya merasa dihargai dan ini merupakan salah satu aspek penting dalam mewujudkan kasih sayang.

Semakin dini sikap kritisnya diasah, akan semakin baik. Interaksi di dalam keluarga sewaktu makan, nonton teve, main di ruang keluarga, liburan, dan sebagainya bisa dijadikan sarana pendukung. Secara tidak langsung interaksi seperti ini akan mendekatkan anak dengan ayah dan ibu. Selanjutnya, hubungan yang akrab akan berdampak pada perasaan aman dan nyaman karena anak merasakan sendiri derasnya kasih sayang dari orangtua.

Yang tak boleh dilupakan, rangsangan dari luar ikut menentukan kekritisan anak. Di sinilah pentingnya kesadaran orangtua untuk mentransfer pengetahuan sebanyak mungkin. Caranya, tiap kali ada kesempatan, ajaklah anak jalan-jalan ke kebun binatang, ke pantai, atau ke tempat-tempat yang dapat menambah wawasannya. Bertambahnya pengetahuan akan membuat daya pikirnya semakin tajam. Selain bahwa kelekatan anak dengan ayah-ibunya akan kian terjalin, kebersamaan seperti ini merupakan momen yang sangat baik untuk menunjukkan kasih sayang pada anak.

Karakter merupakan hal penting bagi keberlangsungan hidup anak. Karena itu, sejak dini karakter anak harus ditumbuhkembangkan. Jika tidak, kelak, anak akan tumbuh menjadi manusia yang tidak memiliki karakter yang jelas.

Hal itu disampaikan Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono M. Pd, dalam pembukaan seminar "Pendidikan Kiat Sukses Menumbuhkembangkan Karakter Anak" di ruang Graha Sawunggaling, Balaikota Surabaya Ahad kemarin. Acara yang diisi trainer Hj. Neno Warisman ini dihadiri sekitar 300 peserta.

Menurut orang nomer satu di Surabaya ini, menumbuhkan karakter bukan hal sepele. Sebab, karakter menyangkut hal komprehensif dalam diri manusia. Agar karakter bisa tumbuh dengan baik, maka pikiran harus senantiasa bersih.

"Jika pikiran bersih, maka hati akan bersih pula. Dan hati yang bersih akan menimbulkan kebiasaan yang baik. Jika kebiasaan baik itu sudah menjadi permanen, otomatis  akan menjadi karakter," katanya.

Namun, menurutnya, banyak guru yang belum bisa melakukan hal itu kepada murid. Kebanyakan, guru hanya sibuk mentransfer ilmu, bukan value (nilai) dan sikap.

"Murid hanya dicekoki ranah kognisi, padahal murid memiliki afeksi dan psikomotor," jelasnya.

Dia mencontohkan film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Menurutnya, film besutan Andrea Hirata itu bisa menjadi contoh seorang guru yang berhasil menanamkan nilai dan sikap pada anak. Meski awalnya murid dibangun dengan mimpi, namun kemudian dimotivasi dan diajari cara menggapai mimpi.

Bambang berkata, dulu, ketika dirinya belum menjadi Wali Kota Surabaya, banyak daerah di Surabaya yang kumuh dan kotor, yang membuatnya mengelus dada. Lantas, ketika sudah menjadi Wali Kota, dia pun berusaha membenahinya. Dibuatlah program Green and Clean Surabaya.

Awalnya, dengan membentuk kader-kader bersih lingkungan. Kemudian melakukan kegiatan bersih-bersih. Kini, Surabaya pun lebih bersih berkat kesadaran warganya. "Sekarang, warga Surabaya sudah cinta dengan keindahan," tuturnya.

Namun dia juga tidak menampik jika pertumbuhan karakter anak kerap dibentuk oleh teknologi dan media. Media seperti internet, majalah dan komik, ternyata banyak memuat pornografi yang jelas merusak karakter anak.

Belum lama ini, Bambang begitu terkejut ketika mendapat pemaparan dari Ely Risma, psikolog dari Jakarta, bahwa bahaya pornografi telah mengancam anak. "Karena itu, kalau karakter anak ingin tumbuh dengan baik, maka harus dijauhkan dari pornografi," tegasnya.

fn/k2m/tn/hd/SuaraMedia.com