10 Rabiul-Awwal 1444  |  Kamis 06 Oktober 2022

basmalah.png

Anak Suka Konflik

http://2.bp.blogspot.com/_JXE1J03CwYI/SsSKmMp3PFI/AAAAAAAAA9o/IXHSwJn-IHs/s200/gigit-kuku.jpg

Mengajari anak-anak menyelesaikan konflik memang sebaiknya dilakukan sejak dini agar setelah besar mereka terlatih menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Sebab, untuk melatih anak menyelesaikan konflik berarti juga melatih anak mengontrol kemarahan dan emosinya. Bukankah kekerasan terjadi lantaran orang tidak bisa mengendalikan amarah dan emosinya? Tapi tentu ini bukan sesuatu yang mudah Terlebih lagi ciri anak-anak adalah kepolosan. Kalau mereka mau marah, ya, marah saja, tak perlu menunggu atau menundanya alias tak perlu kontrol diri segala. Hal ini disebabkan mereka belum tahu aturan main dalam kehidupan.

Kalau dibiarkan apakah ada dampaknya...???

bisa mengganggu hubungan sosial

Bila sejak dini anak tidak pernah diajarkan mengatasi konflik lama2 anak bisa kehilangan teman, lho. Ya sapa sih yang mau berteman dengan anak yang suka buat gara2 atau sulit bersosialisasi....

terbiasa menyelesaikan masalah dengan kekerasan.

anak kan belajar dari mengamati...kalau sekali dicoba berhasil maka besok pasti akan dicoba lagi.....sekali berhasil menyelesaikan masalah dengan kekerasan maka besok akan diulangi....lama2 tentu jadi kebiasaan..

Mengganggu perkembangan konsep diri

Kalau dikit2 marah, dikit2 konflik, dikit2 buat gara-gara bisa saja lalu anak diberi label oleh teman-temannya, entah sebagai si pemarah atau si brengsek, dan sebagainya. Kalau sudah begitu, akhirnya akan mengganggu perkembangan konsep dirinya. Bisa-bisa anak akan bersikap, kalau aku enggak marah maka bukan aku lagi.

Bagaimana sebaiknya orangtua bersikap ????

Ajak komunikasi dan jelaskan etika Bergaul

Jadi, Bu-Pak, betapa penting mengajari anak mengatasi maupun menghindari konflik. Kendatipun tidak mudah, namun percayalah, kita pasti bisa melakukannya. Caranya dengan mengajak anak berdialog. Bukankah di usia prasekolah anak sudah bisa diajak berdialog? Jelaskan pada anak tentang etika bergaul seperti bagaimana akibatnya jika mereka selalu berebut dan tidak mau berbagi, apalagi sampai bertengkar dan memukul, Ajarkan pula untuk bertenggang rasa dan berempati pada perasaan orang lain, juga pentingnya sikap saling memaafkan.

Beri contoh

Tapi tentu tidak cukup hanya bila dilakukan lewat dialog karena untuk mengajarkan sesuatu pada anak akan lebih efektif bila dilakukan juga lewat contoh sehari-hari dari orang tua. Orang tua tentunya pasti pernah bertengkar atau berargumentasi di depan anak-anak, kan? Nah, pastikan anak-anak melihat kedua orang tuanya saling meminta maaf dan saling memperbaiki diri seusai bertengkar.Jangan lupa untuk selalu mengajari anak-anak meminta maaf dan berdamai seusai bertengkar.

Lakukan dengan cara yang menyenangkan

anak akan mudah menangkap apa yang kita maksud jika dilakukan dengan cara menyenangkan.... Ibu bisa menggunakan buku cerita, boneka atau minat anak yang lain untuk memasukkan pesan2 kasih sayang, nilai2 baik dsb.....

Latih anak memecahkan masalah

Selanjutnya, yang harus kita lakukan ialah melatih anak memecahkan masalahnya sendiri. Jadi, bila anak-anak sedang bertengkar, biarkan saja dulu, tidak perlu tergesa-gesa mencampuri urusan mereka. Barulah jika pertengkaran itu sudah mengarah ke hal-hal yang membahayakan, orang tua harus segera menghentikannya. Saat menengahi pun kita tidak perlu buru-buru memberikan jalan keluar. Tanyakan dulu keduanya, apa yang kalian ributkan? Jadi orang tua masuk dan mereka diajak diskusi agar lebih tenang dan tidak main mulut begitu saja.Setelah salah satu bercerita, tanyai lagi lainnya, apakah itu benar? Dengan demikian mencegah mereka menjadi pengadu." Lantas, tanyai, apa yang bisa mereka lakukan untuk menyelesaikan konflik. Tentunya masing-masing akan mengemukakan argumennya. Nah, saat itulah kita harus menunjukkan bagaimana bisa menyelesaikan konflik meski berbeda sudut pandang, Kalau menurutmu, mungkin pendapatmu itu yang benar. Tapi coba kita lihat dari pendapat temanmu.Misalnya, mereka berebut main di ayunan taman yang menjadi milik umum. Jelaskan, Barang ini memang milik orang banyak. Jadi, semua orang boleh memakainya, baik kamu maupun temanmu. Nah, karena semua orang boleh pakai, maka berarti ini bukan milikmu sendiri, kamu tidak boleh pegang terus mainan ini. Temanmu pun harus mendapat giliran pakai, kan?

Arahkan emosi anak

Bila anak masih tak bisa mengontrol emosinya, bimbinglah ia untuk mengarahkan emosinya. Katakan, misalnya, ”Bunda mengerti Kakak marah karena Tati terus memainkan ayunan itu tanpa memberimu kesempatan untuk memainkannya. Barangkali Tati memang sudah lama ingin bermain ayunan. Coba, deh, bayangin kalau Kakak sudah lama ingin main ayunan, tentunya Kakak enggak cukup puas kalau mainnya sebentar, kan?" Jadi, anak senantiasa dilatih untuk menempatkan diri pada posisi orang lain dan berempati pada perasaan orang lain agar tidak menjadi egois.anak pun akan makin mengerti, mengapa orang lain melakukan tindakan berbeda dengannya. Sehingga, betapapun juga ia tidak setuju dengan tindakan orang lain, dia akan berusaha berpikir seperti cara orang tersebut berpikir. Dengan begitu, konflik yang keras dapat dihindari.

Ajarkan anak untuk luwes dan fleksibel

Yang tak kalah penting ialah mengajarkan keluwesan dalam menghadapi persoalan. Misalnya, ia tak mau membereskan mainannya setelah selesai bermain, "jangan lantas memberinya ultimatum, tapi berilah alternatif waktu untuk memilih waktu yang tepat dalam membereskannya, 'Bagaimana kalau habis nonton film kartun adik beresin mainan?'" Jadi, ada fleksibelitas dalam menangani sesuatu. Dengan selalu mengajarkan keluwesan atau fleksibelitas, anak tak akan mudah meledak marah kala temannya tak mentaati aturan main yang telah mereka buat. Bukankah ia sudah terbiasa dengan ajaran, selalu ada jalan keluar lain manakala ada kesepakatan yang meleset?

Beri konsekuensi

Tentu kita juga perlu bertindak tegas terhadap perbuatannya yang salah saat meluapkan amarahnya. Misalnya, ia suka memukul. Nah, jelaskan padanya bahwa ia mesti menghilangkan kebiasaan buruknya memukul teman atau adiknya. Jika masih terulang lagi, maka ada konsekuensinya. Misalnya, tak boleh menonton film kartun kegemarannya di TV, tak boleh makan es krim selama seminggu, dan sebagainya.

Demikian Ibu uraian dari kami, semoga gak pusing lagi yah...dalam penerapannya pun ada hal2 yang perlu diingat seperti ”harus adil dan jangan berpihak." Kalaupun mereka harus dihukum, hukumlah dengan sama rata. Jangan si kakak saja yang dihukum, lantas si adik tidak. Karena sikap ketakadilan akan sangat membekas di hati anak. Jadi, lebih baik berdiri di tengah dan lakukan negosiasi dengan mereka dalam mencari jalan keluar dari permasalahannya. Jika benar2 tidak bisa diatasi, kita bisa loh menyita benda yang dijadikan rebutan. Mungkin mulanya mereka akan tambah ribut dan memprotes tindakan ini, tapi kita tetap harus tegas. Anak-anak perlu tahu, jika mereka terus ribut dan tak ada yang mau mengalah atau bergantian main, maka benda itu sama sekali tak boleh dimainkan. Cara lain adalah dengan meminimalkan kemungkinan terjadinya keributan. Misalnya, bila anak memang tidak suka meminjamkan mainan kesukaannya pada orang lain, ya, jangan keluarkan benda itu kala teman-temannya datang. Dengan demikian, konflik sama sekali tak muncul. ....selamat mencoba semoga bermanfaat

WarnaIslam.com

penulis :
Herlita Jayadianti