13 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 20 Oktober 2021

basmalah.png

Hukuman Fisik Bikin Anak Makin Buas Dan Agresif

http://1.bp.blogspot.com/_kqXmDFkv3QI/SUdVj61YTsI/AAAAAAAAAI4/0p8eswu3rFw/s400/Ifoed-komnas-juara.jpg

Semua orang tentu setuju dengan pendapat bahwa menerapkan disiplin kepada anak adalah tanggung jawab setiap orangtua. Namun, dalam penerapannya, menegakkan disiplin tidak selalu mudah. Bahkan, tak jarang orangtua menerapkan hukuman fisik ringan, seperti memukul pantat atau menjewer telinga anak.

Penerapan hukuman badan ini memang masih menjadi sebuah perdebatan. Para ahli kesehatan anak di Amerika Serikat bahkan tidak pernah merekomendasikan memukul pantat atau dikenal dengan istilah spanking kepada anak-anak karena hukuman fisik ini tidak efektif dalam mengubah perilaku untuk jangka panjang.

Tingkat efektivitas hukuman fisik ini pun kini semakin dipertanyakan setelah sebuah riset menunjukkan, tindakan spanking justru dapat memicu perilaku agresif anak. Menurut kajian terbaru yang bakal dirilis jurnal Pediatrics, anak-anak yang sering dipukul pada usia tiga tahun cenderung berperilaku lebih agresif saat menginjak usia lima tahun.


Studi terbaru ini pun sejalan dengan penelitian sebelumnya bahwa anak korban spanking memiliki skor IQ lebih rendah dan cenderung mudah terkena masalah kecemasan, gangguan perilaku, terlibat tindak kejahatan, depresi, dan penyalahgunaan alkohol.

2.500 responden
Para ahli dari Tulane University School of Public Health melakukan kajian tentang tindakan spanking dan perilaku agresif anak ini dengan melibatkan 2.500 ibu di seluruh Amerika Serikat. Hampir setengahnya mengatakan bahwa dalam beberapa bulan terakhir mereka tak pernah memukul anaknya pada usia tiga tahun. Sedangkan 27,9 persen mengakui pernah sesekali atau dua kali memukul, dan 26,5 persen ibu mengaku melakukan spanking lebih dari dua kali.  

Dua tahun kemudian, para ibu yang sering memukul dilaporkan mengeluhkan tentang perilaku anak-anaknya. Tingkat agresivitas anak-anak memasuki usia lima tahun relatif menjadi lebih tinggi, yang ditunjukkan dengan perilaku membantah, berteriak, berkelahi, menghancurkan benda, atau bahkan bullying (kekerasan terhadap teman).


Kesimpulan penelitian pun tetap kuat, bahkan setelah memperhitungkan sejumlah faktor yang dapat memengaruhi, seperti adanya kekerasan atau agresi dalam keluarga dan silsilah orang tua, depresi, dan penyalahgunaan alkohol atau narkoba.


"Banyak cara untuk menerapkan kedisiplinan kepada anak secara efektif  tanpa harus memukul mereka dan benar-benar bisa dapat menekan risiko menjadi lebih agresif,"  ungkap penulis riset Catherine Taylor.


"Jadi, kabar baiknya adalah para orangtua tidak perlu harus mengandalkan hukuman fisik, seperti memukul pantat, untuk mendapatkan hasil yang mereka inginkan," demikian Taylor.

Akhir-akhir ini berita tentang kekerasan yang dilakukan oleh orangtua kepada anaknya banyak muncul di media TV maupun koran di Jepang. Hampir setiap hari, ada saja berita yang memuat tentang anak yang dibawa ke rumah sakit dengan luka berat, bahkan sampai meninggal gara-gara 'dihukum' oleh orangtuanya. Dari bayi yang berusia beberapa bulan sampai anak SD harus mengalami 'hukuman' dari orangtuanya.

Bayangkan, ada seorang bayi berusia 7 bulan meninggal karena tidak diberi makan oleh orangtuanya selama beberapa hari.

Uniknya, pada saat ditangkap polisi dan diinterogasi, alasan para orangtua tersebut semua sama, yaitu memberikan hukuman karena anaknya tidak mau mengikuti apa yang dikatakan orangtua. Atau menurut mereka, MENGAJARKAN DISIPLIN kepada anaknya.

Di negara maju seperti Jepang saja (dimana telah diterapkan Undang-Undang Perlindungan Anak) masih banyak kejadian penyiksaan terhadap anak. Bagaimana dengan kita di Indonesia ? ...atau, dengan lingkungan kecil di sekitar kita sendiri ?

Dari hal-hal diatas tersebut, kita semua semakin menyadari bahwa masih banyak orangtua yang salah dalam menerapkan atau mengajarkan disiplin kepada anaknya. Sayangnya, para orangtua tersebut tidak pernah menyadarinya, dan bahkan tidak pernah berusaha untuk mempelajarinya.

Jika melihat hal ini, saya begitu salut dan hormat kepada anda yang sangat peduli terhadap perkembangan buah hati anda.

Saya dan anda tentunya sudah menyadari sekali bahwa betapa sulitnya menjadi orangtua yang baik itu. Hal yang paling sulit adalah bagaimana kita sebagai orangtua bisa mengendalikan emosi kita dalam mengasuh anak. Mungkin secara teori kita sudah banyak belajar melalui buku-buku ataupun seminar tentang perkembangananak, tetapi begitu menghadapi anak kita yang 'nakal', hilanglah semua teori itu dari kepala kita.

Apakah anda pernah mengalaminya ? Saya masih mengalaminya, apalagi dengan semakin meningkatnya usia anak.

Ketidakmampuan kita mengendalikan emosi ini akhirnya muncul dalam bentuk pukulan atau tindakan fisik terhadap anak kita.

Semua buku/informasi tentang cara mengajar disiplin kepada anak selalu menekankan untuk tidak boleh memukul atau memberikan hukuman fisik dalam melakukannya.

Memang, mudah dikatakan, tapi cukup sulit untuk diterapkan. Hukuman fisik justru bisa menjadi 'permainan menarik' bagi anak, dan tidak mampumendisiplinkan anak.

Hasil penelitian menunjukkan pula bahwa anak balita masih belum bisa memahami hubungan antara tindakannya yang 'nakal' (menurut orangtua) dengan pukulan yang diterimanya. Anak hanya merasakan sakit karena dipukul tanpa tahu kenapa kok dipukul. Kalaupun si anak tidak lagi melakukan tindakan 'nakal'-nya itu, hal ini bukan karena dia menyadari kenakalannya, tetapi lebih pada rasa takut akan dipukul lagi. Artinya, pukulan tersebut sama sekali tidak bisa mendisiplinkan anak atas kesadarannya sendiri !

Jadi, JANGAN PERNAH MEMUKUL !!!

Memukul tidak ada gunanya sama sekali bagi anak, kecuali hanya memuaskan emosi orangtua. Anda setuju ?

Dalam menghadapi sikap anak yang 'nakal' dan tidak disiplin atau melanggar peraturan keluarga, para ahli perkembangan anak menyarankan untuk memberikan TIME-OUT kepada anak.Bagaimana caranya ?

Time-out disini sebenarnya kata halus untuk sebuah hukuman tetapi bukan hukuman fisik.

Time-out ini biasanya dalam bentuk menyuruh anak untuk duduk di sebuah kursi atau masuk ruangan tertentu dalam waktu tertentu. Panjang waktu yang paling efektif adalah disesuaikan dengan usia anak. Misalnya, waktu time-out untuk anak usia 2 tahun adalah 2 menit, untuk anak usia 3 tahun adalah 3 menit.

Jangan terlalu lama !

Time-out ini sangat efektif untuk menghukum anak yang suka memukul, merusak barang atau berkelakuan di luar batas sopan santun yang telah ditentukan oleh orangtua.

Setelah waktu time-out selesai, orangtua harus menjelaskan kenapa dia dikenai time-out, dan kemudian menasehati tentang perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh anak.

Menasehati pada saat anak sudah tenang ini akan memberikan hasil yang sangat efektif, dibandingkan dengan nasehat pada saat setelah anak dipukul, apalagi pada saat anak menangis. Jadi, untuk menasehati anak yang efektif itu memang perlu waktu yang tepat, yaitu pada saat emosi anak sedang tenang. Menasehati (memarahi) anak sambil berteriak, ditambah lagi pada saat emosi anak tinggi (mis. sedang menangis), sama sekali tidak akan membuahkan hasil apapun !

Kembali lagi ke masalah time-out, yang perlu diingat adalah bahwa time-out menjadi tidak efektif bila dilakukan terlalu sering atau untuk kelakuan anak seperti misalnya hanya karena anak tidak mau membereskan mainannya, dan sejenisnya.

Untuk mengajarkan disiplin tentang kelakuan anak seperti hal diatas, atau mencegah ledakan kemarahan (temper tantrum) dan sejenisnya, pemberian 'signal awal' kepada anak merupakan cara yang paling efektif dari berbagai cara yang ada.

Untuk orangtua yang terlanjur mempunyai kebiasaan memukul, cara yang cukup efektif untuk menghilangkan kebiasaan buruk ini adalah dengan sesering mungkin membaca tulisan tentang tidak baiknya memukul anak itu.

Dengan membaca tulisan seperti itu, kita akan diingatkan terus akan keburukan memberikan hukuman fisik. Letakkan saja buku/artikel tentang hal ini di atas meja kerja anda, dan pada saat waklu luang, lihat-lihat sebentar sambil refreshing.

Mudah 'kan ?

Terakhir kali,
Mari kita galakkan upaya untuk selalu menghindari kekerasan di dalam rumah tangga, demi masa depan buah hati kita tercinta dan masa depan bangsa Indonesia !

Sebuah penelitian di Jepang menunjukkan bahwa remaja yang nakal dan sering mengganggu orang lain ternyata sebagian besar mempunyai latar belakang dimana pada masa kecilnya mereka sering mendapatkan hukuman fisik dari orangtuanya.

fn/km/ba/SuaraMedia News