fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


11 Ramadhan 1442  |  Jumat 23 April 2021

Mendidik Anak Ala Barat Yang Diadopsi Umat Islam

http://1.bp.blogspot.com/_DiitY2XyISU/SMQhNO5298I/AAAAAAAAABg/c6H1evis9_M/S226/2006_0813GLpartyUtrecht20060062.jpg“Tidak seorang bayi pun kecuali dia terlahir berdasarkan fitrah. Lantas kedua orangtuanya-lah yang menjadikan dia seorang Yahudi, Nashrani, maupun Majusi.

Sebagaimana binatang yang melahirkan anak dengan sempurna, apakah kalian rasa ada cacat pada anak binatang tersebut?”

Bapak-ibu sekalian, pernahkah kita sesekali mengamati dengan serius iklan-iklan di televisi mengenai tumbuh kembang anak? Apakah yang kita lihat? Mungkin sebagian besar dari kita disuguhkan iklan yang berksiar mengenai produk susu, makanan, hingga pencernaan bagi anak kita.

Tidak hanya itu, kita juga dapat melihat bagaimana produsen dari produk kebutuhan bagi bayi tersebut, dengan sedikit “ancaman” mencoba meyakinkan kita betapa pentingnya asupan makanan bagi anak kita. Jika tidak terpenuhi akan menggangu kecerdasannya dikemudian hari.” Anak Anda Mau Sehat? Makan Biskuat!”

Terjebak Pada Pemenuhan Biologis dan Kesenangan
Percayakah kita sebenarnya, bahwa produk kebutuhan bagi bayi yang ada sekarang ini adalah hasil dari saduran Psikologi Barat yang hanya melihat manusia sebatas kungkungan asupan biologis. Bayi dalam konsep Barat memang diproduk sebagai mesin yang akan berkembang hanya dalam pemenuhan wilayah ketubuhan.

Asumsi ini menjadi berkembang pesat di Eropa dan Amerika setelah Sigmund Freud mengungkapkan tahapan perkembangan pemenuhan kebutuhan anak dalam teori psikoanalisisnya.

Kita ketahui bahwa Freud menjadi sorotan banyak kalangan ketika dia menguraikan mengenai alur tahapan perkembangan kepribadian via seksualitas (maksudnya unsur biologis dalam tubuh). Freud menyangkal bahwa dorongan biologis tidak berawal pada masa pubertas namun sedari bayi, dan seksualpun menjadi penggerak dalam keseharian manusia. Hal ini kemudian menjadi trendsetter corak terapi dan tafsiran kepribadian dalam fenomena kehidupan.

Tak ayal kemudian dengan cepat banyak para psikiater dan praktisi psikologi anak bergabung dalam mazhab psikodinamika Freud. Seperti Carl Gustave Jung dari Zurich, A.A Brill dari New York, Sandor Verenzci dari Budapest, Karl Abraham dari Berlin, Alfred Adler dari Wina, dan juga Karen Horney dari Amerika Serikat.

Dalam teori Freud, perbincangan mengenai ketubuhan ialah titik sentral dalam melihat kepribadian futurutif manusia. Dalam mendiskusikan kepribadian, pada dasarnya manusia adalah makhluk biologis. Badan atau tubuh bekerja melalui insting-insting ketubuhan yang mesti dipenuhi, yaitu gairah meraih kenikmatan dan menghindari ketidaksenangan biologis. Jatidiri riil ini tentulah bersifat keduniawian. Aktivitas somatik menjadi prioritas ketimbang emosional, sosial, lebih-lebih agama. Secara garis besar, Freud akan mengatakan bahwa kehidupan psikis seorang anak digerakkan oleh insting biologis atau insting seksual.

Dalam teori perkembangannya, Freud mengetengahkan bahwa kehidupan anak-anak pada masa kehidupannya memiliki kecenderungan untuk memenuhi kenikmatan oralnya. Aktivitas seperti makan, minum, menyusu adalah satu-satunya hal yang wajib dipenuhi tinimbang aktivitas lainnya. Menurut Freud, jika hal itu tidak terpuaskan, anak akan mengalami gangguan kecemasan, dan bukan tidak mungkin akan mengalami penyakit kejiwaan di kemudian hari. Contohnya Freud pernah mengatakan, bahwa orang yang gemar merokok adalah orang yang ketika ia bayi tidak berhasil memenuhi kebutuhan menyusuinya.

Selain teori oralnya, Freud juga mengetengahkan gagasannya tentang perkembangan Anal pada anak usia dini. Menurut Freud, setelah fase oral terpenuhi, anak akan beralih untuk memuaskan kebutuhan analnya, yakni segala aktivitas yang berhubungan dengan dubur seperti buang air besar. Ini terjadi saat anak berumur 1-3 tahun.

Aktivitas perkembangan pada fase anal sendiri berupa pengeluaran kotoran untuk menghilangkan sumber ketidaknyamanan dan menimbulkan perasaan lega. Dalam perkembangannya, karena pengeluaran feses dianggap penting oleh orang tua, maka muncullah apa yang disebut Freud dengan aktivitas toilet traning.

Toilet training adalah pembiasaan diri orangtua kepada seorang anak untuk menjaga kebersihan diri. Hal ini dimaksudkan agar anak mempunyai kendali diri dalam membuang kotoran. Di sini anak harus mengikuti sebuah aturan oleh pihak orang tua agar feses yang dikeluarkan tidak membuat kekotoran dimana-mana.

Freud kemudian mendelegasikan bahwa jika seorang ibu mempunyai karakter positif dalam menghadapi fase anal seperti sifat sabar dan kerap memuji perbuatan aktifitas feses si anak, eksesnya akan tertuju pada pemahaman anak tentang konsep pembuangan kotoran yang baik dan bertanggung jawab.

Namun sebaliknya, jika aktivitas pembuangan feses tidak berjalan dengan mulus, lalu seorang ibu kerap mengeluarkan amarahnya meretapi kondisi anak yang tidak wajar dalam pembuangan fesesnya, ini akan menyebabkan timbulnya benih-benih kecemasan berupa sifat pemalu di kemudian hari, Tidak hanya itu, Freud kemudian menarik kegagalan seorang anak pada pemenuhan fase anal sebagai prasyarat timbulnya neurosis dalam interval waktu beberapa tahun kedepan.

Bertitik tolak dari Teori Freud inilah Barat kemudian secara simultan mulai mengadopsi dengan menitik tekankan pentingnya aktifitas pemenuhan unsur biologis dibanding konten lainnya. Aktivitas makan dan pembungan feses berkembang menjadi satu-satunya jalan menafsirkan jiwa bayi. Tak heran jika banyak iklan popok, susu, makanan cair, berubah menjadi salah satu lini tervital sebagai salah satu produk tumbuh kembang anak.

Selain daripada itu, dari Teori Freud inilah sebuah pesan kemudian ditangkap oleh Barat untuk memenuhi faktor kesenangan belaka bagi anak. Barat kemudian menganggap mainan adalah satu-satunya cara agar prinsip kenikmatan anak terpenuhi. Ini menjadi bergulir panjang hingga kini produk-produk kesenangan itu amat berkaitan dengan lini bisnis.

Dunia games sekarang menjadi momok terbesar setelah pornografi. Banyak kita dapati anak yang menghabiskan waktunya di internet bukan untuk menghabiskan waktunya dengan ilmu, tapi demi kelanjutan serial games yang telah mencadu.

Pertanyaannya kemudian adalah dimanakah konten agama dalam Teori Freud? Lalu apakah agama memiliki peran diametris dalam kesehatan jiwa anak? Dan adakah porsi pelajaran agama dalam bagian teori tumbuh kembang anak dalam gagasan tentang bayi di Barat saat ini? Jawabannya adalah tidak ada. Karena bagi Freud agama adalah penyakit yang akan menyerang bayi. Sedang menurut Ludwigh Ferubach, lebih sadis lagi: Agama adalah ilusi.

Jadi, wajar saja jika tidak ada iklan menghafal dan mengkaji Qur’an bagi anak-anak di televisi-televisi kita. Lalu wajar pula juga jika banyak masyarakat Barat sekarang menjadi atheis. Kurang ajar. Virginitas adalag barang murah. Sedangkan ketetapan definisi baik dan buruk tidak ada hubungannya dengan agama. Lalu bagaimana dengan kita?

Kekosongan Nilai Islam dan Kerancuan Tauhid
Asumsi ini kemudian ditarik lebih dalam lagi di tiap teori tentang anak, baik psikomotorik anak, psikososial anak, hingga kognitif anak. Agama memiliki peran asing dan cenderung menjadi benalu. Agama dalam termin Barat adalah satu kasus cacat tersendiri dalam kehidupan awal anak-anak. Karena bagi Barat, anak belum megenal Tuhan dan memang tidak perlu Tuhan.

Sebab agama cenderung menekan insting-insting manusia yang semestinya harus disalurkan seperti pergaulan bebas, hedonisme, hingga keharusan mereka untuk tidak patuh pada norma. Ini kemudian secara tidak sadar diterjemahkan pada beberapa lembaga pendidikan kita yang berkesimpulan bahwa agama adalah wilayah privat. Ia adalah konten pribadi yang cukup diajarkan seminggu sekali.

Sebelum itu, Barat juga telah meredusir mengenai makna agama pada dua hal. Pertama, pengaburan makna agama menjadi sekedar moral belaka. Agama bisa jadi substitut dari moral. Dan moral lebih save untuk diajarkan kepada anak untuk menentukan kebenaran daripada agama. Pertanyaannya adalah sederhana, sekarang apakah sebenarnya perbedaan agama dan moral? Jawabannya juga sederhana.

Bahwa definisi moral hanya berlaku pada suatu lingkup budaya tertentu. Moral dalam definisi masyarakat Indonesia berbeda dengan atural moral di Amerika. Disana anak memanggil dengan sapaan kamu terhadap orang tua sudah bisa, sedang di Indonesia menjadi ganjil untuk mengemuka.

Nah, berbeda dengan moral, agama berlaku dimana saja. Agama bukanlah produk budaya dan tak boleh tunduk pada budaya. Justru agama lah yang membuat budaya harus dekat dengan aturannya. Nah Barat tidak sependapat dengan ini. Bagi mereka, anak sudah cukup menjadi orang baik tanpa harus beragama. Batasan agama tdak boleh berlawanan dengan nilai tumbuh kembang anak.

Oleh karena itu orang yang namanya Kohlberg saat ia membuat Teori Moralnya tidak mendefinisikan secara jelas tentang makna penting agama bagi anak. Ia hanya membuat teori bahwa pada umur sekian dan sekian anak sudah bisa diajarkan tentang moral. Sekali lagi, moral bukan agama.

Kedua, penafikan pemaknaan benar salah pada proses pendidikan anak. Inilah yang sebenarnya terjadi di Indonesia. Banyak lembaga pendidikan hatta lembaga pendidikan Islam sekalipun, sudah terjebak pada lema Barat, bahwa anak adalah makhluk lugu yang harus dijauhkan pada konten benar dan salah waktu ia kecil.

“Jadi bapak-bapak ibu-ibu, anak jangan diajari yang macem-macem dulu. Jangan diajari benar atau salah dulu. Maklum anak kita kan masih kecil. Duh kasihan dari kecil sudah diajari thoghut dan kafir.” Begitu kria-kira ucapan salah seorang psikolog anak berjilbab.

Terlihat memang pendapat ini menarik. Asumsi ini coba memberi ruang pada ekspresi anak untuk menampilkan tindakan apa adanya tanpa harus dibelenggu aturan. Tapi thesa ini secara tidak sadar sudah membunuh fitrah anak bahwa sejak di alam ruh pun, anak sudah terikat janji kepada Allah untuk selalu online di jalan kebenaran.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)", (Al A’raf 172)

Inilah konsekuensi tauhid, yang tidak hanya melihat anak pada asupan ketubuhan, yang tidak hanya melihat anak kecil sebagai makhluk lugu yang belum memiliki jiwa. Oleh karena itu, alih-alih kita menjauhi anak untuk mendefinisiakan mana yang thoghut, mana yang kafir, mana yang benar, Rasulullah SAW malah mengatakan justru orangtualah yang sebenarnya menjadikan anaknya thoghut dan kafir.

“Tidak seorang bayi pun kecuali dia terlahir berdasarkan fitrah. Lantas kedua orangtuanya-lah yang menjadikan dia seorang Yahudi, Nashrani, maupun Majusi. Sebagaimana binatang yang melahirkan anak dengan sempurna, apakah kalian rasa ada cacat pada anak binatang tersebut?” Astaghfirullah.

Anak Dijauhkan Dari Ilmu
Tidak hanya berhenti di konten tauhid, dengan tampilan periklanan di media yang menjelaskan tentang kebutuhan biologis anak-anak, kita sudah digiring untuk hanya membentuk anak dalam sebuah prosa yang mutlak biologis. Orangtua hampir habis mengeluarkan uangnya untuk membelikan hal-hal yang bersifat biologis ketimbang memberinya materi khusus tentang makna sebuah ilmu dan agama.

Ini bukan berarti kita dilarang untuk membelikan segala produk ketubuhan bagi bayi sama sekali, namun yang menjadi problem kita adalah jangan-jangan ini memang sudah grand design dari Barat untuk menjauhkan anak dari Ilmu-ilmu Keislaman yang memang Barat khawatir sekali untuk itu.

Akhirnya kita juga khawatir bahwa kita telah terjebak pada manifestasi materialisasi yang cenderung membawa anak pada pemahaman bahwa dunia adalah segala. Bahwa Islam adalah kalimat kedua. Sedang Al Qur’an adalah lembar tulis yang “lebih murah” ketimbang HP berlayar kaca. Konsekuensi logis inilah yang sebenarnya terjadi pada banyak anak muslim, yang meski berkerudung tapi masih melihat Islam dari kacamata lugu. Mereka terbentur pada visi panjang bagaimana menjadi seorang pengilmu sebab telah kadung gagal memaknai agama hanya pada konten ritualitas belaka.

Kalau kita mau jujur, berapa banyak sebenarnya uang kita habis untuk membeli produk-produk ketubuhan ketimbang habis untuk membelikan anak kita sebuah buku. Padahal sebenarnya adalah kesia-siaan jika kita memenuhi asupan gizi kecerdasan anak, jika kita sendiri justru tidak mampu membentuk iklim keluarga dalam menyalurkan potensi kecerdasan anak.

Oleh sebab itu, Ibnu Qayyim Al Jauzi dengan sangat geram mewanti-wanti orangtua yang tidak memenuhi hak ilmu bagi anak dengan sebutan perusak. “Barang siapa yang melalaikan pendidikan anaknya dengan hal-hal yang bermanfaat serta meninggalkannya secara sia-sia, maka berarti telah berbuat buruk kepada anak seburuk-buruknya. Kebanyakan anak menjadi rusak adalah disebabkan orang tuanya, karena tidak adanya perhatian kepada mereka, serta tidak diajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban agama dan sunah-sunnahnya.”

Oleh karenanya, kita juga harus imbang untuk tidak terbentur pada pemaknaan biologis dan kesenangan an sich tapi kemudian melupakan visi jangka panjang tentang asupan ilmu bagi anak. Sedari dini kita juga harus mulai terbiasa untuk memberikan buku daripada mainan. Anak akan belajar betapa lingkungannya memang mendukung bagi tumbuh kembangnya untuk mengenal ideologi Islam. Kecintaan anak pada ilmu dapat dibentuk bagaimana orangtuanya juga memperlakukan ilmu.

Paling tidak kita bisa mensiasati dalam pemenuhan kebutuhan masa anak, namun tidak pula menafikan peran perkembangan keilmuan bagi anak. Sebagai contoh, berilah mainan bagi anak yang juga mengandung unsur edukatif tinimbang kesenangan belaka. Satukan antara makna bermain dengan kedekatan ia kepada Allah lewat jalan pengenalan terhadap ilmu-ilmu Islam. Orang tua bisa menemani anak untuk secara simultan mengkaitkan antara sebuah permainan dengan sains Islam. Dan Alhamdulillah media itu kini sudah cukup banyak.

Maka dari itu, Imam asy-Syahid Hasan al-Banna dalam sebuah risalahnya akhirnya memang menitiktekankan betapa potensi kecerdasan lebih penting untuk kita perhatikan ketimbang sekedar kesenangan belaka. Beliau menyeret nuansa keilmuan dan kepustakaan sebagai elemen terpenting dalam membentuk karakter asasi kanak-kanak, “Adalah sangat penting adanya perpustakaan di dalam rumah, sekalipun sederhana. Koleksi bukunya dipilihkan dari buku-buku sejarah Islam, biografi Salafus Sholih, buku-buku akhlak, hikmah, kisah perjalanan para ulama ke berbagai negeri, kisah-kisah penaklukan berbagai negeri, dan semisalnya”

Generasi Rabbani seperti Imam Syafi’i, Ibnu Taimiyyah, Sayyid Quthb, dan Taqiyudin An Nabhani bukanlah sederetan generasi ulama yang ditempuh dalam satu proses lalu usai. Mereka adalah barisan kalimat panjang yang dimulai dari habitasi memperjuangkan kebenaran Islam sejak dini. Dalam naungan jaminan keluarga pecinta ilmu dan penikmat buku yang memiliki peranan penting dalam meretas paradigma pendidikan usia dini yang pasti Islami. Sebab Rasulullah pernah bersaba, Perumpamaan orang yang mempelajari ilmu pada waktu kecil adalah seperti memahat batu, sedangkan perumpamaan mempelajari ilmu ketika dewasa adalah seperti menulis di atas air. (HR ath-Thabrani dari Abu Darda’ ra.).

Penekanan Tauhid dan Ilmu: Belajar Mendidik Anak Dari Orangtua Imam Syafi’i
AKhirnya kita bisa belajar dari banyak teladan dalam Islam bahwa dunia ini bukan segalanya. Para ulama-ulama terdahulu adalah mereka yang sejak kecilnya justru susah, hidup dalam kemiskinan tapi mampu tampil sebagai pilar memapah Islam dengan kekuatan tauhid dan ilmu yang menyala-nyala.

Salah satu kisah itu dapat kita ambil hikmahnya dalam sekat perjalanan seorang Ulama Besar Islam bernama Imam Syafi’i. Imam an-Nawawi pernah menceritakan bagaimana peran seorang orangtua perempuan di belakang penguasaan Imam Syafi‘i terhadap fiqh. Ibu Imam Syafi’i adalah seorang wanita berkecerdasan tinggi tapi miskin. Namun bisa dikatakan kesetiaannya berada di belakang sang anak lah yang menjadikan Imam Syafi’i menjadi ilmuwan sejati hingga saat ini.

Di Mekkah, Imam Syafi ‘i dan ibunya tinggal di dekat Syi‘bu al-Khaif. Di sana, meski hidup tanpa suami, sang ibu telah sukses menerjemahkan visi jangka panjang tentang arti, Tauhid, Ilmu, dan Keharusan membawa nama harum sang anak ke hadapan Allahuta’ala. Sekalipun hidup dalam sebatang kara, hal itu tidak menghalangi sang ibu untuk menempatkan anaknya dalam kultur pendidikan agama yang terbaik di Mekkah. Sang ibu sadar, ia tidak memiliki banyak uang, namun dan kecintaananya terhadap Allah dan ilmu dari kedua ibu dan anak ini meluluhkan hati sang guru untuk rela mengajar sang Imam meski tanpa dominasi finansi.

Imam Syafi‘i pernah bertutur betapa aroma ketauhidan yang kukuh dan nuansa keilmuan yang kuat adalah dua karakter investasi yang membentuk kepribadian hakiki, “Di al-Kuttab (sekolah tempat menghafal Alquran), saya melihat guru yang mengajar di situ membacakan murid-muridnya ayat Alquran, maka aku ikut menghafalnya. Sampai ketika saya menghafal semua yang dia diktekan, dia berkata kepadaku, “Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu.”

Dan dengan segera, guru itu kemudian mengangkat sang pangeran ilmu sebagai penggantinya, mengawasi murid-murid lain jika beliau berhalangan hadir. Bahkan dengan cepat Imam Syafi’i berhasil merampungkan hafalan Qur’an di al-Kuttab, lalu kemudian beralih ke Masjidil Haram untuk menghadiri majelis-majelis ilmu. Imam Syafi’i kemudian berguru fiqih kepada Muslim bin Khalid Az-Zanji dengan tingkat kecepatan menguasai ilmu dalam jangka waktu relatif cepat.

Az-Zanji kemudian mengakui kemampuan muridnya yang ajaib itu sehingga beliau mengizinkannya memberi fatwa ketika masih berusia 15 tahun. Bayangkan di usia semuda itu Imam Syafi’i telah menjelma menjadi mufti di Masjid Al-Haram Makkah. Inilah buah dari salah satu kerja keras dari seorang ibu yang lebih banyak memberi ilmu ketimbang mainan. Yang lebih banyak berusah payah memberi asupan buku ketimbang jalan-jalan.

Sekalipun hidup dalam kemiskinan, kecintaan Imam Syafi’i tak sama sekali membuatnya pantang menyerah dalam mencintai Islam dan menimba ilmu. Beliau sampai harus mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta semata-mata demi kecintaannya dalam menulis Islam. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi.

Hingga pada usia sebelum beranjak ke 15 tahun, Imam Syafi’i menceritakan hasratnya kepada sang ibu yang sangat dikasihinya tentang sebuah keinginan seorang anak untuk menambah Ilmu diluar Mekkah. Mulanya sang bunda menolak. Berat baginya melepaskan Syafi'i, dalam sebuah kondisi dimana beliau berharap kelak Imam Syafi’i tetap berada bersamanya untuk menjaganya di hari tua. Demi ketaatan dan kecintaan Syafi'i kepada Ibundanya, maka mulanya beliau terpaksa membatalkan keinginannya itu, demi rasa cinta seorang pecinta ilmu kepada seorang bernama ibu. Meskipun demikian akhirnya sang ibunda mengizinkan Syafi'i untuk memenuhi hajatnya untuk menambah Ilmu Pengetahuan ke luar kota.

Sebelum melepaskan Syafi'i berangkat, ibunda tersayang Imam Syafi’i menjatuhkan doa ditengah rasa haru orangtua kandung memiliki anak yang telah jatuh hati pada ilmu, "Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh Alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut Ilmu Pengetahuan peninggalan Pesuruhmu. Oleh karena itu aku bermohon kepadaMu ya Allah permudahkanlah urusannya. Peliharakanlah keselamatanNya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan Ilmu Pengetahuan yang berguna, amin!"

Setelah usai berdo'a, sang ibu memeluk Syafi'i kecil dengan penuh kasih sayang bersama linangan air mata membanjiri jilbabnya. Ia sangat sedih betapa sang anak akan segera berpisah dengannya. Sambil mengelap air mata dari wajahnya, sang ibu berpesan, "Pergilah anakku. Allah bersamamu. Insya-Allah engkau akan menjadi bintang Ilmu yang paling gemerlapan dikemudian hari. Pergilah sekarang karena ibu telah ridha melepasmu. Ingatlah bahwa Allah itulah sebaik-baik tempat untuk memohon perlindungan!” Subhanallah

Selepas do’a itu terlantun syahdu, Imam Syafi'i mencium tangan ibunya dan mengucapkan selamat tinggal kepada ibunya. Sambil meninggalkan wanita paling tegar dalam hidupnya itu, Imam Syafi'i melambaikan tangan mengucapkan salam perpisahan. Ia berharap ibundanya senantiasa mendo'akan untuk kesejahteraan dan keberhasilannya dalam menuntut Ilmu. Imam Syafi’i tak sanggup menahan sedihnya, ia pergi dengan lelehan airmata membanjiri wajahnya. Wajah yang mengingatkan pada seorang ibu yang telah memolesnya menuju seorang bergelar ulama besar. Ya ulama besar yang akan kenang sampai kiamat menjelang.

Oleh karena kehidupannya yang sangat miskin, maka Syafi'i berangkat dengan perbekalan yang sama sekali minim, kecuali cintanya yang telah tertumpah ruah kepada sang ibu. Imam Syafi'i mengisahkan perpisahan dengan ibunya dengan mengatakan, "Sesekali aku menoleh kebelakang untuk melambaikan tangan kepada ibuku. Dia masih terjegat diluar pekarangan rumah sambil memperhatikan aku. Lama-kelamaan wajah ibu menjadi samar ditelan kabus pagi. Aku meninggalkan kota Makkah yang penuh berkah, tanpa membawa sedikitpun bekalan uang. Apa yang menjadi bekalan bagi diriku hanyalah keteguhan iman dan hati penuh tawakkal kepada Allahuta’ala. Serta do'a restu ibuku."

Bayangkan bagaimana peran yang ditopang seorang ibu yang selalu memasrahkan buah hatinya kepada Allah berserta kekuatan tauhid yang menyala-nyala. Inilah karakter sejati seorang ibu yang telah menyerahkan jiwa raga anaknya hanya kepada ilmu. Menyerahkan segala aktivitasnya dalam rangka pengabdian kepada Allah. Dari mulai ia melahirkan, mengasuhnya tanpa suami, membesarkannya, hingga mengantar Syafi’i menjadi Imam Besar Umat Islam hingga kini. Itulah esensi pendidikan sejati. Pendidikan yang mustahil terbayar dengan gelimangan uang dan kompleksitas intsrumentasi.

Eksistensi yang mustahil ditemui dalam program-program pendidikan anak usia dini yang menjadikan tauhid dan kecintaan terhadap ilmu sebagai esensi kedua, ketiga, dan keempat setelah status kaya.

Semoga kita dapat memetik pelajaran berharga dari hal ini. Bahwa anak adalah investasi amal kita dalam rangka pengabdian kita kepada Allah. Semoga kita juga terjebak pada pemenuhan kebutuhan anak yang semu dan offline dari aturan Allah Subhana Wa Ta’ala. Karena Kita, anak kita, dan kecintaan kita kepada Allah adalah tiga kata yang harus kita ingat betul jika ingin sukses di akhirat maupun dunia.

Apabila manusia telah mati, maka terputuslah amal pahalanya kecuali tiga perkara: Amal Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, atau anak soleh yang mendoakannya (HR. Muslim)

Wallahua’lam.

Oleh Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi | eramuslim.com

Aktif di Kajian Zionisme Internasional dan Kuliah Peradaban Islam Depok Islamic Study Circle Masjid UI