17 Jumadil-Akhir 1443  |  Kamis 20 Januari 2022

basmalah.png
ORANGTUA

Dukung Si Kecil Meraih Cita-Cita

http://2.bp.blogspot.com/-wUlkuMM1Y-k/Ta57dVtcwrI/AAAAAAAABfw/TeIhLBfH2qw/s1600/dokter-cilik.jpgMasa kanak-kanak merupakan masa yang penuh mimpi. Tak heran bila si kecil sering mengutarakan cita-cita yang berbeda-beda. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, peran orangtua sangat dibutuhkan.

Semua orang pasti punya cita-cita. Menjadi pilot, dokter, ilmuwan, sampai olahragawan merupakan profesi yang banyak dicita-citakan terutama di masa kanak-kanak. Dikatakan psikolog keluarga Fabiola Setiawan Mpsi, pada masa early childhood (masa anak-anak awal) yaitu sekitar umur 3 sampai 6 tahun, merupakan masa mulai berkembang ideal self, yaitu keinginan untuk menjadi seperti siapa nantinya.

"Umumnya pada usia 4 tahun, anak mulai mengatakan dan dapat memberikan jawaban ingin menjadi seperti siapa kelak," ujar psikolog yang mengambil gelar Magister Profesi Klinis Anak di Universitas Indonesia ini. Psikolog yang akrab disapa Feby ini menuturkan, kualitas jawaban anak usia 4 tahun mengenai cita-cita tentu berbeda dengan jawaban anak usia 6 tahun sesuai perkembangan kognisinya.

"Pada umumnya, anak usia 3–4 tahun memberikan jawaban ingin menjadi princess atau tokoh hero kesukaannya, sementara anak usia 6 tahun mulai dapat menjelaskan dengan logis cita-citanya, misalnya saya ingin jadi pemain sepak bola karena saya suka main bola dan lari saya cepat," contohnya.

Beberapa manfaat yang bisa didapat apabila anak-anak memiliki cita-cita sejak dini adalah, cita-cita dapat menjadi semangat, motivasi, dan harapan yang dapat memacu anak untuk mencapai keinginannya. Pengalaman yang terkait dengan pencapaian cita-cita juga dapat menambah nilai dan kualitas yang positif terhadap dirinya sendiri. Misal cita-citanya ingin menjadi penyanyi, maka anak akan bersemangat mengikuti les vokal, mengikuti lomba nyanyi, dan berlatih dengan giat.

"Dengan dukungan orangtua dan lingkungan serta pengalaman yang dimiliki anak, termasuk kegagalan dan perjuangan, maka akan membuat anak menjadi pribadi yang kuat, pantang menyerah, dan menghargai dirinya," tandas psikolog lulusan Universitas Atmajaya ini.

Masih dikatakan olehnya, bahwa cita-cita anak dipengaruhi pengalaman yang diperolehnya. Misalnya melalui apa yang pernah ia lihat (seperti melihat film atau gambar di buku cerita), dengar (mendengarkan cerita orangtua atau anggota keluarga mengenai profesi tertentu), dan alami (diperiksa dokter, atau diajarkan guru).

"Sebaiknya yang orangtua lakukan adalah dengan memberikan dukungan, meskipun cita-cita tersebut cukup sulit untuk diwujudkan," ungkap psikolog yang juga mengajar di Universitas Katolik Atmajaya Jakarta ini.


Feby menyarankan untuk mendukung anak sesuai dengan perkembangan usianya. Misalnya ketika ia ingin menjadi princess, kita dapat dukung anak dengan melihat sisi positif yang ditampilkan tokoh princess, misalnya menyayangi hewan, berbicara lembut, merawat lingkungan dan dirinya.


Untuk anak yang sudah lebih besar, orangtua dapat memberikan dukungan dengan adanya kesempatan penuh untuk menekuni minatnya tersebut. Misalnya mengikustertakan anak pada tim sepak bola untuk menunjang cita-citanya sebagai pemain sepak bola andal.


"Tentu orangtua dapat memberikan pandangan dan memperkaya wawasan anak mengenai beragam profesi. Orangtua juga dapat membantu anak untuk mewujudkan cita-cita sesuai dengan kemampuan dan bakatnya," ucap psikolog yang disibukkan menjadi narasumber di berbagai media ini.


Peran orangtua juga diperlukan untuk membantu anak tetap optimal dalam mengejar cita-cita-nya. Keseimbangan tetap diperlukan, misalnya dengan memperkenalkan beragam bidang lain yang juga menarik untuk ditekuni, bersama-sama membuat prioritas kegiatan sehari-hari, termasuk waktu untuk bermain dan bersosialisasi, serta rekreasi bersama keluarga yang dapat membuat anak tidak terlalu terpaku pada satu kegiatan (yang menunjang cita-cita) saja. "Peran orangtualah untuk terus bersemangat memperkenalkan beragam kegiatan dengan cara yang menarik dan menyenangkan," sarannya.


Misalnya permainan melukis, memasak, bernyanyi yang dilakukan bersama-sama. Amati minat anak dan berikan kesempatan untuk menekuninya. Misalnya dengan mengikuti kursus atau mengikuti kompetisi dengan persiapan yang matang sebelumnya.


Dikatakan psikolog anak dari Bee Edutainment, Nova Tri Widyasari MPsi, jika anak sudah mengetahui cita-citanya sejak kecil, maka bisa meningkatkan bakat anak untuk menjadi lebih berkembang. Inilah yang membuat anak memiliki modal untuk kemampuan lain yang dimiliki selain potensi intelegensi.


"Pada saat dewasa nanti, ia akan memiliki nilai plus dibandingkan dengan individu lain yang kurang mengembangkan bakatnya," ujar psikolog lulusan Universitas Tarumanagara ini. Jadi, secara umum anak yang sudah terlatih untuk mengembangkan cita-citanya sejak kecil akan memiliki potensi perkembangan yang lebih baik.


Feby menegaskan, yang perlu diingat ialah bahwa keputusan akhir tetaplah di tangan anak. Anak yang kelak dapat meraih cita-cita sesuai dengan minat dan keinginannya serta mampu menikmatinya tentuakan lebih baik dibandingkan dengan anak yang terpaksa menekuni suatu pekerjaan atau profesinya kelak karena mengikuti kehendak Orangtua yang sebenarnya tidak diminatinya.

okezone.com | suaramedia.com