13 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 20 Oktober 2021

basmalah.png

Anak Buat Kesehatan Orang Tua "Meningkat"

http://2.bp.blogspot.com/_V9ssyDwu4fU/S9JTtCbJS9I/AAAAAAAAAEI/JBCyY69ZseM/s320/dad_baby2.jpgBangun tengah malam untuk menyusui atau mengganti popok, rasa putus asa ketika menghadapi anak yang sedang tantrum mungkin sebanding dengan kebahagiaan yang dirasakan orangtua. Sebuah survei berskala besar menyimpulkan anak-anaklah sumber kebahagiaan sejati para orangtua.

Dalam sebuah survei yang melibatkan lebih dari 200.000 pria dan wanita di 86 negara antara tahun 1981 dan 2005 terungkap orangtua berusia 40 tahun yang memiliki satu hingga tiga anak merupakan yang paling merasa berbahagia dibanding pasangan yang tidak punya anak.

Di lain pihak, orangtua yang berusia kurang dari 30 tahun mengakui kurang begitu bahagia dengan kelahiran anak. Sebaliknya orangtua yang berusia 30-39 tahun memiliki level kebahagiaan sama seperti halnya pasangan yang belum diberi momongan.

Bagaimana dengan pasangan yang mulai berusia lanjut? Di atas usia 50 tahun, para ibu dan ayah merasa hidupnya bahagia dengan kehadiran anak-anak, berapa pun anak yang mereka miliki.

Penelitian yang dilakukan oleh Max Planck Institute for Demographic Research di Jerman ini menyimpulkan pasangan yang memutuskan untuk tidak punya anak mungkin berbeda dengan mereka yang memilih sebaliknya. Perbedaan ini akan memengaruhi level kebahagiaan mereka.

Sebelumnya sebuah penelitian menyebutkan memiliki anak bisa mengurangi kebahagiaan perkawinan. Namun dari penelitian terbaru tersebut ternyata rasa tidak bahagia karena kerepotan mengurus anak tadi akan menghilang seiring dengan bertambahnya usia anak.

"Untuk orangtua yang berusia 40 tahun, makin banyak jumlah anak yang dimiliki, makin bahagia mereka. Bisa dibilang anak-anak merupakan investasi kebahagiaan dalam jangka panjang," kata Mikko Myrskyla, ketua peneliti.

Semakin besar usia anak, kerepotan dalam membesarkan anak akan berkurang sehingga stres yang dirasakan ayah dan ibu mulai pupus. Selain itu anak-anak yang sudah dewasa bisa menjadi sumber dukungan finansial para orangtua, terutama di negara-negara yang penduduk lanjut usianya tidak ditanggung oleh negara.

Di negara yang sistem jaminan kesejahteraannya sudah baik, seperti Jerman, Austria atau Swiss, tidak ditemukan perbedaan kadar kebahagiaan dari pasangan yang punya anak atau tidak.

Sementara itu, keluarga yang utuh, terdiri dari ayah dan ibu, ternyata menjadi aspek yang paling berpengaruh pada perkembangan emosional anak. Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang utuh dan secara teratur melewatkan makan malam bersama merasa lebih bahagia dengan hidupnya.

Kehadiran ayah dan ibu dalam proses tumbuh kembangnya menghadirkan perasaan percaya, kedamaian, juga harapan pada anak. Efek positif itu akan lebih kuat jika orangtua membangunbonding dengan anak-anaknya, salah satunya lewat kebiasaan makan bersama minimal tiga kali dalam seminggu.

Sebuah penelitian juga menemukan keluarga yang retak berdampak lebih buruk pada anak dibanding dengan kemiskinan. "Tidak hidup dengan ayah dan ibu memiliki efek negatif lebih besar dibanding anak yang tumbuh dalam situasi materi terbatas," tulis tim peneliti dari Inggris.

Belum lama ini mereka melakukan survei besar terhadap 100.000 orang dalam 40.000 rumah tangga di beberapa negara.

"Relasi antara ayah dan ibu serta hubungan dengan anak-anak sangat berpengaruh pada kecerdasan dan perkembangan emosional anak. "Anak-anak lebih bahagia dalam situasi keluarga di mana orangtua mereka bahagia satu sama lain," katanya. (fn/k2m)

suaramedia.com