11 Rabiul-Awwal 1444  |  Jumat 07 Oktober 2022

basmalah.png

Berharap Jadi Pribadi Kuat, Orangtua Sering Abaikan Stres Anak

http://2.bp.blogspot.com/_leJWWa4jQ-k/S5R8lpCZovI/AAAAAAAAAGY/QOsxbYcRX5Y/s200/anak-stres-dalam-raisesmartkids.jpgPara pakar Psikolog dari UI mengatakan bahwa keluarga adalah sumber pendukung moral bagi anak-anak, bila dalam rumah kurang kondusif maka keluarga dapat menjadi penyebab timbulnya masalah besar untuk perkembangan jiwa mereka.

Hal itu disampaikan secara bergilir pengajar dari Fakultas Psikologi UI yaitu Fitri Fausiah, Sherly Saragih Turnip dan Indah Sari Hutahuruk pada pertemuan dengan masyarakat Indonesia di Athena, ujar Sekretaris Tiga KBRI Athena Jani Mediawati Sasanti dalam keterangannya yang diterima Kantor Berita Antara London.

Kehadiran staf pengajar psikolog UI di Yunani mengikuti pertemuan "The 3rd International Conference on Children and Youth in Changing Societies," yang diadakan di Thessaloniki dimanfaatkan KBRI Athena untuk mengadakan silaturahmi dan berbagi pengetahuan dengan warga masyarakat Indonesia di Athena.

Pertemuan masyarakat diadakan di Aula KBRI Athena dihadiri sekitar 60 warga masyarakat Indonesia dengan antusiasme menghadiri pertemuan walaupun pada saat yang bersamaan terjadi aksi mogok seluruh moda transportasi umum di Athena selama 24 jam.

Dubes RI untuk Yunani, Ahmad Rusdi, menyampaikan ucapan selamat datang kepada ketiga pengajar dan mengharapkan pertemuan ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh masyarakat Indonesia di Yunani.


Kehadiran psikolog itu diharapkan dapat memberikan penjelasan mengenai berbagai masalah yang terjadi di keluarga menyangkut problem tingkah laku anak dan interaksi sosial anak dengan lingkungan terutama bagi bekerja dan hidup di luar negeri.

Dalam paparannya, ketiga pengajar tersebut menyampaikan hasil pengamatan dan penelitian mereka terhadap remaja yang memasuki lingkungan baru.


Kejadian ini akan mempengaruhi segi kejiwaan anak-anak karena untuk memasuki suatu lingkungan baru, mereka harus beradaptasi dengan berbagai nilai baru yang terdapat di lingkungan tersebut.

Tentunya pengalaman ini banyak dialami anak-anak dari para diplomat dan pegawai setempat KBRI serta anak-anak dari masyarakat Indonesia di Yunani.

Diuraikan pula mengenai berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan adaptasi anak di suatu lingungan baru seperti nilai-nilai keluarga, tekanan dari peer group dan pengaruh akses media yang sangat terbuka.

Diungkapkan bahwa menurut penelitian, tingkat stress yang dialami oleh mahasiswa UI sebagai sample penelitian adalah 39 persen.

Tingkat stress yang tinggi ini ditunjukkan dengan berbagai tanda seperti timbulnya perasaan cemas, tidak yakin dan sulit tidur.

Hal ini kadang tidak ditanggapi dengan baik oleh orang tua yang kebanyakan beranggapan bahwa dunia saat ini penuh dengan persaingan sehingga anak-anak diharapkan dapat menjadi "kuat" dan tidak sedikit-sedikit mengeluh.

Untuk itu, dukungan dari keluarga yaitu emotional support sangat membantu dalam meredakan tingkat stress ini, demikian dijelaskan oleh nara sumber.

Selanjutnya disampaikan berbagai hal yang membuat remaja tidak nyaman dalam kehidupan sehari-hari antara lain akses media yang terlalu bebas sehingga mudah untuk menyaksikan tayangan kekerasan dari TV atau internet, konflik orang tua dalam keluarga, pemaksaan penerapan nilai-nilai yang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan sekarang oleh orang tua dan pola asuh yang over protective.

Kesemuanya ini dapat dideteksi secara dini oleh orang tua melalui indikator prestasi sekolah anak-anak.

Sebagai penutup pembicara mengajak masyarakat Indonesia di Yunani untuk membuat suasana di rumah lebih kondusif bagi anak-anak mereka.

Hal ini tentunya mendukung perkembangan kejiwaan anak yang setiap harinya di luar rumah pun telah menghadapi lingkungan yang berbeda dengan suasana di dalam keluarga atau pun dalam kehidupan di Indonesia.

Mengingat tema yang ditampilkan sangat menyentuh dengan kehidupan sehari-hari, banyak pertanyaan dan komentar muncul dari masyarakat pada saat sesi tanya jawab. Sesi tanya jawab yang dijadwalkan berlangsung sekitar satu jam harus diperpanjang.

Masyarakat dengan antusias antara lain menanyakan mengenai solusi terhadap tindak kekerasan di sekolah (bulliying), pengaruh faktor ekonomi terhadap pendidikan anak, anak sebagai korban broken home.

Sejauh mana tingkat kebenaran hasil tes psikologi, pengaruh sistem home schooling terhadap kepribadian anak dan pengaruh generation gap pada pola asuh anak.

Pertemuan diakhiri dengan santap malam bersama hidangan khas Indonesia yang disiapkan oleh Ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan KBRI Athena dan masih dilanjutkan dengan sesi konsultasi informal antara masyarakat Indonesia dengan para dosen tersebut. (fn/an)

suaramedia.com