22 Jumadil-Akhir 1443  |  Selasa 25 Januari 2022

basmalah.png
ORANGTUA

5 Kebutuhan Empati Anak Autis

5 Kebutuhan Empati Anak Autis Fiqhislam.com - Orangtua yang memiliki anak penyandang autisme perlu bersabar, lebih peduli, memahami kebutuhan anak, berupaya tegas namun tidak keras, dan semuanya itu bisa dijalankan dengan berempati.

Psikiater, dr Kresno Mulyadi, SpKj, menyebutkan lima kebutuhan anak penyandang autisme, yang perlu diperhatikan lebih ekstra oleh orangtua juga keluarganya. "Dalam mengasuh dan merawat anak dengan autisme, kunci utamanya adalah empati," katanya kepada Kompas Female di sela acara peluncuran buku karangannya, Autism is Treatable,  yang diterbitkan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi The London School of Public Relations Jakarta memeringati hari jadi LSPR Jakarta ke-19, di Jakarta, Minggu (10/7/2011).

Perlu dipahami, autisme merupakan suatu spektrum dengan rentang yang luas. Artinya ada autisme berat, sedang, ringan, dan sangat ringan. Semuanya bisa diterapi. Semuanya juga membutuhkan
empati orangtua dalam mengasuh dan merawat anak autis.

1. Komunikasi
Biasanya, yang terjadi pada pengasuhan anak dengan autisme adalah komunikasi yang tidak optimal antara anak autis dan orangtuanya. Setiap kali berkomunikasi dengan anak autis, orangtua perlu bersabar dan tidak menekan anak.

"Ajak anak bicara pelan-pelan, beritahu anak apa maksud Anda. Saat berkomunikasi, bisa jadi anak sedang berimajinasi, sehingga ia tidak menangkap pesan Anda saat itu. Jadi, bersabarlah, dan pahami kondisinya saat itu, ajak lagi ia berbicara agar maksud Anda tersampaikan dan diterima anak dengan baik," jelas motivator anak yang akrab disapa Kak Kresno ini.

2. Sosialisasi
Pada anak dengan autisme berat ia cenderung menyendiri, sedangkan anak dengan autisme ringan cenderung memberi kesan ia pilih-pilih terhadap sesuatu. 

Sekali lagi, pesan Kak Kresno, kenali autisme pada anak, dan jangan melarang anak melakukan apa yang disukainya atau membuatnya nyaman. Temani anak dalam berkegiatan, usahakan jangan ada pemaksaan. Jangan juga memberikan labeling pada anak ketika ia melakukan sesuatu yang menurut kebanyakan orang, aneh. Pahami kondisi anak Anda, berempati lah atasnya.

3. Emosi
Anak penyandang autisme memiliki emosi yang labil. Ia mudah marah, takut yang tidak rasional, tertawa berlebihan, jelas Kak Kresno. Namun jangan pernah menganggap perilaku anak autis sebagai sesuatu yang aneh.

Sebagai orangtua, Anda perlu memperlakukan anak autis dengan lebih bijak. Pahami emosinya. Bagaimana pun anak autis memiliki perasaan yang peka. Ia bisa sangat peka, namun juga bisa tidak punya empati sama sekali. Perlakuan orangtua atau keluarga yang keliru atas emosinya, berdampak pada anak autis.

"Dengan tidak memahami emosi, tidak berempati atas emosi anak autis, konsep dirinya akan jatuh. Sama seperti anak pada umumnya, ketika ia diberi label, maka ia justru akan menjadi seperti yang dilabelkan kepadanya. Jika mengatakan anak nakal, maka ia akan benar-benar bersikap nakal," jelas Kak Kresno.

4. Repetitif
Anak penyandang autisme cenderung melakukan sesuatu yang disenanginya secara berulang. Lagu yang disukainya diputarnya berulang kali. Makanan yang disukainya akan terus menerus dikonsumsinya setiap kali ia lapar. Pakaian yang disenanginya akan terus dipilihnya, cuci pakai berulang-ulang,

"Perilaku repetitif ini dialami sejumlah anak penyandang autisme. Tugas orangtua adalah mengenalkan hal lain yang berbeda kepadanya. Kalau anak belum mau, tidak apa, jangan dipaksa, namun jangan juga memberikan labeling kepada anak atas perilaku repetitifnya," lanjutnya.

5. Persepsi
Anak autis kerapkali tidak nyaman dengan penginderaannya. Ia tak menyukai suara tertentu yang didengarnya. Matanya tak nyaman saat memandang sinar tertentu. Orangtua perlu berempati dan memahami kondisi ini.

"Orangtua perlu menyikapi dengan cara yang tepat. Sabar, berempati, namun tidak memanjakan. Berupaya tegas namun tidak keras," tandas Kak Kresno.

kompas.com

 

{mooblock=Kenapa Anak Autis Tak Mau Dipeluk?}

Para ilmuwan mengklaim telah menemukan penyebab mengapa anak yang mengidap autisme tidak mau disentuh atau dipeluk, bahkan oleh orangtuanya sendiri.

Jawaban ini diperoleh setelah para ilmuwan meneliti pengidap sindrom Fragile X. Ini merupakan penyakit genetik yang kerap dikaitkan dengan autisme. Sindrom tersebut juga dikenal sebagai penyebab utama retardasi mental dan kesulitan belajar yang bersifat turun-temurun.

Hasil riset menunjukkan, Fragile X menyebabkan tertundanya perkembangan sensor pada bagian otak yang disebut korteks, yang berfungsi merespons sentuhan. Efek domino yang dipicu oleh tentundanya perkembangan ini menyebabkan hubungan di antara sel otak menjadi terganggu.

Fragile X disebabkan oleh mutasi gen pada kromosom X perempuan yang memengaruhi pembentukan sinaps, jaringan penting yang menghubungan sel-sel saraf dalam otak. Oleh karena anak laki-laki hanya memiliki satu kromosom X, mereka menjadi lebih rentan dipengaruhi sindrom ini ketimbang perempuan. Adapun pada perempuan yang memiliki dua kromosom X, pengaruhnya tidak akan terlalu besar kalaupun salah satu kromosomnya terganggu. Anak laki-laki secara umum memang lebih rentan mengidap autisme ketimbang perempuan.

Seperti dilaporkan dalam jurnal Neuron, para ilmuwan Amerika Serikat melakukan riset pada tikus yang mengidap Fragile X. Dari riset ditemukan bahwa mutasi yang terjadi pada tikus ini menghalangi produksi sejenis protein yang berkaitan langsung dengan protein pembentuk sinaps. Ini berarti bahwa perkembangan sinaps tertunda pada sensor korteks.

"Ada periode kritis dari perkembangan akhir ini karena otak menjadi sangat plastik dan berubah menjadi sangat cepat. Semua elemen dari perkembangan yang cepat ini seharusnya terkoordinasikan sehingga otak menjadi terhubung dengan benar dan berfungsi semestinya," ungkap pimpinan riset, dr Anis Contractor, dari Northwestern University.

Menurut dr Contractor, mereka yang mengidap sindrom ini mengalami gangguan   perabaan (tactile defensiveness), menjadi cemas, dan sering menarik diri dari hubungan sosial. Mereka tak mau menatap mata orang lain, tak mau dipeluk oleh orangtuanya, serta sangat sensitif terhadap sentuhan dan suara.

"Semua ini menyebabkan kecemasan bagi keluarga dan teman-teman sebagimana halnya dengan pasien Fragile X sendiri. Kini kami memahami, untuk pertama kalinya, apa yang salah dengan otak mereka," paparnya. (kompas.com)

{/mooblock}

 

{mooblock=Tips Bepergian dengan Anak Autis}

Anak penderita autisme menyukai hal-hal yang rutin dan terstruktur. Karena itu, bepergian berarti mengganggu rutinitas mereka. Tak heran bila banyak orangtua yang memiliki anak autis menghindari acara bepergian. Padahal, dengan tips berikut, orangtua tetap bisa mengajak anak autis melakukan perjalanan jauh untuk liburan.

1. Jelaskan tempat tujuan
Sebelum bepergian, jelaskan kepada anak tentang tempat tujuan yang akan didatangi. Demikian saran dari Daniel Openden, Direktur Southwest Autism Research and Resource Center, Phoenix, AS. "Tunjukkan foto atau film mengenai lokasi yang akan dikunjungi. Ceritakan pula alasan datang ke tempat tersebut dan kegiatan yang akan dilakukan di sana," katanya.

2. Bepergian dengan pesawat
Jelaskan kepada awak pesawat mengenai kondisi anak Anda. Untuk mengusir rasa bosan di dalam pesawat, siapkan buku atau mainan untuk anak. Bawalah permen, terutama bila Anak tidak bisa berkomunikasi verbal dan tidak bisa mengungkapkan bila telinganya berdengung.

3. Menginap
Berencana untuk menginap di hotel selama liburan? Anda bisa mulai mengajarkan anak untuk menginap di tempat lain, bisa di rumah kerabat atau hotel di kota untuk satu malam agar anak terbiasa dengan suasana tidur yang lain. Agar anak tidak terlalu "kaget" dengan suasana baru, bawalah bantal atau selimut yang biasa dipakainya.

4. Keamanan
Untuk berjaga-jaga, kenakan tanda pengenal yang berisi data diri dan nomor telepon Anda. Bawalah juga foto anak untuk ditunjukkan pada polisi bila si kecil terpisah dari Anda.

5. Sesuaikan minat anak
Agar si kecil menikmati perjalanannya, ajak ia mengunjungi tempat-tempat yang sesuai dengan minatnya. Misalnya ke Sea World bila ia tertarik pada hewan laut atau ke kolam renang bila ia suka berenang. Hindari jadwal yang terlalu padat, luangkan waktu agar anak bisa bermain-main di kamar hotel agar si kecil tak terlalu lelah.
(kompas.com)

{/mooblock}