16 Dzulhijjah 1442  |  Senin 26 Juli 2021

basmalah.png

Seorang Ibu Asyik BBM-an, Bayi Mati Akibat Tertimpa Bantal

Seorang Ibu Asyik BBM-an, Bayi Mati Akibat Tertimpa BantalSungguh aneh jagad ini, karena keranjingan BlackBerry dengan BBM-an, seorang ibu menelantarkan anaknya yang masih berusia satu setengah bulan meninggal lemas, akibat kehabisan nafas saat menangis ditempat tidur, karena gelisah anak ini tertimpa bantal pada mukanya sehingga sulit bernafas hingga lemas dan menemui ajalnya.

Kejadian ini baru saja terjadi sekitar jam 11.45 siang ini, saat sang suami pulang dari tempat kerjanya untuk melaksanakan sholat jum’at dan meyiapkan segala sesuatunya dari rumah, setelah memasuki kamar didapati bayinya sudah lemas tak ada suaranya seperti biasa, sementara sang ibu tengah asyik ber-BBM-an ria dengan BB-nya di ruang tamu.

Seketika itu juga sang bapak melarikan bayinya itu dan membawa ke klinik kami untuk memeriksakan keadaan bayinya, namun sekali lagi sebuah kejadian menyedihkan telah terjadi, bayi itu telah diperiksa oleh dokter dan didapati sudah tidak bernyawa lagi walau masih terasa hangat sepertinya nyawanya lepas baru beberapa menit yang lalu, dokter yakin dengan kematian bayi ini karena tidak ditemukan suara jantung, suara paru dan dipastikan pupil (iris) dari kedua matanya yang sudah melebar (midriasis) dan tidak adanya refleks cahaya dari pupil mata itu, ini adalah salah satu tanda pasti kematian karena relaksnya otot siliaris pupil dalam bola mata.

Saat datang ke klinik kami, bapak ini membopong bayinya didampingi sang ibu yang masih menggenggam BlackBerry-nya itu, setelah dokter menjelaskan semua keadaan yang ada, spontan sang bapak merampas BB istrinya itu dan melemparkan ke tembok klinik hingga hancur berantakan, pemandangan emosi yang tak terkendali dari seorang bapak yang telah kehilangan seorang anak pertamanya, akibat kelalaian seorang istri yang lupa akan kewajibannya mengurus dan menjaga bayinya akibat asyik berBBM-an dengan BlackBerrynya itu.

Inilah sebuah pelajaran lagi yang kita bisa petik, dari sebuah kejadian nyata akibat kemajuan tekhnologi dibidang gadget yang membuat seorang ibu lalai pada bayinya yang menangis, tapi tetap asyik dengan BlackBerry-nya itu.

Sungguh miris sekali melihatnya…

Ibu…janganlah kau lupa akan tugas muliamu untuk memelihara, merawat, membesarkan, menjaga dan mendidik anak-anakmu itu…  Astaghfirullahal’adzim…

Salam Perihatin, Titi
kompasiana.com
 

{mooblock=Di antara Pembaca, Ada Pula yang Menyangsikan Cerita Titi}


Di antara pembaca, ada pula yang menyangsikan cerita TitiKeasyikan chatting lewat BlackBerry Messenger (BBM) memang sering menyita waktu dan membuat banyak orang yang lupa diri. Bahkan, bisa berakibat fatal kalau sampai membuat lalai dengan keadaan di sekitarnya. Di Baturaden, Banyumas, saat asyik ber-BBM ria, seorang ibu melalaikan bayinya sehingga tewas tertimpa bantal. Peristiwa tragis ini diceritakan oleh seorang Kompasianer dengan nama pena Titi dalam tulisannya di Kompasiana, Jumat (30/9/2011) siang tadi.

Menurut cerita Titi, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.45 tadi. Saat bapak dari bayi tersebut pulang dari tempat kerja untuk melaksanakan shalat Jumat, ia mendapati sang bayi sudah lemas dan tak bersuara seperti biasa. Sementara sang ibu tengah asyik menggunakan BlackBerry-nya di ruang tamu. Seketika itu juga sang bapak melarikan bayinya ke klinik untuk memeriksakan keadaan bayinya.

Namun malang, bayi itu sudah tidak bernyawa lagi walau masih terasa hangat. Hasil pemeriksaan dokter, jantung bayi itu tak lagi berdetak, tidak ada suara paru, serta dipastikan pupil dari kedua matanya yang sudah melebar atau midriasis dan tidak adanya refleks cahaya dari pupil mata itu. Ini adalah salah satu tanda pasti kematian karena rileksnya otot siliaris pupil dalam bola mata.

"Saat datang ke klinik kami, bapak ini membopong bayinya didampingi sang ibu yang masih menggenggam BlackBerry-nya itu. Setelah dokter menjelaskan semua keadaan yang ada, spontan sang bapak merampas BB istrinya itu dan melemparkan ke tembok klinik hingga hancur berantakan," tulis Titi.

Cerita miris tersebut langsung mendapat banyak tanggapan dari pembaca Kompasiana. Hanya dalam hitungan jam sejak diunggah sekitar pukul 12.00, tulisan itu sudah dibaca lebih dari 60.000 kali dan ada 75 komentar sampai pukul 22.00. Rata-rata dari komentar itu mengingatkan kembali kepada semua orang agar tidak lalai menggunakan teknologi.

Ada yang menyalahkan sang ibu. Tetapi, ada juga yang tetap bersimpati dengan peristiwa yang menimpa keluarga tersebut. Bagaimana trauma psikologis sang ibu saat disalahkan oleh suami sebagai penyebab kematian anaknya.

"Inalilahi wa innailaihi rojiun…. Semoga ayahnya diberi ketabahan dan ibunya mendapat pelajaran yang berharga...," demikian salah satu komentar.

Di antara pembaca, ada pula yang menyangsikan cerita Titi, bahkan menuding sebagai hoax karena tidak disertai rincian lokasi kejadian dan korban. Namun, menurut Titi, menjadi hak tempatnya bekerja untuk merahasiakan data pasien, kecuali untuk kepentingan penyelidikan hukum. Adapun Titi merupakan salah satu penulis di Kompasiana yang akunnya terverifikasi.
{/mooblock}

 

{mooblock=Bayi Tewas karena Ibu Asyik BBM Bukan Berita Bohong}


Bayi Tewas karena Ibu Asyik BBM Bukan Berita BohongBerita tewasnya seorang bayi akibat tertimpa bantal saat sang ibu asyik menggunakan Blackberry Messenger (BBM) menimbulkan kehebohan di dunia maya. Tidak sedikit pengguna internet yang meragukan keaslian cerita yang disampaikan Titi, seorang Kompasianer yang sehari-hari bekerja sebagai perawat di sebuah klinik di Baturaden, Banyumas.

Lewat akunnya di Kompasiana, Titi membantah anggapan banyak orang yang menuduhnya menyebar berita bohong atau hoax.

"Sesuai petunjuk dan arahan dari pimpinan di klinik tempat saya bekerja, saya diperintahkan membuat tulisan lagi untuk mengklarifikasi dan menjelaskan tujuan awal dari penulisan itu. Sungguh tidak ada tujuan untuk membuat HOAX," tulis Titi di Kompasiana.

Dia juga tidak bermaksud membuka sebuah musibah yang dialami pasiennya, tetapi murni hanya bertujuan untuk mengingatkan orang lain terhadap dampak negatif dari penggunaan gadget. Hal ini juga disampaikan agar setiap orang lebih berhati-hati dan lebih bijak dalam menggunakannya.

"Jadi, sekali lagi, tulisan itu murni untuk mengimbau pembaca dan masyarakat luas agar bisa memetik sebuah pelajaran yang sangat berarti sehingga ke depannya hal ini tidak perlu terjadi lagi dan kalau bisa jangan terulang lagi," lanjutnya.

Hingga saat ini, tulisan berjudul "Satu lagi Kejadian Menyedihkan, Seorang Ibu Asyik BBM-an, Bayi Mati Akibat Tertimpa Bantal" yang ditayangkan di Kompasiana sejak Jumat (30/9/2011) sudah dibaca lebih dari 220.000 orang. Cerita ini menyebar lewat layanan BBM, dan hampir tiga ribu orang menyebarkannya lewat Facebook dan Twitter.

Saat dihubungi lewat telepon dan SMS, Titi mengaku tidak bisa memberikan keterangan apa pun karena terikat oleh kode etik profesinya sebagai perawat. Semua keterangan terkait hal itu sudah dipaparkan lewat blognya di Kompasiana.

{/mooblock}

 

{mooblock=Penjelasan Mengenai Tulisanku yang Fenomenal}

Penjelasan Mengenai Tulisanku yang FenomenalTanpa terduga dan sangat mengejutkan diri saya sendiri selaku penulis, yang menuliskan kejadian dari pasien kami yang sangat miris itu.

Tujuan awal saya menuangkan kejadian pasien kami dalam bentuk tulisan di media Kompasiana.com adalah untuk sekedar berbagi tentang adanya dampak negative dari sebuah tekhnologi gadget yang marak mewarnai kehidupan masyarakat kita belakangan ini, seperti FB, Tweeter, BBM dan lain sebagainya.

Saya selaku penulis sungguh tidak ada tujuan untuk menyebarkan berita musibah pasien kami itu, karena kebetulan saja kejadian ini terjadi dan kami terima sebagai bentuk pelayanan kami kepada masyarakat di bidang pelayanan kesehatan.

Sesungguhnya banyak kasus yang kami terima dan kami atasi yang juga berakibat fatal berupa hilangnya nyawa sang pasien, namun karena kasus yang saya tuliskan ini berkaitan dengan trend saat ini yang sedang keranjingan dengan jejaring sosial dan memang itu terjadi, makanya saya angkat dalam bentuk tulisan yang tujuannya bukan untuk mengekspos berita musibah dari pasien kami, tapi tujuan yang paling mendasar untuk mengingatkan pembaca dan masyarakat luas untuk lebih bijaksana dan bisa mengendalikan diri terhadap penggunaan tekhnologi gadget yang juga bisa mendatangkan musibah bila kita tidak bisa mengendalikannya.

Adapun  kejadian yang menjadikan tulisan itu booming dan menjadi headline (HL) di berbagai media selain Kompasiana.com seperti Tekno-Kompas.com dan Tribunnews.com ini mungkin disebabkan hebatnya era informasi di bidang cybernet yang ada saat ini.

Saat ini-pun penulis sudah dihubungi oleh beberapa pihak, termasuk dari Pembina/Admin Kompasiana.com untuk menanyakan perihal berita yang saya tuliskan itu.

Dan sesungguhnya pagi ini-pun saya sudah dipanggil oleh pimpinan di klinik tempat saya bekerja dan diadakan rapat mendadak dikalangan staf dan mengevaluasi isi tulisan yang saya postingkan itu.

Sesuai petunjuk dan arahan dari pimpinanku di klinik tempat saya bekerja, saya di perintahkan membuat tulisan lagi untuk mengklarifikasi dan menjelaskan tujuan awal dari penulisan itu, sungguh tidak ada tujuan untuk membuat HOAX, atau membuka sebuah musibah dari pasien kami, atau sengaja membuka rahasia jabatan kami dibidang pelayanan medis, tapi murni hanya untuk mengingatkan akan dampak negative dari penggunaan tekhnologi gadget yang marak belakangan ini di masyarakat, agar lebih hati-hati, lebih bijak dan lebih bisa mengendalikan diri sehingga tidak perlu kejadian seperti yang dituliskan terjadi, sehingga berdampak harus hilangnya nyawa yang sangat menyedihkan itu.

Jadi sekali lagi tulisan itu murni untuk menghimbau pembaca dan masyarakat luas agar bisa dipetik sebuah pelajaran yang sangat berarti, sehingga kedepannya tidak perlu terjadi lagi dan kalau bisa jangan terulang lagi.

Hal serupa bisa saja terjadi sebagai dampak negative dari kesalahan dan kurang bijaknya dalam penggunaan tekhnologi gadget ini, seperti membaca SMS saat berkandara mobil atau motor, atau menerima telepon/HP atau berbicara via HP saat sedang mengendarai kendaraan, semua itu bisa juga berakibat fatal dan klinik kami-pun menerima banyak sekali kasus kematian akibat kelalaian seperti itu.

Jadi sekali lagi, saya selaku penulis tidak ada tujuan jahat atau tujuan untuk merugikan pihak lain, karena dalam tulisan itu-pun penulis tidak menyebutkan nama dan identitas korban, ataupun nama institusi klinik kami atau nama dokter yang menangani kasus kecelakaan itu.

Dan saya juga diperintahkan oleh pimpinan agar tidak memperkeruh keadaan, untuk tidak memberikan keterangan apapun yang berkaitan dengan semua kejadian yang saya tuliskan itu, alasannya adalah:

- Atas permintaan keluarga pasien yang didampingi aparat untuk tidak menjadi konsumsi publik dan sudah diselesaikan sesuai prosedur yang berlaku.

- Atas dasar perintah pimpinan yang mengharuskan untuk tetap menegakkan undang-undang kesehatan tentang rahasia jabatan profesi dokter.

- Atas petimbangan Rapat Pimpinan, saya hanya sebagai karyawan/perawat, jadi tidak memiliki hak untuk memberikan keterangan apapun, kerena diikat oleh kode etik keperawatan yang juga harus mendukung undang-undang kesehatan tentang rahasia jabatan profesi dokter.

Demikian tulisan ini saya tuliskan untuk memberikan penjelasan kepada semua pembaca dan khalayak ramai, bahwa itulah tujuan sesungguhnya dari penulisan itu.

Walaupun saya mendapat peringatan dari pimpinan, tapi pimpinan saya sangat bijaksana sekali, dan juga memberikan apresiasi yang baik, atas kemampuan saya dan hobby saya dalam bidang tulis-menulis, walaupun selama ini dinilai belum melanggar kode etik penulisan dan kode etik profesi/kepegawaian dan kode etik lainnya.

Dan akhirnya saya-pun telah mendapat banyak dukungan agar tetap semangat dalam tulis-menulis yang memberikan manfaat dan kebaikan.

Salam, Titi.
{/mooblock}