21 Muharram 1444  |  Jumat 19 Agustus 2022

basmalah.png

Fenomena Anak yang tak Mau Mengasuh Orang Tua Lanjut Usia

Fenomena Anak yang tak Mau Mengasuh Orang Tua Lanjut Usia

Fiqhislam.com - Media sosial dihebohkan dengan kabar seorang ibu lanjut usia yang dititipkan tiga anaknya ke sebuah panti jompo. Dalam surat keterangan yang ditandatangani tiga anak tersebut disebutkan jika anak-anaknya menitipkan ibunya karena alasan sibuk.

Trimah, nama ibu malang tersebut. Kisahnya viral setelah surat pernyataan yang dibuat anak-anak Trimah kepada Panti Jompo di Griya Lansia Husnul Khatimah, Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur, tersebar di media sosial dan viral.

Kondisi Ibu Trimah yang menjadi viral di sosial media karena ditempatkan di panti jompo oleh ketiga anaknya mengundang berbagai tanggapan. Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar NU (PBNU), KH Mahbub Maafi mengatakan tindakan berbakti kepada orang tua atau birrul walidaimi harus dilakukan oleh anak dan terus berlanjut. Terlebih, saat orang tua sudah tidak bisa melakukan apa pun.

“Berbuat kebaikan kepada orang tua sudah menjadi kewajiban bagi anak dan akan sangat luar biasa lagi ketika orang tua sudah tidak bisa berbuat apa pun,” kata Mahbub, Senin (1/11).

Kewajiban mengurus orang tua, terutama saat mereka sudah lanjut usia harus tetap dilakukan meskipun kondisi anak sedang sibuk karena pekerjaan. Dalam Islam, jika salah seorang orang tua sudah lanjut usia, anak seharusnya merawatnya dengan baik. Allah berfirman dalam surat Al Isra ayat 23-24:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang.

Pengasuh pesantren Tunas Ilmu Purbalingga sekaligus dosen Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyyah Imam Syafi'i Jember, Ustadz Abdullah Zaen Lc.,MA menjelaskan, Rasulullah Saw mendoakan celaka anak yang diberi kesempatan bisa menjumpai usia lanjut orangtuanya, lalu ia tidak memanfaatkannya untuk mengejar surga.

"رغم أنف عبد أدرك والديه أو أحدَهما فلم يَدْخُل الجنة"

"Celakalah seseorang yang berkesempatan menjumpai kedua orangtuanya menginjak usia lanjut, namun hal itu tidak menyebabkannya masuk surga." HR. Ibn Khuzaimah, Ibn Hibban serta al-Baihaqy dalam al-Kubra dan ini merupakan redaksi beliau. Al-Albaniy menilai hadits ini hasan sahih.

"Kaidah menyebutkan bahwa 'balasan itu sesuai dengan perbuatan'. Barangsiapa yang durhaka kepada orang tuanya, maka kelak anak dia akan durhaka kepadanya," ucap Ustadz lulusan S2 jurusan Aqidah, Universitas Islam Madinah ini.

Ustadz melanjutkan, terlebih lagi telah ditegaskan dalam sebuah hadits bahwa azab atas perbuatan durhaka kepada orang tua akan diterima pelakunya di dunia, sebelum di akhirat.

‌اثْنانِ ‌يُعَجِّلُهُما ‌الله ‌فِي ‌الدُّنْيا: البَغْيُ وعُقُوقُ الوالدين

"Dua dosa yang dipercepat balasannya di dunia oleh Allah, yaitu berlaku zalim dan durhaka kepada kedua orang tua." HR. Thabaraniy dan isnadnya dinilai hasan oleh al-Munawiy.

Sekretaris Umum Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengatakan keprihatinan karena maraknya fenomena anak yang tidak mau mengasuh orang tua yang sudah lanjut usia.

“Ini adalah masalah sosial dan moral yang serius. Dalam ajaran Islam, anak diwajibkan mengasuh dan mengasihi orang tua, apa pun keadaannya,” katanya.

Di sisi lain, fenomena yang dialami oleh Ibu Trimah menyoroti pentingnya pemerintah dan masyarakat dalam menyediakan layanan sosial bagi para orang lanjut usia (lansia) seiring meningkatnya tingkat harapan hidup jumlah lansia. Selain itu, faktor lain juga berkontribusi, seperti kecenderungan kehidupan yang hedonistik, materialistik, dan individualis yang membuat sebagian masyarakat sibuk dengan urusan pribadi.

Inilah yang membuat mereka menjadi sosok yang tidak peduli kepada orang lain terlebih kepada orang tua sendiri. Oleh karena itu, Abdul menyarankan pemerintah untuk segera menangani masalah ini.

“Pemerintah khususnya kementerian sosial perlu segera mengambil langkah strategis untuk mengatasi masalah lansia,” ujar dia. Abdul juga menyarankan agar dilakukan edukasi kepada masyarakat soal lansia. Dalam hal ini, pemerintah bisa memfasilitasi masyarakat yang memberikan layanan lansia.

“Misalnya Muhammadiyah sudah membentuk Muhammadiyah Senior Care. Selain yang melayani di panti juga ada pelayanan kunjungan ke ruma. Ada juga gathering pekanan, pelayanan kesehatan, dan lain-lain,” tambahnya.

Dalam Islam, telah digambarkan hubungan anak dan orang tua.

Pertama, ganjaran surga. Dalam kitab Nashoihul Ibad karya Imam Nawawi, sahabat Nabi, Umar bin Khattab diriwayatkan berkata yang artinya:

Seandainya tiada kekhawatiran dianggap mengetahui hal-hal yang ghaib, niscaya aku bersaksi golongan berikut adalah penghuni surga, yaitu fakir yang mempunyai tanggungan (keluarga), istri yang diridhoi suaminya dan istri yang menyedekahkan mahar kepada suaminya, orang yang diridhoi kedua orang tuanya dan orang yang bertaubat dari dosa.”

Imam Nawawi menjelaskan perkataan ini adalah hadits mauquf atau hadits yang diberitakan oleh para shahabat dari sabda Rasulullah SAW. Meski begitu, dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa orang yang mendapat ridho dari orang tuanya termasuk dari golongan ahli surga. tentunya keridho-an orang tua didapat dengan cara memperlakukan orang tua dengan baik, berupaya membuat mereka senang hingga merawat mereka saat usia renta.

Sebuah sabda Nabi Muhammad SAW bahkan menjelaskan, orang-orang yang tidak mendapat keridhoan orang tua, padahal masih bisa mendapati orang tua saat renta adalah orang yang terhina.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ». قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ »

Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, ”(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim)

Kedua, ridho orang tua adalah ridho Allah Swt. Dari Abdullah bin Amru, Rasulullah SAW bersabda:

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَ سَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

Ridho Allah tergantung pada ridho orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi).

Perlakuan yang baik kepada orang tua akan membuat mereka ridho kepada anak-anaknya. Sebaliknya, jika orang tua justru murka kepada anaknya, maka saat itu juga anak-anak orang tua tersebut mendapat murka Allah SWT.

Ketiga, amalan para Nabi. Selain diajarkan oleh Rasulullah, berbakti kepada orang tua juga adalah amalan para Nabi dan orang-orang saleh terdahulu.

Dalam Alquran, Allah SWT berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: 'Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhoi. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri'.” (QS. Al Ahqaf: 15)

Berbakti kepada orang tua juga merupakan perilaku Nabi Isa AS:

Allah SWT berfirman:

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آَتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا (30) وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ مَا دُمْتُ حَيًّا (31) وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا (32)

Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 30-32). [yy/republika]

Oleh Meiliza Laveda | Rossi Handayani