13 Rabiul-Awal 1443  |  Rabu 20 Oktober 2021

basmalah.png

Tidak Sendiri dalam Mendidik Anak

Tidak Sendiri dalam Mendidik Anak

Fiqhislam.com - Tuntunan mendidik anak telah dicontohkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagai teladan paripurna bagi kita umatnya. Lantas bagaimana kita sebagai orang tua menerapkan tuntunan Rasulullah ini?

Anak ibarat kertas putih, yang bisa ditulis dengan tulisan apa saja, maka peran orangtua sangatlah vital. Karena melalui orang tualah, anak akan menjadi manusia yang baik atau tidak. Namun, kita pun tidak boleh menafikkan bahwa ada faktor-faktor eksternal yang kadangkala juga memberikan pengaruh yang besar bagi perkembangan anak.

Kita tahu hadits Nabi Shallallahu β€˜Alaihi wa sallam bagaimana pengaruh lingkungan terhadap seseorang, yaitu: β€œSeseorang berada di atas kebiasaan agama sahabat dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kamu memperhatikan siapakah yang menjadi sahabat dekatnya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi)

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa pengaruh lingkungan itu sangat besar, dia bisa mewarnai seseorang, bahkan dia bisa menimpa warna pendidikan yang diberikan orang tua di rumah. Maka para orang tua harus mewaspadainya.

Ustaz Abu Ihsan Al Atsaary menjelaskan, keliru apabila kita mengira pendidikan anak hanya diperankan oleh kedua orang tua. Sebab realitanya banyak sekali pihak-pihak yang turut serta mewarnai corak pendidikan anak-anak. Bahkan seringkali pihak lain ini lebih besar dan lebih intens daripada peran orang tua.

"Maka atas dasar itulah kewaspadaan orang tua sangat dibutuhkan. Sebab apabila kita lengah, boleh jadi semua pengajaran yang kita berikan kepada anak akan dimentahkan oleh pendidik-pendidik liar di luar sana,"papar dai yang kerap memberi kajian parenting islami di berbagai acara dakwah ini.

Menurutnya, ada beberapa pihak yang memiliki peran besar dalam pendidikan anak kita di luar rumah, yaitu sekolah, teman atau sahabat media (internet, televisi, HP, majalah, buku cerita) karib kerabat, pembantu.

Dalam hal ini kita juga harus menyadari dan mengetahui bahwa orang tua tidak boleh menyerahkan pergaulan anak kepada anak itu. Orang tua tidak boleh membebaskannya sebebas-bebasnya. Harus ada kendali (kontrol) dari orang tua. Orang tua juga berhak, bahkan harus ikut campur dalam menentukan teman-teman pergaulan anaknya. Sebagaimana kita juga menentukan kemana anaknya ini akan belajar atau sekolah. Apalagi ketika anak masih dalam usia berkembang, seperti misalnya pra baligh, baligh dan paska baligh. Itu adalah waktu-waktu yang sangat kritis. Apabila orang tua lengah pada masa-masa seperti itu, ini bisa memberi pengaruh yang buruk kepada anak.

"Maka dari itu orang tua di sini tetap harus punya peran dan perhatian, bahkan campur tangan di dalam menentukan hal-hal penting dalam kehidupan anak,"urai Ustaz Abu Ihsan dalam salah satu kajian tentang 'Mencetak Generasi Rabanni' di kanal muslim tersebut.

Peran Sekolah

Ustaz Abu Ihsan Al Atsaary juga memaparkan, di sekolah (terutama sekolah dasar) inilah diletakkan dasar-dasar kepribadiannya. Maka orang tua harus memilihkan sekolah yang betul-betul baik bagi anak-anak mereka. Sekolah memiliki peran dan pengaruh yang sangat besar. Karena di sekolah anak menghabiskan sebagian besar waktunya. Bahkan sekarang ini mungkin anak lebih banyak di sekolah daripada di rumah. Walaupun untuk selama masa pandemi ini anak-anak masih belajar di rumah. Tapi itu tentunya tidak selamanya, nanti akan kembali normal dan anak akan kembali sekolah.

Waktu di rumah mungkin hanya beberapa saat, selebihnya rumah hanya tempat untuk tidur kemudian berangkat lagi ke sekolah. Sekolah bisa dikatakan lingkungan kedua setelah rumah.

Di sekolah, anak-anak ini akan berkumpul dari berbagai latar belakang sosial serta lingkungan yang berbeda-beda, bermacam-macam pemikiran, adat kebiasaan, dan juga karakter. Anak kita bergaul dengan individu-individu yang sangat lama, bahkan mungkin bertahun-tahun di sekolah. Interaksi Ini bisa memberikan pengaruh bagi kejiwaan anak, pada tabiat dan juga kepribadiannya. Maka tidak heran anak akan cenderung meniru dari teman-temannya tanpa dia mampu memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk.

Demikian juga para pengajar atau guru di sekolah yang juga berasal dari berbagai latar belakang pemikiran, budaya serta kepribadian. Tidak semua guru memiliki komitmen terhadap aqidah yang lurus, akhlak yang mulia, atau menanamkan hal-hal penting bagi anak. Mungkin banyak yang dia sekedar untuk menyampaikan maklumat kemudian dia pulang. Selebihnya dia tidak peduli. Apalagi sekolah itu tidak spesial menitikberatkan akidah atau ibadah yang benar.

Tentunya pengaruh guru juga sangat besar. "Maka dari itu para orang tua juga harus mengetahui atau mengenal guru-guru yang menangani anak-anak mereka. Karena kerap kali guru ini menjadi tokoh panutan bagi anak-anak. Dengan mudah mereka mendengar dan mempraktikkan ucapan maupun perbuatan Sang Guru meski bertentangan dengan pola pikir dan didikan orang tua. Dan kenyataannya anak-anak remaja lebih banyak curhat kepada guru-gurunya daripada orang tuanya,"urainya. Wallahu A'lam. [yy/Widaningsih/sindonews]