11 Rabiul-Awwal 1444  |  Jumat 07 Oktober 2022

basmalah.png

Memarahi Anak Tak Harus Berteriak

Memarahi Anak Tak Harus Berteriak

Fiqhislam.com - Orang tua kerap marah kepada anak-anak. Namun kemarahan ini tak selalu karena kesalahan anak, tapi kadang dipengaruhi masalah lain sehingga anak terkesan menjadi pelampiasan. Ingat, jangan kelewatan memarahi anak, karena kemarahan itu bisa membekas seumur hidup.

Orang tua adalah tempat anak mencari pertolongan, perlindungan, dan juga kasih sayang. Ketika orang tua memarahi mereka, perasaan sedih bisa lebih besar berkali-kali lipat karena orangtua adalah sosok yang menjadi acuan mereka. Namun memarahi anak tidak selalu buruk, anak juga perlu tahu bahwa yang memegang otoritas adalah orang tua. Sebab itu, ada beberapa cara memarahi anak yang baik.

Berikut ini cara memarahi anak yang baik

1. Tidak berteriak

Memarahi anak dengan berteriak justru merupakan cara yang tidak efektif. Ada kecenderungan anak justru ingin melawan karena tidak ada koneksi sebelum melakukan koreksi. Akan lebih baik jika saat orangtua marah, duduklah sejajar dan lihat mata anak. Sampaikan apa kesalahan dan konsekuensi dari perbuatan mereka sehingga anak bisa paham.

2. Kendalikan emosi

Ketika anak sering berteriak atau marah-marah saat sesuatu tidak berjalan sesuai ekspektasi, coba refleksi diri. Apakah orangtua pernah melakukan hal serupa di depan anak? Ingat, si kecil adalah sosok yang lihai merekam segala sesuatu di hadapannya sekaligus menirukannya.

Jika jawabannya iya, coba kendalikan dulu emosi. Setidaknya, jangan tunjukkan kemarahan atau kekesalan – pada hal apapun – di depan anak. Cari distraksi ketika merasa ingin marah sehingga tidak “meledak” di hadapan mereka.

3. Dengarkan anak

Saat anak dianggap “berulah”, coba komunikasikan apa yang mereka rasakan. Tanyakan dengan perlahan, apa yang membuat mereka melakukan kesalahan itu? Buat agar anak tetap merasa nyaman – bukannya takut – menyampaikan perasaannya. Siapa tahu, ternyata pemicu anak melakukan kesalahan adalah hal yang tak disangka orangtua. Mungkin mereka ingin membantu, namun yang terjadi justru tanpa sengaja merusak.

4. Validasi emosi

Ketimbang memarahi anak dengan berteriak yang hanya akan membuat orangtua dan anak kian berjarak, coba lakukan validasi emosi. Ini adalah cara untuk mengakui dan memberi wadah bagi anak akan emosi apa yang sedang mereka rasakan. Biarkan anak merasakan segala emosi yang muncul.

Kemudian, ketika emosi anak sudah tervalidasi, sampaikan mengapa orangtua merasa marah. Jelaskan dengan bahasa sederhana sebab-akibat dari perbuatan yang mereka lakukan. Tutup dengan melakukan afirmasi positif dan mengulang bahwa orangtua bertindak tegas karena sayang kepada mereka.

5. Koneksi sebelum koreksi

Tidak ada koreksi yang efektif termasuk memarahi anak tanpa adanya koneksi atau kedekatan antara anak dan orangtua. Lakukan tindakan sesuai dengan bahasa cinta, entah itu sentuhan, quality time, kata-kata, dan lainnya. Lewat koneksi yang terbangun, koreksi saat memarahi anak pun akan lebih mudah diterima oleh mereka.

6. Beri pilihan

Ketika anak melakukan kesalahan dan orangtua memarahi anak, bedah apa saja opsi yang tersedia. Contohnya ketika kakak mendorong adiknya, sampaikan bahwa ada cara lain untuk menyuruh adiknya minggir yaitu dengan berkata atau memintanya bergeser.

Atau ketika anak melempar bola hingga merusak barang di dalam rumah, paparkan bahwa ada opsi untuk melempar bola di luar ruangan. Jelaskan perbedaan konsekuensi antara dua perilaku itu sehingga anak bisa paham konsep sebab akibatnya. [yy/tempo]