27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Predator Berwajah Ramah

Predator Berwajah Ramah

Fiqhislam.com - Saya ingat beberapa tahun lalu, merayapi foto seorang kakek berwajah ramah dengan kopiah di kepalanya, sedang diapit dua polisi. Ada rasa iba, melihat orang tua dengan rambut yang sudah memutih dikawal ketat. Rasa penasaran kemudian mendorong saya membaca ulasan berita di bawah gambar.

Usai membaca, saya mengembuskan napas kuat. Rasa simpati menguap tanpa tersisa. Sebaliknya, ingin sekali menegur, bahkan saat itu rasanya ingin memaki sang kakek. Lelaki tua dengan kopiah di kepalanya, yang mengundang simpati dan senyumnya tampak begitu ramah dan hangat, ternyata pelaku pedofil yang telah memakan korban belasan anak.

Siapa yang akan menduga? Barangkali jika kakek tersebut tinggal di sekitar rumah, tak hanya saya, tapi tetangga lain pun akan sangat bisa terkecoh oleh penampakannya.

Ingatan tentang kakek berwajah ramah itu mendadak kembali muncul ketika saya baru-baru ini membaca sebuah berita yang lebih memilukan. Seorang kakek berusia 65 tahun, warga negara Prancis, Francois Abello Camille alias Fran alias Mister, ditangkap polisi karena melakukan pelecehan seksual terhadap sedikitnya 305 orang anak.

Kata sedikitnya--bisa berarti sebenarnya ada lebih banyak anak yang sudah menjadi korban, sebab angka 305 hanya jumlah yang terekam dalam video selama kunjungan terakhir sang kakek, sembilan bulan di Indonesia. Sedangkan sosok tuanya sudah berkali-kali melakukan lawatan ke Indonesia.

Polisi menyita sejumlah barang bukti, seperti obat kuat, alat bantu seks, kondom, enam unit kamera, paspor, laptop, hingga 21 kostum seksi untuk anak-anak. Diduga, sang kakek juga memanfaatkan videonya untuk menghasilkan keuntungan ekonomi.

Peristiwa serupa juga pernah terjadi di Prancis. Kepolisian Prancis mengungkap kasus pedofilia yang dianggap sebagai yang terbesar di negara itu. Pelakunya seorang pensiunan dokter bedah. Dia dituduh telah memerkosa atau melecehkan 349 anak selama hampir 30 tahun menjalani praktik kedokteran.

Inna lillahi. Berbagai kasus di atas kembali menguatkan kita betapa sangat beralasan, Islam mengajarkan kita untuk menjaga diri dan anak-anak dari penyimpangan seksual.

Dalam Islam, orang tua diajarkan untuk mulai memisahkan kamar anak lelaki dari anak perempuan, sejak dini.

Islam juga mengatur dengan ketat hubungan mahram yang lebih spesial dari kekerabatan lain. Jika bukan mahram (orang yang tidak bisa dinikahi), baik itu sahabat, teman akrab, guru, atasan, maupun bawahan, semua tidak boleh dibiarkan berduaan dengan kita atau anggota keluarga. Dengan begitu, Islam menggarisbawahi pentingnya untuk tidak mudah teperdaya dengan penampilan, terlepas status orang tersebut--sekalipun bila dia sosok yang seharusnya merupakan figur terhormat dalam masyarakat.

Terpenting, jangan percayakan anak-anak--terutama anak perempuan--pada mereka yang bukan mahram, kecuali kita ikut mengawasi penuh.

Kasus-kasus penyimpangan seksual yang makin banyak dan parah yang kini merambah dalam kehidupan sosial, menaruh nasib anak-anak lelaki kita dalam bahaya lain. Mereka berpotensi menjadi sasaran predator.

Seorang pembaca pernah bercerita, bagaimana dia ketika masih sekolah dasar, telah dilecehkan oleh sopir kepercayaan keluarga. Peristiwa tragis ini berlangsung bertahun-tahun tanpa pernah diketahui kedua orang tua yang sibuk dengan pekerjaan mereka.

Kisah guru melecehkan murid di JIS dulu juga sudah mencoreng profesi guru, dan membuat marah para pendidik yang selama ini memegang teguh kehormatan mereka sebagai pengajar. Di Lampung, pendamping korban kekerasan seksual yang harusnya membantu korban melewati masa trauma, justru tertangkap sebagai pelaku kekerasan seksual pada korban yang sebelumnya sudah memiliki trauma kekerasan seksual.

Ya Allah, betapa mengerikan dunia bagi anak-anak kini. Padahal dulu, semua terasa begitu damai. Anak-anak bisa keluyuran keluar rumah, bermain dengan teman-teman tanpa pengawasan, aktif mengikuti berbagai kegiatan positif tanpa orang tua harus resah dengan keselamatan anak-anak. Sementara saat ini, orang tua benar-benar harus mengetatkan pengawasan penuh pada ananda.

Ayah bunda harus selalu mengetahui ke mana anak-anak pergi, dengan siapa, berapa lama mereka pergi sehingga bisa mengontrol keberadaan anak. Kemajuan teknologi sekarang harus disyukuri sebab memudahkan kita memantau keberadaan anak, termasuk dengan video call. Bukan sebab kita tak percaya pada mereka, yang tentu harus kita bekali sederet pemahaman agar mereka mampu mendefinisikan bahaya yang dilakukan orang lain di sekitarnya, hingga karenanya bisa memproteksi diri.

Mengerti tindakan mana yang masuk kategori melewati batas, bahkan sebelum itu terjadi. Persoalannya, untuk anak-anak di jalanan, siapakah yang akan membimbing mereka, memberikan pemahaman, mengawasi, hingga mereka pun mampu melindungi diri?

Apa yang bisa dilakukan, sementara predator yang mengancam anak-anak kita berkeliaran di mana-mana. Sering kali sulit dikenali sebab mereka berlindung di balik senyum dan wajah ramah, sementara di baliknya seringai mengancam mengintai anak-anak kita. [yy/republika]

oleh Asma Nadia