21 Muharram 1444  |  Jumat 19 Agustus 2022

basmalah.png

Ketangguhan Mendampingi Anak

Ketangguhan Mendampingi Anak

Fiqhislam.com - Ki Hadjar Dewantara memiliki konsep trisentra, yang mana terdapat tiga arena penting untuk membangun pendidikan, yaitu alam keluarga, perguruan, dan pemuda/masyarakat.

Alam keluarga, menurut Ki Hadjar Dewantara, menjadi basis penting untuk pendidikan individual, sementara alam perguruan dan pemuda menjadi lokus bagi pendidikan masyarakat (Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 2013).

Dalam situasi pandemi, saat belajar lebih dominan di rumah, maka alam keluarga dalam perspektif Ki Hadjar Dewantara, semakin relevan. Situasi pandemi sudah jelas mengubah berbagai pola pendidikan yang sebelumnya lebih banyak dibebankan pada sekolah.

Orang tua, menurut laporan tersebut, memiliki tanggung jawab untuk mendampingi proses pendidikan anak-anak.

Lalu, apakah orang tua siap mendampingi anak-anak untuk belajar? Center for Higher Education Research, Southern University of Science and Technology (2020) menerbitkan Guidance for Parents and Communities: Online Education During Covid-19 Pandemic.

Orang tua, menurut laporan tersebut, memiliki tanggung jawab untuk mendampingi proses pendidikan anak-anak dengan memastikan aspek teknikal, seperti hardware, software, dan e-learning methods.

Selain itu, aspek komunikatif seperti berdialog secara intensif dengan guru-guru, dengan sekolah, juga aspek psikologis, yaitu memastikan mental anak dalam kondisi baik dan mereka dapat melaksanakan pembelajaran dengan menyenangkan.

Namun, apa yang ada di dalam pedoman tersebut, secara praktikal tidak mudah dilaksanakan. Belajar dari rumah, bukan perkara mudah karena terdapat lapis-lapis kompleksitas yang menyertainya.

Secara teknikalitas, isunya terkait dengan ketersediaan sarana prasarana penunjang kegiatan pembelajaran yang memadai di setiap rumah, seperti gawai, kuota, koneksi internet, dan buku-buku pelajaran ataupun nonpelajaran.

Pola pembelajaran jarak jauh membutuhkan berbagai perangkat tersebut. Sementara itu, secara substansi, isunya terkait dengan proses pendampingan menyeluruh dari orang tua atau wali di rumah.

Tingkat kesulitan mengakses pendidikan, kemudian bergantung pada kondisi sosial ekonomi keluarga. Dengan demikian, semakin miskin maka risiko tertinggal dalam proses pendidikan saat ini menjadi sangat besar.

Baik dari segi teknikalitas maupun substansi, mereka tertinggal. Fasilitas minim, demikian pula pendampingan orang tua dalam belajar. Kelompok rentan ini berhadap-hadapan langsung dengan hidup yang sulit.

Tidak ada kemewahan bekerja dari rumah karena dapur harus tetap mengepul. Sebagai contoh, seorang guru di Bogor bercerita kepada penulis mengenai tidak optimalnya proses belajar dari rumah di sekolahnya.

Sekolah tempatnya mengajar berada di lingkungan semi-urban. Anak-anak yang ada di sekolahnya, merupakan kelas sosial menengah bawah. Minim kepemilikan gawai, orang tua yang bercerai, anak yang tinggal di rumah nenek atau wali membuat belajar dari rumah bersinonim dengan liburan panjang.

Ia pun kesulitan untuk melaksanakan proses pembelajaran jarak jauh yang memerlukan infrastruktur memadai dan orang tua/wali yang aktif mendampingi.

Sekolah sebagai garda terdepan, harus mencari cara agar anak-anak mendapatkan perhatian penuh pada masa pandemi.

Maka itu, mengandalkan orang tua dan menyerahkan proses pendidikan sepenuhnya kepada orang tua adalah kenaifan. Menganggap semua keluarga siap untuk mendampingi anak-anak dalam proses belajar dari rumah adalah hal yang tidak adil.

Apalagi, berpandangan setiap orang tua memiliki kapasitas memadai secara mental dan psikologis dalam mendampingi anak secara penuh di rumah. Di banyak tempat, banyak orang tua tunggal yang harus berjuang membesarkan anak-anak mereka.

Atau, anak-anak dari keluarga pekerja migran Indonesia yang harus diasuh oleh nenek, kakek, ataupun wali mereka yang tentu saja memerlukan perhatian yang berbeda.

Dalam beberapa pemberitaan, misalnya, disebutkan situasi pandemi membuat angka kekerasan dalam keluarga meningkat. Pada titik ini, pemerintah daerah harus mampu menjadi aktor terdepan dalam memetakan kondisi pendidikan yang ada di daerahnya.

Porsi perhatian pemerintah terhadap anak-anak yang berasal dari keluarga miskin, harus lebih besar. Pendampingan menyeluruh perlu dilakukan agar anak-anak tidak merasa kehilangan arah di situasi pandemi seperti ini.

Sekolah sebagai garda terdepan, harus mencari cara agar anak-anak mendapatkan perhatian penuh pada masa pandemi. Tentu saja berbasis pada kapital yang dimiliki sekolah.

Sudah jelas, tidak semua sekolah memiliki kapasitas memadai untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh yang mengandalkan gawai dan koneksi internet. Maka itu, strategi untuk memastikan anak-anak mendapatkan hak di bidang pendidikan menjadi sangat penting.

Pada sisi ini, kita mendapat banyak contoh dari militannya guru-guru bergerilya ke rumah anak-anak untuk mengajar. Bagi orang tua, masa belajar dari rumah sangat menantang untuk melakukan perenungan mendalam tentang arti pendidikan bagi anak.

Selain itu juga, sebagai ukuran bagi ketangguhan mendidik anak-anak secara mandiri. Sekuat apakah orang tua menahan diri untuk tidak emosional terhadap sikap anak-anak yang sering kali tidak sejalan dengan apa yang diinginkan orang tua?

Inilah momen yang sangat tepat untuk dekat dan erat dengan anak-anak. Bagaimana pemahaman orang tua terhadap psikologi perkembangan anak-anak masing-masing?

Seberapa kokoh orang tua menemani anak-anak untuk belajar, mendengarkan keluh kesah, dan menggunakan hati untuk membimbing mereka. Sudah sangat jelas, mental prima dibutuhkan dalam mengarungi pandemi ini.

Inilah momen yang sangat tepat untuk dekat dan erat dengan anak-anak. Bagaimana pemahaman orang tua terhadap psikologi perkembangan anak-anak masing-masing?

Tentu saja, ini kemewahan bagi orang tua yang masih bisa bekerja dari rumah dan tidak memiliki persoalan ekonomi. Keluarga kelas sosial ekonomi yang sangat terbatas sudah pasti lebih memiliki keterbatasan dalam menemani anak-anak mereka.

“Policy Brief: The Impact of Covid-19 on Children” yang dirilis United Nations (2020) menyebut, semua anak dari segala usia dan di semua negara memiliki kerentanan dalam menghadapi situasi pandemi ini.

Dan yang paling terdampak adalah anak-anak di negara-negara termiskin dan di lingkungan termiskin, juga mereka yang berada dalam situasi yang tidak kondusif atau rentan.

Pendidikan adalah laku pendampingan menyeluruh. Maka itu, setiap aktor yang berjuang di bidang pendidikan menghadapi tantangan untuk lebih intensif mendampingi secara menyeluruh terhadap anak-anak.

Seberapa tangguh dan kokoh mendampingi anak diuji pada masa-masa sulit ini. [yy/republika]

Anggi Afriansyah, Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI