27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Ketika Anak Bingung dengan Minat dan Bakatnya

Ketika Anak Bingung dengan Minat dan BakatnyaFiqhislam.com - Tak semua anak bisa dengan mudah mengenali minat dan bakatnya. Alhasil, mereka tak siap menentukan langkah di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Psikolog Universitas Tarumanagara, Diana Lie, menjelaskan memang ada saja anak yang tidak klop antara kemampuan dengan apa yang diinginkan. Banyak yang tidak sejalan antara apa yang disukai dan dijalani.

"Memang tinggal diarahkan, tapi ada masalah, misalnya kemampuan tidak sejalan minat, anak tidak tahu minatnya, bingung jurusan kuliah, tidak suka pekerjaannya," kata Diana di Jakarta, belum lama ini.



Diana mengatakan, tugas orang tua ialah mengenali minat dan bakat anaknya. Untuk bisa menyibak misteri itu, ayah dan ibu harus melakukan interaksi. Jika perlu, konsultasi dengan pihak ketiga dengan tujuan akhir mematangkan anak pada jurusan pilihannya.

"Mengambil keputusan dalam sekolah atau karier harus matang, harus dengan sadar sepenuhnya bahwa ini lho yang saya suka dan ini yang akan membantu mengoptimalkan saya," ungkap Diana.

Sebetulnya, bakat dan minat anak dapat terlihat secara kasat mata sejak mereka kecil. Orang tua bisa mencermati orientasi anak dalam menyelesaikan masalah, antusiasme anak terhadap sesuatu, atau minat si kecil dalam kegiatan mereka sehari-hari. Dari sana, orang tua bisa masuk tahap eksplorasi.

Diana mencontohkan, jika orang tua melihat anaknya suka menggambar, maka bisa digali lebih jauh, apakah lebih fokus gambar anstrak, menyukai gambat manusia, atau lainnya. Ada anak yang tampak gemar sekali mengotak-atik barang dan tidak, ada pula anak yang terlihat condong kecerdasan sosialnya.

Semua yang tampak, menurut Diana, bisa lebih dieksplorasi dan ditindaklanjuti sebagai bagian proses pendampingan orang tua. Untuk mendukung bakat dan minat anak, diperlukan kesadaran, pengalaman, dan eksplorasi.

"Misalnya minat gambar, belum bicara kualitas dulu, tapi apa sih yang perlu dieksplorasi. Kalau anak punya inisiatif eksplorasi, oh anak itu mungkin minatnya ini, kemudian dimatangkan oleh eksplorasi," ungkapnya. [yy/republika]

Ketika Anak Bingung dengan Minat dan BakatnyaFiqhislam.com - Tak semua anak bisa dengan mudah mengenali minat dan bakatnya. Alhasil, mereka tak siap menentukan langkah di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Psikolog Universitas Tarumanagara, Diana Lie, menjelaskan memang ada saja anak yang tidak klop antara kemampuan dengan apa yang diinginkan. Banyak yang tidak sejalan antara apa yang disukai dan dijalani.

"Memang tinggal diarahkan, tapi ada masalah, misalnya kemampuan tidak sejalan minat, anak tidak tahu minatnya, bingung jurusan kuliah, tidak suka pekerjaannya," kata Diana di Jakarta, belum lama ini.



Diana mengatakan, tugas orang tua ialah mengenali minat dan bakat anaknya. Untuk bisa menyibak misteri itu, ayah dan ibu harus melakukan interaksi. Jika perlu, konsultasi dengan pihak ketiga dengan tujuan akhir mematangkan anak pada jurusan pilihannya.

"Mengambil keputusan dalam sekolah atau karier harus matang, harus dengan sadar sepenuhnya bahwa ini lho yang saya suka dan ini yang akan membantu mengoptimalkan saya," ungkap Diana.

Sebetulnya, bakat dan minat anak dapat terlihat secara kasat mata sejak mereka kecil. Orang tua bisa mencermati orientasi anak dalam menyelesaikan masalah, antusiasme anak terhadap sesuatu, atau minat si kecil dalam kegiatan mereka sehari-hari. Dari sana, orang tua bisa masuk tahap eksplorasi.

Diana mencontohkan, jika orang tua melihat anaknya suka menggambar, maka bisa digali lebih jauh, apakah lebih fokus gambar anstrak, menyukai gambat manusia, atau lainnya. Ada anak yang tampak gemar sekali mengotak-atik barang dan tidak, ada pula anak yang terlihat condong kecerdasan sosialnya.

Semua yang tampak, menurut Diana, bisa lebih dieksplorasi dan ditindaklanjuti sebagai bagian proses pendampingan orang tua. Untuk mendukung bakat dan minat anak, diperlukan kesadaran, pengalaman, dan eksplorasi.

"Misalnya minat gambar, belum bicara kualitas dulu, tapi apa sih yang perlu dieksplorasi. Kalau anak punya inisiatif eksplorasi, oh anak itu mungkin minatnya ini, kemudian dimatangkan oleh eksplorasi," ungkapnya. [yy/republika]

Dipaksa dalam Memilih Studi, Apa Dampaknya Bagi Anak?

Dipaksa dalam Memilih Studi, Apa Dampaknya Bagi Anak?


Fiqhislam.com - Ada saja orang tua yang memaksakan kehendak terhadap anak dalam urusan studi. Mulai dari pilihan jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Sekolah Menengah Atas maupun di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

CEO PT Melintas Cakrawala Indonesia Ari Kunwidodo mengatakan, pemilihan jurusan tidak sesimpel bicara mengenai suka dan tidak suka. Pimpinan perusahaan yang menawarkan tes bakat minat AJT ini mengingatkan bahwa pilihan itu terkait dengan masa depan dan perjalanan panjang yang akan dihadapi anak.

"Ada kasus, di SMA nilainya bagus terus, juara, orang tuanya bilang masuk saja kedokteran, apa yang terjadi? Dia drop out, begitu dianalisis, otot kognitif dia tidak sesuai. Di kedokteran, otot harus memori, apa yang harus dipelajari harus diambil, tersimpan. Anak ini ternyata sistem belajarnya kemarin untuk besok ulangan. Artinya, tidak tersimpan," ujar Ari di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurut Ari, gambaran yang tampak di permukaan atau hasil akademik belum tentu sesuai dengan minat. Yang lebih utama adalah dukungan fundamental otot kognitif.

Ada juga anak yang nilainya unggul, artinya bisa masuk jurusan yang mematok nilai tinggi, tetapi anaknya tidak punya minat terhadap bidang tersebut.

"Ditanya kenapa tidak minat padahal mampu, apakah nggak suka pengajar atau lainnya, dijawab faktor dia sendiri saja yang tidak mau. Jadi dimensi potensi dan minat kalau dipaksakan akan sulit. Minat itu dikawinkan dengan kepribadian," jelas Ari.

Apabila bakat dan minat sejalan, maka bisa menghindari kemungkinan tidak sukses ke depannya. Ari menjelaskan, melalui tes bakat minat AJT, anak bisa membantu untuk mengenali kesesuaian kemampuan dan minat secara lebih rinci. Diharapkan terjadi pencapaian prestasi yang maksimal dan menghindari fenomena salah jurusan.

Psikolog Universitas Tarumanagara, Diana Lie, juga mengingatkan dampak buruk memaksakan anak dalam pilihan studi. Anak bisa tisak bahagia dan juga tidak efisien mengenai waktu belajarnya.

"Yang pasti, semuanya balik lagi tergantung kemamapuan. Mungkin saja salah jurusannya pun, orang bisa menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Tapi seberapa jauh dia enjoy?" kata Diana di Jakarta.

Dampak lainnya semisal masalah waktu. Jika seorang anak mudah beradaptasi, bisa saja dia menyelesaikan studinya dengan baik. Akan tetapi, seandainya terjadi konflik, yaitu terbenturnya bakat dengan minat, maka waktu eksplorasi sang anak menjadi tidak efisien. [yy/republika]