13 Rajab 1444  |  Sabtu 04 Februari 2023

basmalah.png

Mengapa Anak Bisa Terpikir Bunuh Diri?

Mengapa Anak Bisa Terpikir Bunuh Diri?

Fiqhislam.com - Psikolog Mahalia Putik mengemukakan, kasus bunuh diri yang dilakukan anak-anak berlakang ini terjadi karena permasalahan kompleks. Ia mengatakan, orang tidak bisa menyalahkan suatu permasalahan sebagai penyebab dari keputusan mengakhiri hidup tersebut.

Mahalia mengatakan bunuh diri bisa dilakukan anak karena berbagai sebab, antara lain mengalami depresi, memendam permasalahan yang cukup berat, atau bahkan karena model. Konsultan psikologi sejumlah sekolah di Temanggung ini menyampaikan hal tersebut menanggapi kasus siswa SD warga Kelurahan Butuh, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, HAN (12) yang meninggal dengan cara gantung diri pada Senin (8/10).

"Model yang dimaksud adalah contoh bunuh diri yang dilihat dari sejumlah media seperti media sosial, internet, televisi, bahkan dari berita. Dengan membaca, melihat, dan mendengar kemudian mengikutinya tanpa memikirkan efek samping dari tindakannya itu," katanya.

Selain itu, menurutnya, tindakan bunuh diri juga mungkin dilakukan karena anak mengalami tekanan permasalahan, kemudian permasalahan itu tidak diutarakan kepada orang lain atau orang tuanya. Bisa jadi anak tidak punya tempat untuk menumpahkan semua permasalahan yang sedang dialami.

Agar anak tidak melakukan bunuh diri, hal yang paling mendasar yang harus diperhatikan ialah kembali kepada tatanan keluarga. Orang tua harus bisa menjalankan fungsi yang sebenar-benarnya sebagai orang tua, tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan materi, tetapi lebih bagaimana memberikan kasih sayang dan perhatian kepada anak.

"Orang tua harus proaktif mendengarkan kebutuhan-kebutuhan anak, mendengarkan, dan menjadi pendengar yang baik bagi anak. Minimal dengan langkah-langkah ini maka anak akan terlepas dari beban yang dipikulnya," katanya.

Orang tua, menurut Mahalia, harus bisa menciptakan komunikasi yang efektif dalam keluarga.Jjika hal-hal seperti ini disadari oleh semua keluarga dan menjadi kurikulum dalam rumah tangga maka apa pun permasalahan yang dihadapi oleh anak bisa diselesaikan dengan baik.

Mahalia mengimbau kepada orang tua untuk konsisten dalam mendampingi dan menjalin komunikasi bersama anak. Ayah dan ibu harus meluangkan waktu terbaik buat anak dan keluarga dan peka terhadap perubahan perilaku anaknya.

"Anak-anak itu tidak harus mengucapkan apa yang sedang dialaminya, dengan perilaku sebenarnya sudah tampak, misalnya selalu murung, menarik diri dari pergaulan teman-teman. Dari sini sebenarnya sudah bisa ditarik kesimpulan bahwa anak sedang mengalami masalah," kata psikolog lulusan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini.

Ia menyampaikan saat ini media sangat terbuka sekali. Segala macam informasi bisa diakses dengan mudah, apalagi dengan semakin canggihnya alat komunikasi saat ini.

Media saat ini diibaratkan sebagai mata pisau. Di satu sisi mempunyai manfaat yang positif, namun di sisi lain juga bisa merugikan.

Oleh karena itu, menurut Mahalia, berita di media harus disikapi dengan bijak, yakni dengan menyaring informasi-informasi yang ada. Orang tua harus bisa mendampingi dan memberikan pengertian dan pemahaman kepada anak sehingga anak bisa menyaring informasi yang benar.

"Intinya komunikasi, mendampingi, dan memberikan perhatian kepada anak dan keluarga," katanya.

Menyinggung apakah ada tanda-tanda anak akan melakukan bunuh diri, dia mengatakan sulit untuk dideteksi, tetapi biasanya anak jadi murung, di lingkungan bermainnya tidak ceria lagi.

"Tetapi semua kembali pada orang tua, kalau orang tua proaktif sebenarnya hal seperti ini tidak perlu terjadi," katanya. [yy/republika]

Mengapa Anak Bisa Terpikir Bunuh Diri?

Fiqhislam.com - Psikolog Mahalia Putik mengemukakan, kasus bunuh diri yang dilakukan anak-anak berlakang ini terjadi karena permasalahan kompleks. Ia mengatakan, orang tidak bisa menyalahkan suatu permasalahan sebagai penyebab dari keputusan mengakhiri hidup tersebut.

Mahalia mengatakan bunuh diri bisa dilakukan anak karena berbagai sebab, antara lain mengalami depresi, memendam permasalahan yang cukup berat, atau bahkan karena model. Konsultan psikologi sejumlah sekolah di Temanggung ini menyampaikan hal tersebut menanggapi kasus siswa SD warga Kelurahan Butuh, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, HAN (12) yang meninggal dengan cara gantung diri pada Senin (8/10).

"Model yang dimaksud adalah contoh bunuh diri yang dilihat dari sejumlah media seperti media sosial, internet, televisi, bahkan dari berita. Dengan membaca, melihat, dan mendengar kemudian mengikutinya tanpa memikirkan efek samping dari tindakannya itu," katanya.

Selain itu, menurutnya, tindakan bunuh diri juga mungkin dilakukan karena anak mengalami tekanan permasalahan, kemudian permasalahan itu tidak diutarakan kepada orang lain atau orang tuanya. Bisa jadi anak tidak punya tempat untuk menumpahkan semua permasalahan yang sedang dialami.

Agar anak tidak melakukan bunuh diri, hal yang paling mendasar yang harus diperhatikan ialah kembali kepada tatanan keluarga. Orang tua harus bisa menjalankan fungsi yang sebenar-benarnya sebagai orang tua, tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan materi, tetapi lebih bagaimana memberikan kasih sayang dan perhatian kepada anak.

"Orang tua harus proaktif mendengarkan kebutuhan-kebutuhan anak, mendengarkan, dan menjadi pendengar yang baik bagi anak. Minimal dengan langkah-langkah ini maka anak akan terlepas dari beban yang dipikulnya," katanya.

Orang tua, menurut Mahalia, harus bisa menciptakan komunikasi yang efektif dalam keluarga.Jjika hal-hal seperti ini disadari oleh semua keluarga dan menjadi kurikulum dalam rumah tangga maka apa pun permasalahan yang dihadapi oleh anak bisa diselesaikan dengan baik.

Mahalia mengimbau kepada orang tua untuk konsisten dalam mendampingi dan menjalin komunikasi bersama anak. Ayah dan ibu harus meluangkan waktu terbaik buat anak dan keluarga dan peka terhadap perubahan perilaku anaknya.

"Anak-anak itu tidak harus mengucapkan apa yang sedang dialaminya, dengan perilaku sebenarnya sudah tampak, misalnya selalu murung, menarik diri dari pergaulan teman-teman. Dari sini sebenarnya sudah bisa ditarik kesimpulan bahwa anak sedang mengalami masalah," kata psikolog lulusan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini.

Ia menyampaikan saat ini media sangat terbuka sekali. Segala macam informasi bisa diakses dengan mudah, apalagi dengan semakin canggihnya alat komunikasi saat ini.

Media saat ini diibaratkan sebagai mata pisau. Di satu sisi mempunyai manfaat yang positif, namun di sisi lain juga bisa merugikan.

Oleh karena itu, menurut Mahalia, berita di media harus disikapi dengan bijak, yakni dengan menyaring informasi-informasi yang ada. Orang tua harus bisa mendampingi dan memberikan pengertian dan pemahaman kepada anak sehingga anak bisa menyaring informasi yang benar.

"Intinya komunikasi, mendampingi, dan memberikan perhatian kepada anak dan keluarga," katanya.

Menyinggung apakah ada tanda-tanda anak akan melakukan bunuh diri, dia mengatakan sulit untuk dideteksi, tetapi biasanya anak jadi murung, di lingkungan bermainnya tidak ceria lagi.

"Tetapi semua kembali pada orang tua, kalau orang tua proaktif sebenarnya hal seperti ini tidak perlu terjadi," katanya. [yy/republika]

Menyibak Faktor Pemicu Bunuh Diri

Menyibak Faktor Pemicu Bunuh Diri


Fiqhislam.com - Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap bahwa setiap 40 detik ada saja orang bunuh diri. Faktor apa yang membuat orang terpikir untuk mengakhiri hidup?

Ketua Komite Medik sekaligus Kepala Bagian Diklat Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Daerah Lampung Dr Tendry Septa SpKJ (K) menjelaskan orang melakukan bunuh diri biasanya disebabkan oleh dua faktor, yakni mengidap gangguan jiwa atau kejiwaan mereka bermasalah.

"Oleh karena itu, kami mengkampanyekan agar masyarakat dapat memerhatikan kesehatan jiwa orang sekitar," kata Tendry tentang kampanye yang berlangsung di di Tugu Adipura, Bandarlampung, Kamis.

Menurut Tendry, kasus bunuh diri di Indonesia memang ada, meski angkanya sedikit sekali dibandingkan negara-negara lainnya. Namun, ia memandang kampanye ini perlu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar berkomunikasi dengan orang sekitar minimal 40 detik.

Orang yang melakukannya dengan dorongan gangguan jiwa, menurut Tendry, biasanya memilih cara ekstrem, seperti merusak bagian tubuh dengan senjata tajam. Sementara tiu, orang dengan masalah kejiwaan melakukan tindakan fatal tergantung dengan tingkat stres yang dimiliki seseorang di kesehariannya.

"Maka hal ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk bisa mencegah kemungkinan orang melakukan tindakan bunuh diri," kata dia.

Tendry berharap, dengan adanya sosialisasi ini, masyarakat dapat mendeteksi kemungkinan dini seseorang yang akan melakukan bunuh diri. Ia menjelaskan, pelaku bunuh diri kebanyakan mereka yang berada di rentang usia 18 sampai 25 tahun

"Dan kita sebagai orang yang waras harus menjadi pendengar yang aktif," kata dia. [yy/republika]