14 Rajab 1444  |  Minggu 05 Februari 2023

basmalah.png

Psikolog Sebut Media Sosial Bisa Turunkan Produktivitas

Psikolog Sebut Media Sosial Bisa Turunkan Produktivitas


Fiqhislam.com - Di era saat ini, bermedia sosial menjadi hal yang sangat lumrah bagi orang-orang. Media sosial lahir sebagai dampak dari perkembangan teknologi.

Namun jika tak digunakan dengan bijak, media sosial bisa menjadi hal yang merugikan. Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana mengatakan setidaknya ada dua dampak negatif penggunaan media sosial berlebih.

“Pertama adalah produktifitas menurun. Contohnya yang paling sederhana adalah gangguan tidur,” ujar Vera pada Selasa (30/7).

Vera menuturkan banyak kliennya yang merupakan anak-anak remaja dan usia dewasa mudah datang kepadanya dengan keluhan konsentrasi menurun. Menurunnya konsentrasi menyebabkan nilai pelajaran merosot. Setelah ditelusuri, ternyata penyebabnya adalah kurang tidur.

Vera pun menelusuri lebih lanjut penyebab remaja dan orang usia dewasa awal bisa terganggu tidurnya. Ternyata, kebanyakan dari mereka terlalu lama dan berlebihan dalam bermain media sosial.

Dampak negatif kedua yang bisa muncul adalah dari sisi kesehatan mental. Menurut Vera, orang-orang di usia remaja hingga dewasa muda merupakan orang-orang yang mulai membangun diri. Mereka memiliki kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain atau melakukan pembandingan sosial.

Ketika hal itu muncul tanpa diiringi kesehatan mental yang baik maka bisa berimbas pada masalah yang lebih serius. Kesehatan mental akan terganggu dengan ciri-ciri mengalami tertekan dan kepercayaan diri yang menurun.

Adanya dampak negatif itu bukan berarti membuat kita berhenti bermedia sosial. Masih ada dampak positif adanya media sosial yang bisa dipetik dan bisa dikelola dengan baik.

“Misalnya bisa dimanfaatkan untuk mengunggah konten yang menginspirasi, lalu mengunggah cerita-cerita yang menginspirasi. Media sosial juga bisa memungkinkan untuk membuka lingkungan yang baru dan komunitas yang baru,” ungkap dia.

Adanya lingkungan dan komunitas baru dapat menjaga keseimbangan hidup bersosialisasi antara dalam jaringan (daring) dan di luar jaringan (luring). Media sosial pun bisa bermanfaat untuk mengembangkan hobi. “Belajar hal baru, bertemu dengan orang lain, dan lingkungan sosialiasi yang nyata,” ungkap dia. [yy/republika]

Psikolog Sebut Media Sosial Bisa Turunkan Produktivitas


Fiqhislam.com - Di era saat ini, bermedia sosial menjadi hal yang sangat lumrah bagi orang-orang. Media sosial lahir sebagai dampak dari perkembangan teknologi.

Namun jika tak digunakan dengan bijak, media sosial bisa menjadi hal yang merugikan. Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana mengatakan setidaknya ada dua dampak negatif penggunaan media sosial berlebih.

“Pertama adalah produktifitas menurun. Contohnya yang paling sederhana adalah gangguan tidur,” ujar Vera pada Selasa (30/7).

Vera menuturkan banyak kliennya yang merupakan anak-anak remaja dan usia dewasa mudah datang kepadanya dengan keluhan konsentrasi menurun. Menurunnya konsentrasi menyebabkan nilai pelajaran merosot. Setelah ditelusuri, ternyata penyebabnya adalah kurang tidur.

Vera pun menelusuri lebih lanjut penyebab remaja dan orang usia dewasa awal bisa terganggu tidurnya. Ternyata, kebanyakan dari mereka terlalu lama dan berlebihan dalam bermain media sosial.

Dampak negatif kedua yang bisa muncul adalah dari sisi kesehatan mental. Menurut Vera, orang-orang di usia remaja hingga dewasa muda merupakan orang-orang yang mulai membangun diri. Mereka memiliki kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain atau melakukan pembandingan sosial.

Ketika hal itu muncul tanpa diiringi kesehatan mental yang baik maka bisa berimbas pada masalah yang lebih serius. Kesehatan mental akan terganggu dengan ciri-ciri mengalami tertekan dan kepercayaan diri yang menurun.

Adanya dampak negatif itu bukan berarti membuat kita berhenti bermedia sosial. Masih ada dampak positif adanya media sosial yang bisa dipetik dan bisa dikelola dengan baik.

“Misalnya bisa dimanfaatkan untuk mengunggah konten yang menginspirasi, lalu mengunggah cerita-cerita yang menginspirasi. Media sosial juga bisa memungkinkan untuk membuka lingkungan yang baru dan komunitas yang baru,” ungkap dia.

Adanya lingkungan dan komunitas baru dapat menjaga keseimbangan hidup bersosialisasi antara dalam jaringan (daring) dan di luar jaringan (luring). Media sosial pun bisa bermanfaat untuk mengembangkan hobi. “Belajar hal baru, bertemu dengan orang lain, dan lingkungan sosialiasi yang nyata,” ungkap dia. [yy/republika]

Alasan Anak Muda Kecanduan Media Sosial Menurut Psikolog

Alasan Anak Muda Kecanduan Media Sosial Menurut Psikolog


Fiqhislam.com - Remaja dan usia dewasa muda saat ini sangat identik dengan media sosial. Hampir semua remaja dan usia dewasa muda memiliki media sosial sebagai wadah ekspresi dan eksplorasi diri.

Akan tetapi, terkadang media sosial kemudian menjadi masalah tersendiri bagi sebagian remaja dan dewasa muda. Layaknya barang yang membuat kecanduan, media sosial juga membuat candu para penggunanya yang rata-rata merupakan remaja dan dewasa muda.

Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana membenarkan remaja dan dewasa muda mengalami kecanduan dengan media sosial. Alasannya, media sosial memang dirancang untuk memenuhi kebutuhan dari remaja dan dewasa muda.

“Media sosial itu memenuhi kriteria itu semua. Di media sosial mereka bisa eksplorasi diri, menunjukkan diri sendiri ke orang-orang mereka bisa apa,” ujar Vera saat menjadi pembicara dalam acara bertema Semakin Bersinar Bersama Hadapi Tantangan di Era Digital.

Di media sosial, para remaja dan dewasa muda bisa melihat sosok lain seperti figur publik yang kemudian bisa menjadi panutan dalam hidupnya. Media sosial bahkan bisa memunculkan cita-cita yang dulu sama sekali tidak terpikirkan. “Oleh sebab itu medsos sangat klop dengan kebutuhan perkembangan di usia mereka,” jelas Vera.

Jika dikaji lebih lanjut perihal karakteristik remaja dan usia dewasa muda, generasi ini memiliki karakter yang dekat dengan teknologi terutama gawai. Mereka yang saat ini ada di usia remaja dan dewasa muda sejak lahir bertemu dengan gawai.

Kedekatan orang tua dengan gawai, kata dia, juga akan memengaruhi anak remaja dan dewasa muda dengan gawai. Di sisi lain karakteristik perempuan muda pada usia remaja sampai usia 20-an adalah senang mengeksplorasi diri sendiri. Pada masa-masa itu, mereka semakin menanyakan jati diri mereka.

“Misalnya saya ini di mana, saya ini siapa, saya bisa apa, di lingkungan pergaulan ini perempuan yang seperti apa? Apakah yang pintar masak, atau jago dandan, atau apa,” ungkap Vera.

Di masa-masa itu, mereka juga tengah memiliki perasaan in between yaitu merasa sudah bukan anak-anak tapi juga belum dewasa. Masa itu adalah masa yang sangat  membingungkan.

“Di usia ini adalah usia yang disebut age of possibilities. Jadi semua kemungkinan bisa terjadi pada masa itu. Mau belajar apa bisa dilakukan di usia ini,” terang Vera. [yy/republika]