4 Jumadil-Awal 1443  |  Rabu 08 Desember 2021

basmalah.png

Makin Sering Di-Bully, Anak-anak Makin Cepat Tua

Fiqhislam.com - Tanpa kita sadari, bullying atau penggojlokan tak hanya terjadi pada orang dewasa, namun juga remaja dan anak-anak.

Makin Sering Di-Bully, Anak-anak Makin Cepat TuaGawatnya, ternyata luka fisik dan emosional dari bullying maupun kekerasan lainnya pada anak-anak bisa merusak lebih dalam dari yang kita bayangkan.

"Anak-anak yang mengalami kekerasan ekstrim pada usia muda memiliki usia biologis yang jauh lebih tua daripada anak-anak lainnya," kata peneliti Idan Shalev, peneliti di departemen psikologi dan neuroscience di Duke Institute for Genome Science and Policy, Durham, N.C.

Sekarang ini kekerasan pada anak-anak terjadi secara luas di AS. CDC menyatakan bahwa hal ini adalah penyebab kematian utama kedua pada penduduk berusia 10-24 tahun dan sekitar 20 persen siswa kelas 9-12 telah mengalami bullying selama tahun 2009.

Untuk melihat apakah kekerasan pada anak muda mempengaruhi kerentanan DNA-nya terhadap penuaan, peneliti terfokus pada telomere atau materi genetis berbentuk strip kecil yang tampak seperti ekor pada akhir kromosom DNA. Pemendekan telomere merupakan indikator penuaan sel.

Peneliti menganalisis sampel DNA dari anak kembar pada usia 5 dan 10 tahun serta membandingkan panjang telomere-nya dengan tiga macam kekerasan: kekerasan rumah tangga antara ibu dan pasangannya, bullying yang terjadi secara rutin dan penganiayaan fisik oleh orang dewasa. Para ibu juga diwawancarai ketika anak-anaknya tersebut berusia 5, 7 dan 10 untuk mendapatkan rekaman kumulatif paparan kekerasan.

Anak-anak yang terpapar kekerasan kumulatif menunjukkan pemendekan telomere yang dipercepat dari usia 5 ke usia 10 tahun. Lebih jauh lagi, anak-anak yang terpapar berbagai bentuk kekerasan dalam satu waktu memiliki tingkat pemendekan telomere yang paling cepat, lapor studi yang dipublikasikan di Molecular Psychiatry.

"Anak-anak yang mengalami kekerasan tampaknya akan menua lebih cepat," ungkap Shalev seperti dilansir dari WebMD, Rabu (25/4/2012).

Bullying dan kekerasan lainnya yang dialami selama masa kanak-kanak bisa menyebabkan erosi fisik pada DNA, ungkap Paul Thompson, Ph.D., profesor neurologi di David Geffen School of Medicine, University of California, Los Angeles. Baginya ini merupakan "kejutan besar".

detikHealth