22 Jumadil-Akhir 1443  |  Selasa 25 Januari 2022

basmalah.png
ORANGTUA

Bagaimana Menghadapi Anak yang Terlalu Cepat Berpenghasilan?

Fiqhislam.com - Usia belasan hari ini bukan lagi sebuah hal yang mengagetkan bila sudah memiliki banyak uang. Berkendaraan pribadi bahkan jarang membuka tangan meminta uang jajan pada orang tua.

Bagaimana Menghadapi Anak yang Terlalu Cepat Berpenghasilan?Contohnya para selebriti, pemusik, SPG, blogger, MLM dan masih banyak lagi yang membuat anak bisa mengasilkan uang dengan sendirinya. Namun apa yang terjadi bila seorang anak ini malahan bukan menjadi kebanggaan orang tua yang melihat kesuksesan mereka di usia belia?

Yang akan kita bahas bersama-sama adalah sebuah titik dimana anak merasa telah sanggup berdiri sendiri, segala sesuatu tidak berasal dari orangtua lagi, jadi merasa memiliki tiket kebebasan untuk melakukan apapun yang dia suka tanpa permisi dan patuh lagi dengan orangtua.

Lebih dari sekedar membiayai dirinya sendiri, ada lagi anak yang bisa dikatakan sudah menggantikan posisi bapak di keluarga sebagai tulang punggung, tak jarang kata-kata kasar bakalan telontar dari mulut mereka. Ketika dilarang melakukan hal yang mereka inginkan, mereka akan mengungkit keterpaksaan kerja dan banting tulang yang mereka lakukan di usia muda, terlebih mereka akan mengungkit hal-hal yang mereka lakukan dengan bahasa ‘pengorbanan’ yang mereka maksudkan.

Setelah terlalu berlarut, pertengkaran antara orangtua dan anak sangat mudah terjadi. Di satu pihak orangtua merasa kasih sayang mereka tidak bisa dibayar dan dilunasi apapun yang anak lakukan, di sisi lain anak merasa perjuangan mereka akan banyak hal untuk membantu orangtuanya tidak pernah dihargai.

Bagaimana mengatasinya? Sebaiknya jangan terlalu cepat menyimpulkan siapa yang salah dan siapa yang durhaka, mari membahasnya bersama-sama. Karena sebagian anak-anak yang tergolong terlalu cepat berpenghasilan dan terlalu merasa sudah melakukan banyak hal ini sebenarnya belum siap menghadapi kenyataan hidup mereka sendiri.

Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja melalui penyelidikan yang diambil dari sifat-sifat remaja pada umumnya, yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri mereka seperti apa dan apa sebenarnya keinginan dan sebab dari perlakuan mereka yang sedikit menentang orangtuanya, agar menjadi bahan pertimbangan orangtua yang lebih memahami sosok anak tersebut.

Berikut masalah dan keinginan-keinginan anak remaja di usia peralihannya.
1. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
2. Ketidak stabilan emosi
3. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup
4. Adanya sikap menentang dan menantang orangtua
5. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentangan dengan orangtua.
6. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
7. Senang bereksperimentasi
8. Senang bereksplorasi
9. Mempunyai banyak fantasi, khayalan dan bualan
10. Kecenderungan membentuk kelompok dan kegiatan berkelompok.

Dengan penjelasan di atas sendiri sudah terbukti dengan jelas, dalam kehidupaan remaja yang terlalu cepat berpenghasilan dan dampak psikis yang terjadi sehingga adanya pertentangan dengan orangtua maka jika disimpulkan, ada dua faktor yang harus diperhatikan guna mencegah anak remaja Anda menjadi seperti pokok pembahasan kita.

Mental Yang Belum Kuat

Kelihatannya saja badannya besar, atau cerdas dalam bekerja, namun mental mereka sebelumnya masih terlalu muda dan gampang retak. Masa rawan untuk terlalu dipaksa serius itu sebaiknya tidak diperkenankan untuk anak berusia 12-22 tahun. Dimana masa itu masih disebut masa adolensence , atau masa ‘beranjak’. Memang, masa remaja itu identik dengan usia belasan antara 12-18, tapi masa transisi atau pembentukan karakter seorang anak itu terjadi saat usia 18 tahun beranjak ke 22.

Baik kematangan mental, fisik dan sosial, bila takaran suatu beban terlalu berat telah mereka hadapi maka itu sangat mempengaruhi psikis mereka. Biasanya tanda-tanda ini akan terlihat melalui kelakuan mereka setelah pulang dari bekerja, atau ketika Anda bertanya mereka akan kemana, kenapa belum istirahat, kenapa harus pakai baju begitu, dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang bisa memancing ketidakstabilan psikis mereka sebenarnya. Dibalik kerelaan mereka terlalu cepat bekerja, sebenarnya mereka masih sangat butuh kasih sayang dan diperhatikan seperti anak-anak muda pada umumnya.

Traumatik dan Pembuktian Diri

Ada beberapa anak yang berhasil berpenghasilan di usia muda merasa semuanya dapat diraihnya karena dukungan orang tua yang begitu membekas di hidup. Ada juga anak yang berhasil namun seperti membalas dan sebagai pembuktian pada orangtua mereka kalau mereka sanggup sendiri.

Coba selidiki lagi, bila ini terjadi pada anak Anda, mungkin saja ada faktor traumatik. Ada hal yang sangat mereka anggap harus mereka capai dan mereka sangat harapkan dukungan Anda, tapi figur orang tua sendiri tidak pernah ada. Mungkin saja Anda tidak pernah mendukung cita-cita mereka (contoh).

Untuk mengatasi ini, orangtua harus cepat mengambil peranan penting! Bila hal ini terus menerus terjadi anak-anak akan melakukan pelampiasan dalam pergaulan. Ambillah hati mereka dengan perhatian, berilah pengakuan pada anak-anak bahwa mereka memiliki semangat yang luar biasa, Anda menyayangi mereka, Anda sangat mendukung potensi mereka, dan UNGKAPKANLAH semuanya itu dengan perkataan.

Semoga dengan pembahasan ini memperkecil masalah dan yang terpenting dapat memperbaiki hubungan yang lebih dekat lagi antara orangtua dan anak. Agar anak kembali pada posisinya yang harus banyak mendengarkan dan orangtua kembali pada jati dirinya yaitu mengayomi, mendidik dan pengertian.

erwinmiradi.com