4 Rabiul-Awwal 1444  |  Jumat 30 September 2022

basmalah.png

OPINI: Terlalu Berat Beban Anak Kita

Fiqhislam.com - Jangan membayangkan hidup tanpa problem. Bahkan sejak keluarga Nabi Adam pun percekcokan dan tragedi berdarah antar-manusia  sudah dimulai.

OPINI: Terlalu Berat Beban Anak KitaKabil dan Habil bertikai memperebutkan pasangan hidupnya yang berakhir dengan pembunuhan. Kecemburuan dan kekerasan seakan melekat dalam diri manusia. Hanya mereka yang sadar lalu berhasil menahan dan mendidik dirinya akan mampu memperkecil tindakan destruktif bagi diri dan orang lain.

Di balik hingar-bingar panggung politik, ekonomi dan sosial yang disajikan media massa saat ini sesungguhnya menyimpan tekanan, penindasan dan teror bagi mental anak-anak kita. Belum lagi beban ujian nasional dan sekian macam ujian lainnya. Kalau saja anak-anak kita memperoleh pendampingan dan pendidikan yang bagus, maka mereka akan tumbuh jadi anak yang kuat, cerdas dan berwawasan luas ketimbang anak-anak jadul alias zaman dulu.

Perhatikan saja dunia anak-anak kita, terutama yang tinggal di kota besar. Mereka tidak memiliki fasilitas untuk tumbuh dan bergaul dalam suasana yang edukatif. Di rumah setiap hari disuguhi acara televisi yang tidak mendidik. Berbagai berita korupsi yang dilakukan para pejabat tinggi yang juga berpendidikan tinggi akan membuat mereka tidak percaya bahwa sekolah tinggi itu bisa membuat seseorang sebagai panutan hidup. Kehidupan artis yang serba glamour dan menjadi bahan gosip setiap hari juga memperlemah etos belajar dan kerja keras sebagai seorang ilmuwan bagi anak-anak kita.

Belum lagi suasana dan pengalaman perjalanan ke sekolah yang tidak aman dan tidak nyaman serta iklim belajar yang hanya semata mengejar nilai ujian nasional. Hidup anak-anak menjadi linier, miskin imajinasi dan kreasi budaya. Sekolah lalu menjadi sebuah perjalanan panjang dan melelahkan namun tidak memberi jaminan masa depannya. Uang menjadi daya tarik paling kuat, meski harus mengorbankan integritas. Ruang untuk pengembangan bakat anak-anak sangat sempit, sehingga hidup tidak warna-warni dan menyenangkan layaknya sebuah festival. Padahal ciri dan kekayaan bangsa ini adalah pluralitas budayanya. Tetapi pendidikan olah raga dan budaya terlantar di negeri ini.

Situasi sosial anak-anak kita di perkotaan tentu berbeda dari mereka yag lahir dan tumbuh di desa. Saya masih ingat, ketika di desa dulu, praktis yang mendidik itu adalah warga desa dengan pola hidup yang relatif terkontrol. Ada ritme kehidupan anak-anak yang menjadi kurikulum aktivitas sehari-hari. Saya masih ingat, kalau pagi jam sekolah tetapi tidak masuk karena membolos, ada rasa malu kalau keluyuran di jalan. Famili dan tetangga dekat akan menegur, mengapa tidak masuk sekolah.

Kemudian, kalau sore adalah jam bermain dengan permainan tradisional yang sekarang semakin langka dan bahkan hilang. Dalam istilah psikologi, permainan anak-anak zaman dahulu itu akan mendorong kecerdasan emosional karena selalu bersifat sosial, bukannya asyik di depan komputer sendirian. Juga menumbuhkan kreativitas dan imajinasi ketika mengerjakan tugas sekolah berupa kerajinan tangan, misal membuat mobil-mobilan atau rumah-rumahan dari kulit jeruk dan kardus. Tetapi lagi-lagi, sekarang anak-anak di kota tidak lagi mengalami pendidikan seperti itu. Berbagai macam permainan sudah tersedia di toko, sehingga menggeser wilayah imajinasi anak untuk mencipta.

Yang saya sangat berterimakasih pada lingkungan pendidikan di desa adalah menjadikan masjid sebagai pusat permainan anak-anak. Orangtua tidak perlu menyuruh belajar mengaji, anak-anak desa waktu itu pasti akan belajar ramai-ramai bersama temannya di masjid. Mereka berlomba membaca dengan benar dan berlomba menghafal surat-surat pendek A-Qur’an. Kenangan itu begitu indah dan mendalam sehingga masjid bagi kami adalah rumah kedua.

Rasa tenggangrasa dengan teman terpupuk dalam kehidupan di desa, sampai-sampai kalau ada teman memakai baju baru agak canggung karena akan disindir sebagai mendahului lebaran Idul Fitri. Kenangan dan tradisi indah yang hilang adalah ketika Pak Guru atau Bu Guru datang, kami sudah berbaris di depan pintu sekolah untuk hormat dan mengucapkan selamat pagi, lalu berebut menuntun sepedanya untuk disandarkan di tempatnya. Bahkan masing-masing murid juga mendapat tugas menyapu dan membersihkan kelas sebagai pendidikan tanggungjawab.

Demikianlah, masih banyak unsur pendidikan anak-anak di desa yang sangat positif dan sekarang semakin hilang. Tentu saja anak-anak sekarang memiliki kelebihan untuk mengakses berbagai informasi pengetahuan dengan tersedianya sarana televisi, komputer dan internet, suatu hal yang tidak dimiliki anak-anak di desa. Tetapi dalam hal pendidikan karakter dan pertumbuhan jiwa anak-anak yang tumbuh di desa lebih sehat, sementara yang tumbuh di kota terlalu berat menghadapi beban dan tantangan.

Kalau pemerintah, guru dan orangtua tidak bijak membuat kebijakan dan pendampingan, sungguh kasihan mereka itu. Mereka menjalani masa kanak-kanaknya tidak lagi ceria. Setiap mau ujian dibayangi stres. Mau berangkat sekolah selalu macet. Belum lagi kalau terjadi tawuran atau dipalak. Lebih stres lagi kalau orangtuanya tidak rukun. Padahal merekalah calon penerus bangsa ini. Jangan sampai nasib bangsa ini diurus oleh generasi yang tumbuh dengan salah asuh dan salah urus proses pendidikannya.


Komaruddin Hidayat
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.