pustaka.png
basmalah.png.orig


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Anak Kurang Gaul, Beginilah Solusinya

Fiqhislam.com - Anda merasa si anak susah bergaul dan membaur dengan teman-teman sebayanya? Jangan cemas, Anda tak sendiri.

Anak Kurang Gaul, Beginilah SolusinyaDra Mayke Sugianto Tedjasaputra Msi, seorang psikolog dan pakar terapi bermain menyatakan, cukup banyak orang tua yang datang ke kliniknya melontarkan keluhan bahwa putra-putri mereka mempunyai masalah di sekolah --baik dalam hal pelajaran, perilaku, maupun pergaulannya-- padahal mereka termasuk anak-anak dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata.

Mengapa anak kerap menjadi pemalu dan sulit beradaptasi dengan orang yang baru dikenalnya? Orang tua perlu memahami pentingnya mengembangkan kecerdasan interpersonal dan intrapersonal sebagai modal untuk kemampuan sosial anak. Kecerdasan interpersonal, kata Mayke, merupakan salah satu aspek kecerdasan yang dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan berkomunikasi dengan orang lain. Ciri-cirinya, biasanya mampu berempati, mudah memahami perasaan, suasana hati, perilaku orang lain, dan mampu memberikan reaksi yang sesuai serta asertif, '' kata staf pengajar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Misalnya, saat menghadapi teman yang marah-marah, ia tidak segera membalas dengan marah-marah atau menangis dan merajuk, tapi mencoba menetralisasi keadaan. Bisa saja ia berkata, ''Kenapa kamu marah? Saya hanya pinjam mainan kamu, nanti gantian, ya?'' Atau, ketika ia tidak setuju dengan perbuatan atau pernyataan orang lain, ia mampu menyatakan pendapat pribadinya tanpa disertai emosi, marah, atau sikap kasar.

Dalam pergaulan pun, penyesuaian dirinya tidak mengalami kesulitan dan mampu membina hubungan dengan orang lain, baik dengan orang yang baru dikenal maupun yang sudah lama menjadi temannya. Sering kali anak ini menjadi pemimpin bagi teman-temannya dan dapat mempengaruhi orang lain tanpa memaksakan kehendaknya. Perhatian yang ditunjukkan kepada orang lain tampak tidak dibuat-buat, secara spontan ia akan menyapa dan menanyakan keadaan orang tersebut sehingga orang lain merasa senang.

Sebaliknya, kata dia, ada anak yang sulit menyesuaikan diri, sering kali marah, mengamuk atau merajuk. Bila bertemu dengan orang yang baru dikenalnya, anak itu sulit menyesuaikan diri, cenderung memaksakan kehendak, egois, mau menang sendiri sehingga mudah terlibat dalam perselisihan.

Dra Mayke Sugianto Tedjasaputra Msi, seorang psikolog dan pakar terapi bermain, mengungkapkan kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan seseorang untuk memahami dirinya sendiri. Karakteristik orang yang cerdas dalam aspek intrapersonal mencakup tanggung jawab atas diri sendiri, mampu mengenali perasaannya, dan mengarahkan emosi pribadi. Manusia yang cerdas dalam aspek intrapersonal mempunyai percaya diri, tidak tergantung pada orang lain, berani mengambil keputusan. Karena itu, mereka biasanya dikenal sebagai orang yang bisa memotivasi diri sendiri, senantiasa menjalankan apa yang sudah menjadi keputusannya.

 

Menurut Mayke, kecerdasan interpersonal mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan seseorang. Pertemanan dan jaringan kerja akan mudah dibentuk bila seseorang memiliki kecerdasan interpersonal. Hubungan yang terbina lebih alamiah, bukan dilandasi oleh kekuasaan atau kekuatan seseorang sehingga menjadi sumber ketenangan serta kebahagiaan manusia yang hakiki. Kerja sama akan terbina, masalah bisa diselesaikan, stres lebih mudah diatasi karena hubungan pertemanan yang akrab dan hangat.

Demikian pula dengan kecerdasan intrapersonal. Kecerdasan intrapersonal menjadi penting, kata Mayke, karena manusia perlu membekali diri dengan kemampuan untuk mengontrol hidupnya supaya dapat meraih keberhasilan dan rasa aman. Dengan begitu akan terbentuk stabilitas emosi yang dibutuhkan untuk mengatasi tekanan hidup serta kejadian-kejadian yang tidak menguntungkan.

Pada dasarnya, jelas psikolog senior di Lembaga Psikologi Terapan UI ini, semua anak memiliki kecerdasan intrapersonal dan interpersonal. Keduanya mempunyai kaitan yang erat satu sama lain karena pengetahuan mengenai diri pribadi membutuhkan kepekaan terhadap orang lain dan sebaliknya. Kemampuan ini perlu dilatih. Jika tidak, anak sulit menyesuaikan diri dan akan mengalami masalah dalam pergaulan, baik di sekolah maupun setelah dewasa. Ini akan menyulitkan saat dia bekerja karena dunia kerja akan selalu berhubungan dengan orang lain.

Untuk mengatasinya, Mayke menyatakan perlu dimulai dari komunikasi di rumah dan melakukan kegiatan bersama orang tua. Komunikasi harus membuat anak mandiri dan percaya diri supaya nanti di lingkungan akan lebih berani. ''Kalau dia merasa dirinya tidak bisa apa-apa, nanti menghadapi orang luar dia selalu ragu,'' ujarnya.

Anak yang terlalu dilindungi di rumah dan dimanjakan, apa pun yang diminta diberikan, menurut Mayke, juga bisa menjadikan anak kurang tangguh, kurang tegar. Sebab, saat dia berhubungan dengan orang lain, keinginannya tak selalu akan dipenuhi. Si anak pun akan selalu diliputi perasaan cemas tentang kemampuannya.

republika.co.id