15 Muharram 1444  |  Sabtu 13 Agustus 2022

basmalah.png

Cara Mengatasi Bila Anak Terpapar Video Porno

Cara Mengatasi Bila Anak Terpapar Video Porno


Fiqhislam.com - Mudahnya mengakses internet membuat siapa saja semakin mudah membuka video porno. Tak terkecuali anak-anak.

Seperti kasus yang terjadi pada salah satu sekolah dasar. Ada anak laki-laki yang membuka situs porno di warnet. Berita ini diketahui oleh temannya yang lain. Bahkan sampai terdengar oleh guru. Kedua orang tua anak tesebut kemudian dipanggil oleh guru. Kemudian kehebohan pun terjadi. Nah, jika sudah terjadi demikian, apa sebaiknya yang dilakukan orang tua?

Menurut Parental Communication Spesialist, Hana Yasmira mengatakan mensterilkan anak dari paparan pornografi nyaris tidak mungkin dilakukan saat ini. Bahkan jikapun kita sudah memasang perangkat pengaman (software parenting) di semua gadget yang ada, masih saja ada celah yang memungkinkan anak terpapar pornografi.

Contohnya, masih ingat kasus di videotron Jaksel baru-baru ini? Karena itu, pencegahan perlu dilakukan agar kalaupun anak-anak kita tanpa sengaja terpapar, dampaknya tidak sampai merusak.

"Secara teori, anak di bawah umur 8 tahun yang mendapat pengasuhan baik dan sehat, kecil sekali kemungkinan terpapar porngorafi. Itu artinya, antisipasi disarankan untuk dilakukan pada anak yang berumur di atas 8 tahun," ujarnya.

Caranya bagaimana? Ajaklah anak bicara. Pilih waktu yang tepat, dan lakukanlah secara santai, informatif dalam bentuk diskusi dua arah yang sehat, jujur dan terbuka. Hindari sikap introgatif apalagi emosional.

Misalnya, kalau anak dengan jujur bilang, "Iya yah, aku emang pernah lihat film porno. Yang ajakin temanku."  Maka responslah dengan konstruktif. Dorong anak untuk bercerita lebih banyak. Tanya dia apa pendapatnya. Lalu diskusikan cara-cara apa yang harus dia lakukan kalau menghadapi kejadian serupa.

Jangan meresponsnya dengan emosional dengan langsung mengatakan, "Siapa teman kamu itu? Bilang, biar ayah lapor ke sekolah! Kurang ajar dia!"

Dia mengatakan, hal seperti itu hanya akan membuat nyali anak untuk bersikap jujur jadi surut. Sebaliknya, responslah dengan baik dan suportif, agar terbangun dialog dua arah yang sehat, terbuka dan informatif sehingga nantinya pemahaman anak pun akan tumbuh.

Kalau pemahaman anak sudah tumbuh, Hana mengatakan akan mudah baginya untuk membangun kesadaran diri menghindari jerat pornografi.  Karena itu, pastikan pembicaraan bisa mencapai dua tujuan.

Pertama, anak bisa paham, apa itu pornografi (baik bentuknya ataupun cara penyebarannya). Kedua, anak tahu apa yang harus dia lakukan untuk mengindari dirinya dari jerat pornografi. [yy/republika]