12 Muharram 1444  |  Rabu 10 Agustus 2022

basmalah.png

Siapkah si Kecil Masuk Sekolah?

Siapkah si Kecil Masuk Sekolah?Fiqhislam.com - Jauh sebelum kelas baru dimulai, Noor sudah disibukkan dengan literatur sekolah. Sederet daftar sekolah ia telusuri sebelum akhirnya memilih sebuah sekolah di bilangan Jakarta Selatan.

Ibu rumah tangga 33 tahun yang sehari-hari juga disibukkan dengan urusan bisnisnya ini tidak mau main-main memilih sekolah yang bakal bertahun-tahun menjadi tempat sang buah hati menuntut ilmu.

"Sekolah ini sesuai dengan apa yang kami harapkan untuk anak kami, anak bisa belajar sambil bermain," kata Noor yang memiliki anak berusia tiga tahun.

Tak hanya memilih sekolah, Noor pun menyiapkan mental gadis ciliknya agar siap memasuki bangku sekolah. Sejak awal ia telah mengenalkan sang buah hati dengan berbagai permainan dan aktivitas out door, sehingga meski tidak duduk di kelas play group secara formal, ia yakin mental sang buah hati cukup mumpuni ketika masuk dunia sekolah nanti.

Namun tidak sedikit anak yang takut melaju dari lingkungan keluarga menuju lingkungan baru, tempat anak-anak belajar banyak hal baru dan bertemu dengan beragam karakter tanpa ditemani orangtua yang selama ini dianggap sebagai 'pahlawan'.

Karena itu, peran orangtua dibutuhkan untuk menyiapkan mental anak memasuki sekolah usia dini. Seorang anak yang dilatih siap menghadapi dunia pendidikan akan mampu beradaptasi dan menjadi diri sendiri di lingkungan baru. Sebaliknya, anak yang tidak disiapkan mentalnya akan rendah diri dan malas untuk ke sekolah, karena takut dengan 'dunia' barunya.

Psikolog Rose Mini menuturkan sebenarnya orangtua tak perlu memaksakan diri memasukkan anak-anak mereka yang masih berusia balita (bayi di bawah lima tahun) untuk segera mengenyam pendidikan di sekolah. Rose juga mengatakan, orangtua bisa memberikan stimulasi awal sebelum anaknya masuk sekolah di rumah.

"Memasukkan anak sekolah secara teoritis usia balita juga tidak sekolah tidak apa-apa. Asal ibu atau orangtuanya bisa ngasih stimulasi yang ada di sekolah di dalam rumah," ucap Rose.

Rose pun menyarankan orangtua tak terburu-buru memasukkan anaknya ke preschool atau sekolah pada tahun ajaran baru yang akan dimulai 18 Juli 2016. Orangtua harus menyiapkan segala keperluan sang anak, baik kesiapan mental dan kemampuan sang anak.

"Yang pertama, orangtuanya yang harus dipersiapkan bahwa sekolah itu bukan seperti oven ajaib, yang memasukkan anak ke sana keluarnya semuanya sudah naik, sudah beres, enggak bisa begitu. Karena anak umur segitu jumlah waktu ada di rumah jauh lebih banyak daripada di sekolah," ucap Rose.

Baiknya, tambah Rose, orangtua bisa memilih dahulu sekolah yang tepat bagi sang anak.
"Baiknya yang sesuai dengan visi dan misi keluarga," ujar Rose.

Rose juga menyarankan orangtua harus memikirkan kemampuan sang anak bisa dimasukkan ke sekolah khusus misal ke sekolah yang bernuansa agama.

"Ada orangtua yang bilang saya enggak kuat agamanya, jadi lebih baik saya sekolahkan di sekolah yang bernuansa agama, supaya agama anak saya bagus, itu salah. Harusnya kalau kita memasukkan anak ke sekolah bernuansa agama, orangtuanya juga agamanya harus bagus. Jadi, bukan di balik," ucap Rose.

Orangtua juga harus mempertimbangkan serta memikirkan perkembangan mental sang anak jika telah siap memasukkan ke sebuah sekolah pilihannya."Setelah itu kalau mau anaknya disekolahkan, orangtua juga harus siap apa yang dilakukan di sekolah juga harus dilakukan di rumah. Supaya pertumbuhan dan perkembangan anaknya seperti yang kita harapkan," tegas Rose.

Rose Mini juga meminta orangtua jangan memberikan beban kepada anak tentang apa-apa yang diberikan oleh sekolah. Orangtua justru harus terus membimbingnya sampai sang anak tahu apa yang harus dilakukannya.

"Jangan terlalu mengatakan ini tugas sekolah, terserah sekolah kan saya sudah bayar, enggak bisa begitu. Karena sekolah itu kan untuk membantu anak membangun kemampuannya tapi di rumah tanggung jawab ada di orangtua juga," ucap Rose.

Rose pun meminta orangtua jangan menuntut banyak dari anak yang baru menikmati dunia pendidikannya di sekolah. Karena dunia anak sebelum masuk masa sekolah adalah bermain.

"Jangan mempunyai standar terlalu tinggi karena anak umur segitu memang sekolahnya bukan baca tulis, tapi mengembangkan kemampuan-kemampuannya yang ada pada dia. Misalnya kemampuan sosialisasi di rumah enggak ada teman. Kemampuan motorik kasar anak umur 3-4 tahun," ujar Rose.

"Jadi bukan dijejal dengan hal-hal yang sifatnya skolastik misalnya membaca, menulis, berhitung. itu tujuannya sebetulnya," tambah Rose.

Rose Mini mengatakan pendidikan sekolah untuk anak sejak usia dini sebenarnya ada manfaatnya. Meski demikian, Rose menginginkan orangtua tetap memberi bimbingan penuh meski anaknya sudah menghabiskan waktu di sekolahnya.

"Karena stimulasi anak seharusnya sejak dini, tapi harus juga diimbangi di rumah, karena waktunya tidak banyak di sekolah. anak playgrup itu paling hanya sejam, kalau di rumah lebih banyak. Yang harus dilakukan orangtua menstimulasi apa yang dilakukan di sekolah dilakukan di rumah," ujar Rose.

Rose pun membagikan tips memilih sekolah atau pendidikan sekolah usia dini kepada anak. Menurutnya jangan membuat sang anak kelelahan saat mendatangi sekolah tersebut.

"Sekolah anak jangan terlalu jauh dari rumah karena anak konsentrasi dan energinya tidak seperti kita yang tua kalau harus menempuh jarak sekian, macet dan sebagainya. Jadi cari yang dekat rumah," ucap Rose.

Rose pun menginginkan orangtua sebaiknya melakukan school shopping dahulu atau survei sekolah sebelum benar-benar memasukkan anaknya ke sekolah yang dipilihnya.

"Masuk ke sekolahnya lihat apa programnya, kira-kira sesuai dan cocok enggak sama kita, jadi jangan karena sekolah ini favorit sekolah itu bayarnya tinggi kita anggap sekolah itu yang terbagus, tidak. sekolah yang bagus adalah sekolah yang cocok untuk anak kita," jelas Rose.

Pengamat Pendidikan, Indra Charismiadji mengatakan bahwa pendidikan anak usia dini (paud) atau preschool yang diinginkan orangtua jangan sampai membuat anak sengsara. Indra menginginkan paud atau preschool tersebut membuat sang anak menyenangkan.

"Yang parah kan kalau paud itu mengajarkan anak-anak nulis, berhitung, baca apalagi menghafal. Karena anak punya kemampuan kognisi, kasihan anaknya kalau dipaksa begitu," ucap Indra kepada VIVA.co.id.

Direktur Utama PT Eduspec Indonesia itu pun tak menapik masih banyak orangtua yang menuntut anaknya untuk bisa menguasai membaca dan menghitung sebelum waktunya. pdahal level menghafal sendiri bagi anak merupakan sebuah tingkatan kecerdasan yang rendah.

"Tidak sedikit orangtua yang bangga dengan anaknya yang semakin bisa baca dan hitung," ucap Indra.

Indra pun menegaskan bahwa paud yang baik adalah yang memiliki kurikulum yang kurikulum bermain. Paud juga harus mempunyai suasana yang menyenangkan bagi anak.

"Yang bagus itu membangun karakter. Anak-anak usia 3-4 tahun adalah dunia bermain, belajar sambil bermain," ucap Indra.

Bukan Penitipan Anak

Artis Donna Agnesia punya cara sendiri dalam menyiapkan mental sang anak sebelum masuk ke sekolah formal. Ibu tiga anak, Diego Andres Sinathrya, Sabrina Quinesha Sinatriya, Lionel Nathan Sinathrya Kartoprawiro ini mengaku mencari preschool dan playgroup yang mumpuni guna membangun mental sang anak.

Donna mengaku tak punya banyak waktu di rumah untuk memberi pendidikan awal sebelum memasukkan anak-anaknya ke sekolah.

"Betul. Karena kalau di rumah kan beda ya, apalagi mereka ketemu orang baru, jadi permulaan lah untuk trial supaya untuk tiap hari sekolah," ujar Donna kepada VIVA.co.id.

Ketiga anaknya, Diego, Lionel dan Sabrina, sudah mengenal dunia sekolah saat masih berusia dua tahun. Mereka menjalani preschool selama satu tahun.

"Cuma memang kalau pas preschool enggak dipaksain, lebih untuk sosialisasi, sekolahnya seminggu tiga kali," ujar Donna.

Setelah masa preschool selesai, Donna pun berkeliling Jakarta mencari Taman Kanak-Kanak yang menurutnya bagus dan mumpuni, dan dipilihlah TK Santa Ursula. Pada tahapan ini Donna melihat perbedaan potensi dan perkembangan ketiga anaknya.

"Tiap anak beda karakter. Kalau Lionel cepat beradaptasi dan bergaul, kalau Diego dan Sabrina adaptasinya agak lama, jadi awal-awal nangis, enggak mau sekolah kalau kita pergi. Tapi musti pelan-pelan, kan sekolahnya tiga kali seminggu," ucap Donna.

Bagi Donna, pendidikan agama dan moral sangat penting bagi ketiga anaknya. Dua syarat it baginya syarat mutlak.

"Yang pasti mereka masih kecil jadi mementingkan pendidikan agama dan moral. Jadi cari sekolah yang sama dengan apa yang kita ajarkan di rumah. Karena kita Katolik, jadi kita cari sekolah Katolik di Ursula," ucap Donna.

Di TK tersebut, ketiga anaknya kata Donna tak merasakan paksaan untuk cepat membaca. Mereka justru melihat perkembangan anaknya terlebih dahulu.

"Anak-anak enggak dipaksakan untuk bisa membaca saat TK, yang aku rasakan di sekolah mengikuti perkembangan anak. Kalau belum waktunya ya enggak apa-apa, ada jangka waktu tertentu kalau anaknya enggak bisa baru ada tambahan," ucap Donna.

Donna pun mengaku puas dengan pengajaran dan metode pendidikan yang diterapkan di sekolah. "Guru-gurunya selalu disekolahin sama yayasan, dari S1 sampai S2, kesejahteraan guru juga dijaga. Komunikasi guru dengan orangtua berjalan baik, melalui buku tugas anak," ujar Donna.

Meski kesibukan Donna di dunia hiburan cukup menyita waktu, wanita berambut pirang ini masih bisa memantau perkembangan ketiga anaknya.

"Setahun dua kali ada pertemuan orangtua, diberikan informasi dan didatangi dokter dan psikolog. Jadi orangtuanya juga belajar, kita  diajarkan untuk disiplin dan on time. Orangtua tidak hanya menitipkan anak-anak saja, jadi ikut dilibatkan," ucap Donna. [yy/viva]